Perang Terancam Pecah di Suriah, Rusia Minta AS Cs Menahan Diri
Jum'at, 13 April 2018 - 05:24 WIB
Perang Terancam Pecah di Suriah, Rusia Minta AS Cs Menahan Diri
A
A
A
NEW YORK - Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, mendesak Amerika Serikat (AS) dan sekutunya untuk menahan diri dari tindakan militer terhadap Suriah. AS dan sekutunya mengancam akan mengambil aksi militer sebagai tanggapa atas dugaan serangan kimia di Douma.
Menurut Nebenzia, saat ini yang menjadi prioritas adalah menghindari bahaya perang. Ditanya apakah dia mengacu pada perang antara Amerika Serikat dan Rusia, Nebezia menjawab: “Kami tidak dapat mengesampingkan kemungkinan apa pun sayangnya karena kami melihat pesan yang datang dari Washington. Mereka sangat suka berperang.”
"Mereka tahu kami ada di sana, saya berharap ada dialog meskipun saluran yang tepat untuk mencegah perkembangan berbahaya," imbuhnya.
"Bahaya eskalasi lebih tinggi dari sekadar Suriah karena militer kita ada di sana. Jadi situasinya sangat berbahaya," tukasnya seperti dikutip dari Reuters, Jumat (13/4/2018).
Presiden AS Donald Trump menyatakan akan melakukan aksi militer di Suriah sebagai respon atas serangan kimia di Douma yang menewaskan puluhan warga sipil. Langkah AS ini pun diikuti oleh Inggris dan Prancis. Sementara Italia dan Jerman memilih untuk tidak ikut serta.
Rusia telah memperingatkan Barat untuk tidak menyerang sekutu Suriahnya, Presiden Bashar al-Assad, yang juga didukung oleh Iran. Rusia juga mengatakan tidak ada bukti adanya serangan kimia di kota Suriah Douma dekat Damaskus.
Menurut Nebenzia, saat ini yang menjadi prioritas adalah menghindari bahaya perang. Ditanya apakah dia mengacu pada perang antara Amerika Serikat dan Rusia, Nebezia menjawab: “Kami tidak dapat mengesampingkan kemungkinan apa pun sayangnya karena kami melihat pesan yang datang dari Washington. Mereka sangat suka berperang.”
"Mereka tahu kami ada di sana, saya berharap ada dialog meskipun saluran yang tepat untuk mencegah perkembangan berbahaya," imbuhnya.
"Bahaya eskalasi lebih tinggi dari sekadar Suriah karena militer kita ada di sana. Jadi situasinya sangat berbahaya," tukasnya seperti dikutip dari Reuters, Jumat (13/4/2018).
Presiden AS Donald Trump menyatakan akan melakukan aksi militer di Suriah sebagai respon atas serangan kimia di Douma yang menewaskan puluhan warga sipil. Langkah AS ini pun diikuti oleh Inggris dan Prancis. Sementara Italia dan Jerman memilih untuk tidak ikut serta.
Rusia telah memperingatkan Barat untuk tidak menyerang sekutu Suriahnya, Presiden Bashar al-Assad, yang juga didukung oleh Iran. Rusia juga mengatakan tidak ada bukti adanya serangan kimia di kota Suriah Douma dekat Damaskus.
(ian)