Cerita Serangan Kimia Suriah: Paru-paru Serasa Mati, Mulut Berbusa

Senin, 09 April 2018 - 14:28 WIB
Cerita Serangan Kimia...
Cerita Serangan Kimia Suriah: Paru-paru Serasa Mati, Mulut Berbusa
A A A
DOUMA - Dengan berlari panik, Khaled Abu Jaafar, menuruni tangga rumahnya di Douma, Ghouta Timur Suriah. Dia membawa gadis cilik di lengannya. Sesaat kemudian, semua terlihat bagi Abu Jafaar.

"Saya kehilangan kesadaran. Saya tidak bisa bernafas lagi; rasanya paru-paru saya mati," kenang Jafaar, salah seorang korban serangan kimia pada hari Sabtu pekan lalu.

"Saya terbangun sekitar 30 menit kemudian dan mereka telah menanggalkan pakaian saya, mencuci tubuh saya dengan air," ujar Jaafar kepada Al Jazeera pada hari Minggu. "Mereka mencoba membuat saya muntah ketika mulut saya memancarkan zat kuning."

Jaafar adalah salah satu yang selamat berjuang untuk mengatasi efek serangan kimia di Douma, kota markas pemberontak Suriah, yang sudah dikepung pasukan pemerintah Presiden Bashar al-Assad. Kota itu berada di Ghouta Timur, dekat Ibu Kota Suriah, Damaskus.

Petugas penyelamat dan staf medis mengatakan sedikitnya 85 orang tewas dalam serangan senjata kimia jenis gas klorin. Namun, pemerintah Suriah membantahnya dan menganggapnya sebagai laporan "lucu".

Di antara mereka yang tewas, kata saksi mata, banyak wanita dan anak-anak yang mencari perlindungan di ruang bawah tanah di sebuah bangunan untuk menghindari pemboman berat oleh pasukan pro-pemerintah.

Abu Jaafar merupakan seorang pekerja di sebuah stasiun radio. Dia mengatakan, saat penduduk yang panik mulai berlarian setelah serangan itu, dia bergegas ke salah satu tempat persembunyian untuk memeriksa teman-temannya dan membantu orang-orang keluar.

"Ketika orang-orang berada di tempat penampungan, beberapa orang di atap berhasil melihat bom-bom gas yang berjatuhan dari pesawat," kata Jaafar, menggambarkan apa yang dia katakan sebagai "gas hijau" yang berasal dari tabung yang jatuh dari langit.

"Mereka yang melihatnya bergegas untuk memberitahu semua orang di ruang bawah tanah agar mengungsi," imbuh Jaafar. "Saya naik-turun tangga sekitar tiga kali untuk membantu mengevakuasi anak-anak dari gedung."

Serangan itu terjadi pada hari kedua dari operasi darat dan udara yang sengit oleh pasukan pro-pemerintah Suriah setelah kota itu relatif tenang selama beberapa hari.

Tentara Suriah mengatakan serangan operasi itu sebagai tanggapan terhadap penembakan mematikan oleh Jaish al-Islam, kelompok pemberontak yang tersisa di Ghouta Timur. Kelompok Jaish al-Islam membantah tuduhan itu.

Kelompok Jaish al-Islam saat ini sedang bernegosiasi dengan tentara Rusia, sekutu terkuat Presiden Suriah Bashar al-Assad. Negosiasi itu untuk memungkinkan evakuasi warga sipil.

Para aktivis di Douma mengatakan bahwa beberapa klinik dan tim ambulans telah diserang selama kampanye pengeboman. Rentetan serangan itu sebagian besar mengganggu bantuan medis.

Salah satu aktivis lokal bernama Alaa Abu Yasser mengaku mencoba membantu mengevakuasi orang-orang saat serangan kimia terjadi.

"Saya pergi ke sebuah gedung di mana sekitar 35 orang tewas akibat serangan ini; adegan yang saya lihat tidak tertahankan, tidak seperti yang pernah saya lihat di film-film," katanya kepada Al Jazeera, yang dilansir Senin (9/4/2018).

"Ketika saya mendekati gedung itu, seorang ayah menangis histeris ketika dia menyeret kakinya ke arah kami membawa kedua anaknya. Dia memeluk mereka dan mencium mereka setelah mereka mati lemas," ujar Abu Yasser.

Dalam setiap kasus serangan kimia, para korban selamat lebih memilih naik ke lantai atas, bahkan ke atap bangunan. Tujuannya, agar tidak menghirup gas yang cenderung menempel ke tanah.

"Ketika kami tiba di atap gedung tempat saya menolong, saya melihat tubuh seorang ibu yang tidak bernyawa berusia 50-an tahun, dengan dua anak perempuannya yang dewasa dan seorang anak dengan tangan saling berpelukan, semua berbusa di mulut," kata Abu Yasser.

"Saya kebanyakan melihat tubuh wanita dan anak-anak di tiga kamar terpisah; mereka ditempatkan di sana untuk mengisolasi bau gas dari mereka yang selamat," imbuh dua.
(mas)
Berita Terkait
Apakah Rusia Dukung...
Apakah Rusia Dukung Bashar al-Assad?
Kecam Invasi Israel...
Kecam Invasi Israel ke Suriah, Rusia Tarik Aset Militernya
Diburu Pasukan Pemerintah,...
Diburu Pasukan Pemerintah, Loyalis Bashar Al Assad Bersembunyi di Pangkalan Udara Rusia
Rusia Akui Uji Coba...
Rusia Akui 'Uji Coba' Tank T-14 Armata di Suriah
Operasi Khusus Rusia-Suriah...
Operasi Khusus Rusia-Suriah Bebaskan Pasukan yang Ditawan Pemberontak
Rusia Tegaskan Barat...
Rusia Tegaskan Barat Dukung Para Teroris di Suriah
Berita Terkini
Gubernur Bushehr Ungkap...
Gubernur Bushehr Ungkap Target Serangan AS, Pemakaman Khamenei Tak Terdampak
38 menit yang lalu
Ledakan Terdengar di...
Ledakan Terdengar di Wilayah PLTN Bushehr, Iran Serang Fasilitas AS di Negara-negara Teluk
1 jam yang lalu
Peti Jenazah Khamenei...
Peti Jenazah Khamenei Mendarat di Kota Mashhad Menjelang Pemakamannya
2 jam yang lalu
Nasib Apes Pesawat Boeing...
Nasib Apes Pesawat Boeing 737 Hilang Kontak, Ditemukan Jadi Puing-puing di Laut Arab
3 jam yang lalu
Akademisi Beijing: Negara...
Akademisi Beijing: Negara Mana Pun yang Berani Perang Nuklir Melawan China Akan Musnah
4 jam yang lalu
Trump Tolak Seruan Netanyahu...
Trump Tolak Seruan Netanyahu agar AS Tak Jual Jet Tempur Siluman F-35 ke Turki
5 jam yang lalu
Infografis
4 Negara Arab yang Siap...
4 Negara Arab yang Siap Bantu Qatar Balas Serangan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved