Suriah dan Rusia Kompak Bantah Dugaan Serangan Senjata Kimia
Minggu, 08 April 2018 - 16:56 WIB
Suriah dan Rusia Kompak Bantah Dugaan Serangan Senjata Kimia
A
A
A
DAMASKUS - Pemerintah Suriah membantah tuduhan telah menggunakan senjata kimia di kota Douma, Ghouta timur. Damaskus mengatakan hal semacam itu tidak perlu dilakukan untuk menghentikan para pejuang.
Bantahan juga dikeluarkan Kementerian Pertahanan Rusia tentang dugaan bom kimia yang dijatuhkan di Douma. Sebaliknya, Rusia menyebut sejumlah negara Barat serta LSM seperti White Helmets sengaja mengalihkan perhatian untuk melemahkan evakuasi kelompok pejuang Jaish al-Islam dari daerah itu.
"Kami membantah keras klaim ini dan mengumumkan kesiapan kami untuk mengirim ahli Rusia dalam radiasi, pertahanan kimia dan biologi ke Douma setelah pembebasannya dari teroris untuk mengumpulkan bukti, yang akan membuktikan bahwa dugaan penggunaan senjata kimia," kata Yuri Yevtushenko, komandan Pusat Rusia untuk rekonsiliasi Suriah, menggunakan katan teroris untuk merujuk kepada kelompok pejuang Jaish al-Islam, seperti disitat dari Sputnik, Minggu (8/4/2018).
Menurut pernyataan itu, yang dikeluarkan oleh pihak berwenang Suriah kepada kantor berita SANA yang dikelola negara, klaim tersebut sengaja dibuat oleh kelompok pejuang. Hal itu ditujukan untuk menghalangi pasukan Suriah, yang telah membuat kemajuan yang cepat dan menentukan serta tidak perlu langkah-langkah seperti itu untuk menghalangi pejuang Suriah.
"Berita bohong soal serangan kimia, yang tidak terjadi terhadap teroris dan pendukung mereka di Aleppo dan Ghouta timur, tidak akan dipakai untuk mereka karena pemerintah Suriah bertekad untuk mengakhiri terorisme di setiap inci persegi wilayahnya," bunyi pernyataan itu.
SANA, mengutip sumber resmi, melaporkan bahwa beberapa media, yang berafiliasi dengan kelompok Jaish al-Islam yang ditempatkan di kubu terakhirnya di Douma, telah menegaskan kembali tuduhan serangan kimia untuk menyalahkan militer Suriah dan menghalangi kemajuan tentara Suriah.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) telah menyuarakan keprihatinannya tentang laporan senjata kimia yang digunakan di Douma. AS menunjuk Rusia bertanggung jawab atas penargetan brutal dari Suriah yang tak terhitung jumlahnya.
"Kami telah melihat beberapa laporan yang sangat mengganggu pada sore ini mengenai kemungkinan serangan senjata kimia lain di dekat sebuah rumah sakit di Douma, Suriah. Laporan dari sejumlah kelompok dan personil medis di lapangan menunjukkan setidaknya 40 orang tewas dan ratusan terluka, dengan lebih banyak keluarga, termasuk anak-anak, bersembunyi di tempat penampungan tetapi diyakini sudah mati," kata perwakilan Departemen Luar Negeri AS.
Washington juga menuduh Damaskus menggunakan senjata kimia, menuduh bahwa "sejarah" penggunaan senjata semacam itu digunakan oleh pemerintah "tidak dalam perselisihan."
Sebelumnya, beberapa media telah mengutip militan di Suriah yang menuduh pihak berwenang di Damaskus menggunakan senjata kimia di Douma, dengan Jaish al-Islam mengklaim bahwa pasukan pemerintah telah menjatuhkan bom kimia di Ghouta Timur.
Bulan lalu, Damaskus melaporkan bahwa beberapa ahli asing sedang mengerjakan "drama" serangan kimia, yang akan dilakukan dengan bantuan White Helmets yang terkenal dan akan diliput oleh media arus utama. Peringatan yang sama dikeluarkan oleh Pusat Rekonsiliasi Rusia untuk Suriah pada bulan Januari lalu.
Baca juga:
Militan Rencanakan Serangan Kimia untuk Dituduhkan ke Rezim Suriah
Pemerintah Suriah secara konsisten membantah semua klaim penggunaan senjata kimia, dengan alasan bahwa cadangan senjata kimia negara telah dihancurkan, yang telah dikonfirmasi oleh Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (OPCW).
Bantahan juga dikeluarkan Kementerian Pertahanan Rusia tentang dugaan bom kimia yang dijatuhkan di Douma. Sebaliknya, Rusia menyebut sejumlah negara Barat serta LSM seperti White Helmets sengaja mengalihkan perhatian untuk melemahkan evakuasi kelompok pejuang Jaish al-Islam dari daerah itu.
"Kami membantah keras klaim ini dan mengumumkan kesiapan kami untuk mengirim ahli Rusia dalam radiasi, pertahanan kimia dan biologi ke Douma setelah pembebasannya dari teroris untuk mengumpulkan bukti, yang akan membuktikan bahwa dugaan penggunaan senjata kimia," kata Yuri Yevtushenko, komandan Pusat Rusia untuk rekonsiliasi Suriah, menggunakan katan teroris untuk merujuk kepada kelompok pejuang Jaish al-Islam, seperti disitat dari Sputnik, Minggu (8/4/2018).
Menurut pernyataan itu, yang dikeluarkan oleh pihak berwenang Suriah kepada kantor berita SANA yang dikelola negara, klaim tersebut sengaja dibuat oleh kelompok pejuang. Hal itu ditujukan untuk menghalangi pasukan Suriah, yang telah membuat kemajuan yang cepat dan menentukan serta tidak perlu langkah-langkah seperti itu untuk menghalangi pejuang Suriah.
"Berita bohong soal serangan kimia, yang tidak terjadi terhadap teroris dan pendukung mereka di Aleppo dan Ghouta timur, tidak akan dipakai untuk mereka karena pemerintah Suriah bertekad untuk mengakhiri terorisme di setiap inci persegi wilayahnya," bunyi pernyataan itu.
SANA, mengutip sumber resmi, melaporkan bahwa beberapa media, yang berafiliasi dengan kelompok Jaish al-Islam yang ditempatkan di kubu terakhirnya di Douma, telah menegaskan kembali tuduhan serangan kimia untuk menyalahkan militer Suriah dan menghalangi kemajuan tentara Suriah.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) telah menyuarakan keprihatinannya tentang laporan senjata kimia yang digunakan di Douma. AS menunjuk Rusia bertanggung jawab atas penargetan brutal dari Suriah yang tak terhitung jumlahnya.
"Kami telah melihat beberapa laporan yang sangat mengganggu pada sore ini mengenai kemungkinan serangan senjata kimia lain di dekat sebuah rumah sakit di Douma, Suriah. Laporan dari sejumlah kelompok dan personil medis di lapangan menunjukkan setidaknya 40 orang tewas dan ratusan terluka, dengan lebih banyak keluarga, termasuk anak-anak, bersembunyi di tempat penampungan tetapi diyakini sudah mati," kata perwakilan Departemen Luar Negeri AS.
Washington juga menuduh Damaskus menggunakan senjata kimia, menuduh bahwa "sejarah" penggunaan senjata semacam itu digunakan oleh pemerintah "tidak dalam perselisihan."
Sebelumnya, beberapa media telah mengutip militan di Suriah yang menuduh pihak berwenang di Damaskus menggunakan senjata kimia di Douma, dengan Jaish al-Islam mengklaim bahwa pasukan pemerintah telah menjatuhkan bom kimia di Ghouta Timur.
Bulan lalu, Damaskus melaporkan bahwa beberapa ahli asing sedang mengerjakan "drama" serangan kimia, yang akan dilakukan dengan bantuan White Helmets yang terkenal dan akan diliput oleh media arus utama. Peringatan yang sama dikeluarkan oleh Pusat Rekonsiliasi Rusia untuk Suriah pada bulan Januari lalu.
Baca juga:
Militan Rencanakan Serangan Kimia untuk Dituduhkan ke Rezim Suriah
Pemerintah Suriah secara konsisten membantah semua klaim penggunaan senjata kimia, dengan alasan bahwa cadangan senjata kimia negara telah dihancurkan, yang telah dikonfirmasi oleh Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (OPCW).
(ian)