Assad Lakukan Serangan Senjata Kimia, AS Tuntut Reaksi Dunia
Minggu, 08 April 2018 - 13:45 WIB
Assad Lakukan Serangan Senjata Kimia, AS Tuntut Reaksi Dunia
A
A
A
WASHINGTON - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) akan menuntut reaksi dari dunia internasional jika laporan mengenai penggunaan senjata kimia di Ghota timur di konfirmasi. Sebelumnya sebuah laporan menyatakan puluhan orang tewas di Douma, Ghouta timur, akibat serangan senjata kimia.
"Laporan-laporan ini, jika dikonfirmasi, amat mengerikan dan menuntut tanggapan segera oleh masyarakat internasional," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Heather Nauert dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari Reuters, Minggu (8/4/2018).
Mengutip sejarah penggunaan senjata kimia oleh pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad, Nauert mengatakan pemerintah Assad dan pendukungnya Rusia perlu dimintai pertanggungjawaban dan setiap serangan lebih lanjut harus segera dicegah.
"Rusia, dengan dukungannya yang tak tergoyahkan bagi rezim itu akhirnya memikul tanggung jawab atas serangan brutal ini," kata Nauert.
Sebelumnya, pejuang Jaish al-Islam menuding pasukan pemerintah telah meluncurkan serangan senjata kimia mematikan terhadap warga sipil. Serangan itu terjadi di Douma, Ghouta timur yang dikuasai pejuang.
Tudingan ini diperkuat dengan pernyataan organisasi bantuan medis yang menyebut 35 orang tewas dalam serangan senjata kimia itu.
Organisasi bantuan medis Suriah American Medical Society (SAMS) mengatakan bom klorin menghantam rumah sakit Douma, menewaskan enam orang. Serangan kedua dengan "zat campuran" termasuk zat saraf telah menghantam bangunan di dekatnya.
Basel Termanini, perwakilan SAMS dari Amerika Serikat (AS), mengatakan jumlah korban tewas total dalam serangan senjata kimia itu adalah 35.
"Kami menghubungi pemerintah Inggris dan AS serta pemerintah Eropa," katanya
Namun, rezim Damaskus melalui kantor berita SANA membantah tudingan tersebut. SANA mengatakan para pemberontak di kota Douma sebelah timur Ghouta berada dalam kondisi goyah dan menyebarkan berita palsu.
"Jaish al-Islam, sedang berupaya seolah-seolah terkena serangan senjata kimi dan gagal untuk menghalangi kemajuan tentara Suriah," tulis SANA mengutip sumber resmi.
"Laporan-laporan ini, jika dikonfirmasi, amat mengerikan dan menuntut tanggapan segera oleh masyarakat internasional," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Heather Nauert dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari Reuters, Minggu (8/4/2018).
Mengutip sejarah penggunaan senjata kimia oleh pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad, Nauert mengatakan pemerintah Assad dan pendukungnya Rusia perlu dimintai pertanggungjawaban dan setiap serangan lebih lanjut harus segera dicegah.
"Rusia, dengan dukungannya yang tak tergoyahkan bagi rezim itu akhirnya memikul tanggung jawab atas serangan brutal ini," kata Nauert.
Sebelumnya, pejuang Jaish al-Islam menuding pasukan pemerintah telah meluncurkan serangan senjata kimia mematikan terhadap warga sipil. Serangan itu terjadi di Douma, Ghouta timur yang dikuasai pejuang.
Tudingan ini diperkuat dengan pernyataan organisasi bantuan medis yang menyebut 35 orang tewas dalam serangan senjata kimia itu.
Organisasi bantuan medis Suriah American Medical Society (SAMS) mengatakan bom klorin menghantam rumah sakit Douma, menewaskan enam orang. Serangan kedua dengan "zat campuran" termasuk zat saraf telah menghantam bangunan di dekatnya.
Basel Termanini, perwakilan SAMS dari Amerika Serikat (AS), mengatakan jumlah korban tewas total dalam serangan senjata kimia itu adalah 35.
"Kami menghubungi pemerintah Inggris dan AS serta pemerintah Eropa," katanya
Namun, rezim Damaskus melalui kantor berita SANA membantah tudingan tersebut. SANA mengatakan para pemberontak di kota Douma sebelah timur Ghouta berada dalam kondisi goyah dan menyebarkan berita palsu.
"Jaish al-Islam, sedang berupaya seolah-seolah terkena serangan senjata kimi dan gagal untuk menghalangi kemajuan tentara Suriah," tulis SANA mengutip sumber resmi.
(ian)