Duterte Sebut Filipina Bersedia Tampung Pengungsi Rohingya
Jum'at, 06 April 2018 - 15:09 WIB
Duterte Sebut Filipina Bersedia Tampung Pengungsi Rohingya
A
A
A
MANILA - Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengataiaj bersedia menampung pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar. Ia pun membenarkan jika genosida tengah terjadi di negara itu.
Saat berpidato di Istana Presiden, Duterte mendorong Eropa untuk melakukan bagiannya dan menerima sebagian dari 700 ribu Muslim Rohingya yang telah melarikan diri ke Bangladesh sejak Agustus lalu.
“Saya benar-benar kasihan kepada orang-orang di sana. Saya bersedia menerima pengungsi. Rohingya, ya. Saya akan membantu tetapi kami harus membaginya dengan Eropa,” katanya dihadapan petani dan pejabat pertanian, seperti dikutip dari Asean Correspondent, Jumat (6/4/2018).
Duterte pun menggunakan kesempatan itu untuk mengkritik ketidakmampuan komunitas internasional untuk menyelesaikan masalah yang mendesak, seperti yang terjadi di Myanmar.
“Mereka bahkan tidak bisa memecahkan Rohingya. Itulah genosida, jika boleh saya katakan demikian,” cetus Duterte dalam pidato yang ditayangkan televisi.
Meski begitu, Duterte tidak menyinggung sikap bungkam pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi. Suu Kyi menuai kecaman karena dianggap gagal untuk menghentikan kekejaman itu.
"Wanita itu, dia adalah temanku," kata Duterte menyebut pemenang Nobel perdamaian itu.
Muslim Rohingya telah melarikan diri melintasi perbatasan sejak militer Myanmar memulai apa yang disebut "operasi pembebasan". Operasi dilakukan menyusul serangan pos pemeriksaan keamanan oleh pemberontak ARSA pada 25 Agustus tahun lalu.
PBB telah menyebut tindakan keras itu sebagai "contoh teks book tentang pembersihan etnis. Tetapi Myanmar membantah melakukan kesalahan, mengklaim operasi itu sebagai tanggapan atas serangan "teroris" dari kelompok-kelompok pemberontak bersenjata.
Juru bicara pemerintah Myanmar, Zaw Htay mengatakan, komentar Duterte tidak mencerminkan situasi sebenarnya.
"Dia tidak tahu apa-apa soal Myanmar," kata Zaw Htay kepada Reuters.
“Perilaku yang biasa dari orang itu adalah berbicara tanpa menahan diri. Itu sebabnya dia mengatakan itu," imbuhnya
Kritik keras terhadap sesama anggota ASEAN jarang terjadi di antara para pemimpin Asia Tenggara, yang telah lama menjunjung tinggi konvensi tidak ada intervensi di 10 negara anggota.
Saat berpidato di Istana Presiden, Duterte mendorong Eropa untuk melakukan bagiannya dan menerima sebagian dari 700 ribu Muslim Rohingya yang telah melarikan diri ke Bangladesh sejak Agustus lalu.
“Saya benar-benar kasihan kepada orang-orang di sana. Saya bersedia menerima pengungsi. Rohingya, ya. Saya akan membantu tetapi kami harus membaginya dengan Eropa,” katanya dihadapan petani dan pejabat pertanian, seperti dikutip dari Asean Correspondent, Jumat (6/4/2018).
Duterte pun menggunakan kesempatan itu untuk mengkritik ketidakmampuan komunitas internasional untuk menyelesaikan masalah yang mendesak, seperti yang terjadi di Myanmar.
“Mereka bahkan tidak bisa memecahkan Rohingya. Itulah genosida, jika boleh saya katakan demikian,” cetus Duterte dalam pidato yang ditayangkan televisi.
Meski begitu, Duterte tidak menyinggung sikap bungkam pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi. Suu Kyi menuai kecaman karena dianggap gagal untuk menghentikan kekejaman itu.
"Wanita itu, dia adalah temanku," kata Duterte menyebut pemenang Nobel perdamaian itu.
Muslim Rohingya telah melarikan diri melintasi perbatasan sejak militer Myanmar memulai apa yang disebut "operasi pembebasan". Operasi dilakukan menyusul serangan pos pemeriksaan keamanan oleh pemberontak ARSA pada 25 Agustus tahun lalu.
PBB telah menyebut tindakan keras itu sebagai "contoh teks book tentang pembersihan etnis. Tetapi Myanmar membantah melakukan kesalahan, mengklaim operasi itu sebagai tanggapan atas serangan "teroris" dari kelompok-kelompok pemberontak bersenjata.
Juru bicara pemerintah Myanmar, Zaw Htay mengatakan, komentar Duterte tidak mencerminkan situasi sebenarnya.
"Dia tidak tahu apa-apa soal Myanmar," kata Zaw Htay kepada Reuters.
“Perilaku yang biasa dari orang itu adalah berbicara tanpa menahan diri. Itu sebabnya dia mengatakan itu," imbuhnya
Kritik keras terhadap sesama anggota ASEAN jarang terjadi di antara para pemimpin Asia Tenggara, yang telah lama menjunjung tinggi konvensi tidak ada intervensi di 10 negara anggota.
(ian)