Tragedi Gaza, Pesan ke Dunia Bahwa Palestina Tak Lupakan Tanahnya
Minggu, 01 April 2018 - 14:32 WIB
Tragedi Gaza, Pesan ke Dunia Bahwa Palestina Tak Lupakan Tanahnya
A
A
A
GAZA - Sebanyak 17 demonstran Palestina tewas di Jalur Gaza setelah bentrok dengan pasukan Israel kemarin. Faksi Hamas menyatakan, tragedi ini hanya awal dari upaya rakyat Palestina untuk merebut kembali tanahnya dari Israel.
Wakil Ketua Biro Politik Hamas, Mousa Abu Marzook, dalam wawancaranya dengan Russia Today, membantah narasi resmi Israel yang menyebut para korban tewas adalah demonstran yang berusaha untuk menyusup ke wilayah Israel.
"Pertama-tama, saya ingin mengatakan bahwa semua yang terbunuh tidak mendekati pagar perbatasan dan tidak berusaha menerimanya dengan badai. Mereka dibunuh oleh sniper dari jarak jauh ketika mereka berada di dalam Jalur Gaza," kata Marzook.
Dia mengatakan komunitas internasional harus mengutuk cara Angkatan Pertahanan Israel (IDF) dalam menangani kerusuhan massa.
Pada hari Jumat, Sekretaris Jenderal PBB menyerukan penyelidikan independen dan transparan atas tragedi di Gaza yang menewaskan 17 demonstran Palestina.
Beberapa negara Muslim, termasuk Turki, Mesir dan Yordania, mengecam apa yang mereka anggap sebagai "kekuatan yang tidak proporsional" telah digunakan oleh Israel terhadap para demonstran yang tidak bersenjata.
Rusia ikut mengecam tindakan IDF sebagai penindasan terhadap aksi protes."Penggunaan kekuatan yang tidak pandang bulu terhadap warga sipil," kecam pemerintah Moskow dalam pernyataannya.
Selain 17 demonstran Palestina tewas, lebih dari 1.400 orang lainnya terluka. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, para korban luka antara lain terkena tembakan peluru tajam, gas air mata dan peluru karet.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza, Ashraf Kidra, mengatakan kepada Sputnik bahwa setidaknya 36 warga Palestina menderita luka tembak setelah IDF melepaskan tembakan.
Dengan menggelar protes "Great Return" selama enam minggu, demonstran Palestina menyerukan hak para pengungsi Palestina untuk kembali ke tanah mereka yang sekarang diduduki oleh Israel."Rakyat Palestina akan mengirim pesan bahwa mereka tidak melupakan desa-desa dan kota-kota mereka, kota-kota ayah dan kakek mereka," kata Marzook.
"Mereka ingin acara hari ini menjadi titik awal, dan bukan hanya beberapa insiden yang terjadi pada Land Day (Hari Tanah)," ujar Marzook.
"Ini pesan ke dunia bahwa Palestina tidak melupakan tanah mereka, lanjut dia."Ini harus berfungsi sebagai pengingat ke seluruh dunia bahwa ada resolusi PBB, yang memberikan Palestina hak untuk kembali ke desa dan kota mereka."
Marzook, yang telah menjadi pemimpin senior Hamas sejak awal 1990-an, mengatakan bahwa ia percaya bahwa tujuan Palestina akan berhasil. Menurutnya, pengungsi Palestina di negara-negara tetangga, Eropa, Amerika Serikat dan bagian lain dunia harus besuara sama dalam berdiri untuk tujuan akhir bangsanya.
"(Warga) Palestina kini tinggal di Eropa, Amerika, dan di banyak negara lain. Mereka harus mengambil tindakan, mengorganisir aksi unjuk rasa, melakukan apa yang mereka pikir perlu. Mereka harus kembali ke negara mereka melalui laut, melalui udara," paparnya, yang dilansir Minggu (1/4/2018)."Ini hanya permulaan, hanya percikan api."
Sementara itu, Israel telah menepis laporan bahwa tentaranya telah menggunakan kekuatan yang berlebihan ketika menekan demonstran Palestina. IDF menganggap tentara Israel menangani serangan "teroris".
"(Tentara Israel) beroperasi sesuai aturan ketat, menembak hanya bila diperlukan dan menghindari warga sipil ditempatkan secara strategis oleh Hamas dalam bahaya," kata pihak IDF dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh Jerusalem Post.
Wakil Ketua Biro Politik Hamas, Mousa Abu Marzook, dalam wawancaranya dengan Russia Today, membantah narasi resmi Israel yang menyebut para korban tewas adalah demonstran yang berusaha untuk menyusup ke wilayah Israel.
"Pertama-tama, saya ingin mengatakan bahwa semua yang terbunuh tidak mendekati pagar perbatasan dan tidak berusaha menerimanya dengan badai. Mereka dibunuh oleh sniper dari jarak jauh ketika mereka berada di dalam Jalur Gaza," kata Marzook.
Dia mengatakan komunitas internasional harus mengutuk cara Angkatan Pertahanan Israel (IDF) dalam menangani kerusuhan massa.
Pada hari Jumat, Sekretaris Jenderal PBB menyerukan penyelidikan independen dan transparan atas tragedi di Gaza yang menewaskan 17 demonstran Palestina.
Beberapa negara Muslim, termasuk Turki, Mesir dan Yordania, mengecam apa yang mereka anggap sebagai "kekuatan yang tidak proporsional" telah digunakan oleh Israel terhadap para demonstran yang tidak bersenjata.
Rusia ikut mengecam tindakan IDF sebagai penindasan terhadap aksi protes."Penggunaan kekuatan yang tidak pandang bulu terhadap warga sipil," kecam pemerintah Moskow dalam pernyataannya.
Selain 17 demonstran Palestina tewas, lebih dari 1.400 orang lainnya terluka. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, para korban luka antara lain terkena tembakan peluru tajam, gas air mata dan peluru karet.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza, Ashraf Kidra, mengatakan kepada Sputnik bahwa setidaknya 36 warga Palestina menderita luka tembak setelah IDF melepaskan tembakan.
Dengan menggelar protes "Great Return" selama enam minggu, demonstran Palestina menyerukan hak para pengungsi Palestina untuk kembali ke tanah mereka yang sekarang diduduki oleh Israel."Rakyat Palestina akan mengirim pesan bahwa mereka tidak melupakan desa-desa dan kota-kota mereka, kota-kota ayah dan kakek mereka," kata Marzook.
"Mereka ingin acara hari ini menjadi titik awal, dan bukan hanya beberapa insiden yang terjadi pada Land Day (Hari Tanah)," ujar Marzook.
"Ini pesan ke dunia bahwa Palestina tidak melupakan tanah mereka, lanjut dia."Ini harus berfungsi sebagai pengingat ke seluruh dunia bahwa ada resolusi PBB, yang memberikan Palestina hak untuk kembali ke desa dan kota mereka."
Marzook, yang telah menjadi pemimpin senior Hamas sejak awal 1990-an, mengatakan bahwa ia percaya bahwa tujuan Palestina akan berhasil. Menurutnya, pengungsi Palestina di negara-negara tetangga, Eropa, Amerika Serikat dan bagian lain dunia harus besuara sama dalam berdiri untuk tujuan akhir bangsanya.
"(Warga) Palestina kini tinggal di Eropa, Amerika, dan di banyak negara lain. Mereka harus mengambil tindakan, mengorganisir aksi unjuk rasa, melakukan apa yang mereka pikir perlu. Mereka harus kembali ke negara mereka melalui laut, melalui udara," paparnya, yang dilansir Minggu (1/4/2018)."Ini hanya permulaan, hanya percikan api."
Sementara itu, Israel telah menepis laporan bahwa tentaranya telah menggunakan kekuatan yang berlebihan ketika menekan demonstran Palestina. IDF menganggap tentara Israel menangani serangan "teroris".
"(Tentara Israel) beroperasi sesuai aturan ketat, menembak hanya bila diperlukan dan menghindari warga sipil ditempatkan secara strategis oleh Hamas dalam bahaya," kata pihak IDF dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh Jerusalem Post.
(mas)