Sekjen PBB Sebut Ketegangan AS-Rusia Mirip Era Perang Dingin

Jum'at, 30 Maret 2018 - 05:26 WIB
Sekjen PBB Sebut Ketegangan...
Sekjen PBB Sebut Ketegangan AS-Rusia Mirip Era Perang Dingin
A A A
NEW YORK - Pemimpin PBB, Antonio Guterres memperingatkan, hubungan Rusia dan Amerika Serikat (AS) yang memburuk mirip dengan Perang Dingin. Ia pun menyerukan agar kedunya tetap menjaga batasan agar eskalasi tidak meningkat.

Hanya beberapa hari setelah AS mengumumkan akan mengusir 12 diplomat Rusia atas serangan zat saraf di Inggris, Guterres menyerukan Washington dan Moskow untuk membangun kembali jalur komunikasi yang ditujukan untuk mencegah meningkatnya ketegangan.

“Selama Perang Dingin ada mekanisme komunikasi dan kontrol untuk menghindari insiden eskalasi, untuk memastikan bahwa semuanya tidak akan lepas kontrol ketika ketegangan akan meningkat. Mekanisme itu telah dibongkar,” kata Guterres.

"Saya percaya ini adalah waktu untuk tindakan pencegahan semacam ini, menjamin komunikasi yang efektif, menjamin kapasitas untuk mencegah eskalasi. Saya percaya bahwa mekanisme semacam ini diperlukan lagi," katanya seperti dikutip dari Reuters, Jumat (30/3/2018).

Meski begitu, menurut Guterres ada perbedaan kunci antara situasi sekarang dengan era Perang Dingin.

"Sekarang ada banyak aktor lain yang relatif independen dan dengan peran penting dalam banyak konflik yang kita saksikan, dengan risiko eskalasi yang kita kenal baik," katanya.

Perang Dingin, yang berlangsung sekitar empat dekade setelah Perang Dunia II, ditandai oleh ketegangan geopolitik antara AS dan sekutu Baratnya di satu sisi, dan kemudian Uni Soviet bersama negara-negara blok timur lainnya.

AS pada hari Senin mengatakan akan mengusir 60 diplomat Rusia, termasuk 12 yang diposisikan ke misi PBB di New York. AS bergabung dengan pemerintah di seluruh Eropa dalam menghukum Kremlin karena serangan zat saraf terhadap mata-mata Rusia di Inggris yang mereka salahkan pada Moskow.

Rusia membantah terlibat dalam serangan 4 Maret lalu dan mengumumkan bahwa mereka akan mengusir 60 diplomat serta menutup konsulat AS di St. Petersburg.

Washington dan Moskow telah terlibat bentrok terkait aneksasi Rusia atas Crimea di Ukraina, perang di Suriah dan tuduhan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden AS tahun 2016 lalu.

Rusia juga khawatir bahwa Presiden AS Donald Trump merencanakan tindakan militer terhadap pemerintah Suriah atas tuduhan penggunaan senjata kimia selama konflik yang berkepanjangan di negara itu.

Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley mengatakan, Washington tetap siap siaga untuk bertindak jika memang harus, seperti yang terjadi pada April tahun lalu ketika membom sebuah pangkalan udara pemerintah Suriah yang dikatakan digunakan untuk meluncurkan serangan gas beracun mematikan.
(ian)
Berita Terkait
Rusia ingin PBB Menekan...
Rusia ingin PBB Menekan Amerika Serikat dalam Masalah Ini
AS Tolak Perpanjang...
AS Tolak Perpanjang Visa Diplomat, Rusia Mengadu ke PBB
AS Ingin Hidupkan Sanksi...
AS Ingin Hidupkan Sanksi Iran Berdasar Perjanjian Nuklir, Rusia: Itu Konyol!
Rusia Sebut AS Manipulasi...
Rusia Sebut AS Manipulasi PBB untuk Hukum Iran
AS Dorong Embargo Senjata...
AS Dorong Embargo Senjata Iran, Rusia: Kebijakan Mencekik Maksimum
Rusia: AS Tidak Berhak...
Rusia: AS Tidak Berhak Pulihkan Sanksi PBB Terhadap Iran
Berita Terkini
350 Pegawai Pemerintah...
350 Pegawai Pemerintah Iran Tewas akibat Serangan AS dan Israel
2 jam yang lalu
Israel Akui Pesawat...
Israel Akui Pesawat Pembom AS Gunakan Pangkalan Udaranya untuk Serang Iran
3 jam yang lalu
600 Eks Pejabat Israel...
600 Eks Pejabat Israel Desak Trump Tekan Netanyahu
4 jam yang lalu
Ukraina Ledakkan Kapal...
Ukraina Ledakkan Kapal Dagang Iran di Laut Kaspia, Rusia Peringatkan Ancaman Kyiv
4 jam yang lalu
Delegasi Hamas ke Mesir...
Delegasi Hamas ke Mesir untuk Pembicaraan Fase Selanjutnya Gencatan Senjata Gaza
5 jam yang lalu
Israel Perluas Zona...
Israel Perluas Zona Kuning, Paksa Ribuan Warga Gaza Mengungsi Lagi
6 jam yang lalu
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved