Satelit China Akan Jatuh ke Bumi Akhir Pekan Ini

Kamis, 29 Maret 2018 - 15:30 WIB
Satelit China Akan Jatuh...
Satelit China Akan Jatuh ke Bumi Akhir Pekan Ini
A A A
DARMSTADT - Stasiun luar angkasa China Tiangong-1 diperkirakan memasuki atmosfer bumi akhir pekan ini, tapi lokasi jatuhnya masih misteri. Peristiwa tersebut mengingatkan dunia antariksa mengenai jatuhnya stasiun luar angkasa Amerika Serikat (AS) Skylab pada 1979 yang hancur bagaikan debu di Australia.

Kantor Puing-puing Luar Angkasa Lembaga Luar Angkasa Eropa (European Space Agency/ESA) yang berkantor pusat di Darmstadt, Jerman, memperkirakan Tiangong-1 jatuh antara 30 Maret sampai 2 April. Berdasarkan kemiringan orbitalnya, Tiangong-1 akan berada di antara 43 derajat lintang utara dan 43 lintang selatan.

"Wilayah di atas atau di bawah lintang itu bisa dikecualikan dari lokasi jatuhnya Tiangong-1. Jika sudah dekat, ramalan waktu dan lokasi jatuhnya Tiangong-1 dapat dihitung lebih akurat," ungkap ESA dalam keterangan pers dikutip scientificamerican.com.

Ketidakberesan Tiangong-1 sudah diketahui sejak 2016 lewat satelit lain. Muncul kekhawatiran serpihan satelit Tiangong-1 bisa mengancam keselamatan manusia di bumi. Lab berbobot 8,5 ton yang diluncurkan pada 2011 itu sempat mengorbit di jalur orbit bumi rendah, yakni 362 km dari permukaan bumi. Satelit sepanjang 12 meter itu sempat akan diturunkan pada 2013, tetapi tidak jadi tanpa ada alasan jelas.

Sejauh ini belum ada penjelasan resmi dari Pemerintah China mengapa Tiangong-1 bisa jatuh. Dugaan sementara para ahli akibat kehabisan bahan bakar. Pada 2016 silam, Pemerintah China menyatakan Tiangong-1 tak terkendali dan akan menjatuhkannya pada akhir 2017. Faktanya, Tiangong-1 malah jatuh tak terkendali.

Ahli astropsikis dari Harvard-Smithsonian Center, Jonathan McDowell menilai, insiden ini mencoreng ambisi China mendominasi antariksa. "Mereka akan merasa malu. Bahaya nyata terhadap manusia kecil. Namun dalam praktik internasional, objek besar seharusnya tidak jatuh dari langit dengan kondisi seperti ini," ujar McDowell seperti dikutip CNN.

Sebagian stasiun ruang angkasa itu akan terbakar ketika memasuki atmosfer bumi. Joan Johnson-Freese, profesor Sekolah Perang Laut AS dan mantan Kepala Urusan Keamanan Nasional, memprediksi dalam skenario terburuk, serpihan itu kemungkinan menghantam area padat penduduk dan mengeluarkan zat beracun Hydrazine.

Zat Hydrazine jika terhirup dalam jangka pendek bisa menyebabkan batukbatuk, iritasi pada tenggorokan dan paru-paru, serta kejang-kejang. "China tentu berharap peristiwa ini tidak terjadi. Tapi peristiwa ini tidak akan mengancam rencana penerbangan ruang angkasa mereka," katanya.
(amm)
Berita Terkait
China Kecam Strategi...
China Kecam Strategi Baru Jerman untuk Lemahkan Beijing
Baru 2 Minggu Menjabat,...
Baru 2 Minggu Menjabat, Dubes Jerman di China Meninggal Secara Mendadak
Respon UU Keamanan China,...
Respon UU Keamanan China, Jerman Hentikan Ekspor Senjata ke Hong Kong
Jerman Akan Perluas...
Jerman Akan Perluas Kehadiran Militer di Indo Pasifik
Jerman akan Kerahkan...
Jerman akan Kerahkan 2 Kapal Perang ke Indo-Pasifik
Jerman Rencanakan Kunjungan...
Jerman Rencanakan Kunjungan Tingkat Tertinggi ke Taiwan
Berita Terkini
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
15 menit yang lalu
Eks Kepala AL Jerman:...
Eks Kepala AL Jerman: Uni Eropa Bisa 'Berjalan Tanpa Sadar' Menuju Perang Melawan Rusia
1 jam yang lalu
Dari Infrastruktur ke...
Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan
1 jam yang lalu
Trump Mendadak Batal...
Trump Mendadak Batal Bombardir Iran Besar-besaran, Israel Terkejut
2 jam yang lalu
Israel Kucurkan Rp917...
Israel Kucurkan Rp917 Miliar untuk Bangun 69 Permukiman Ilegal di Tepi Barat
11 jam yang lalu
Trump Murka, AS akan...
Trump Murka, AS akan Serang Iran dengan Sangat Keras Malam Ini
12 jam yang lalu
Infografis
Negara NATO Ini Klaim...
Negara NATO Ini Klaim akan Diinvasi Rusia dalam Beberapa Tahun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved