Kesepakatan Repatriasi Pengungsi Rohingya, UNHCR Pesimis

Jum'at, 16 Maret 2018 - 23:46 WIB
Kesepakatan Repatriasi...
Kesepakatan Repatriasi Pengungsi Rohingya, UNHCR Pesimis
A A A
JENEWA - Kepala badan pengungsi PBB, UNCHR, mengungkapkan rasa pesimisnya terhadap kesepakatan pemulangan kembali atau repratriasi pengungsi Rohingya. Sebelumnya, Bangladesh dan Myanmar telah mencapai kesepakatan untuk memulangkan kembali pengungsi Rohingya pada bulan Februari lalu.

Kepala UNHCR, Filippo Grandi mengatakan, Rohingya harus diizinkan kembali ke rumah mereka di Myanmar. Namun hal itu hanya bisa dilakukan secara sukarela dan mendapatkan jaminan terhadap hak-haknya.

"Kemungkinan berkembang terhadap solusi, solusi awal, tapi ini bukan alasan bagi saya sebagai Komisaris Tinggi untuk Pengungsi untuk menyerah pada masalah ini," katanya dalam sebuah konferensi pers.

"Kami sangat sadar akan fakta bahwa situasi ini mungkin memakan waktu lama, dan karena itu kami perlu merencanakan hal ini," sambungnya seperti disitat dari Reuters, Jumat (16/3/2018).

Ketika ditanya setidaknya berapa lama etnis Rohingya tinggal di kamp mereka di Bangladesh, Grandi berkata, "Saya berharap saya tahu."

Tahun lalu ia mengunjungi bagian lain dari Myanmar dimana orang-orang terlantar terjebak di kamp selama enam atau tujuh tahun. Ia mengatakan bahwa Rohingya tidak dapat mengalami nasib yang sama dalam skala yang jauh lebih besar.

Myint Thu, sekretaris tetap di Kementerian Luar Negeri Myanmar, mengatakan pada hari Rabu bahwa 374 pengungsi dapat dipulangkan.

Ia juga mengatakan bahwa Myanmar sekarang menganggap tepat untuk mengundang UNHCR dan Program Pembangunan PBB ke dalam proses pemulangan.

Baca juga:
Repatriasi, Myanmar Verifikasi 300 Lebih Pengungsi Rohingya


Grandi mengatakan bahwa dia masih belum memiliki kesepakatan untuk keterlibatan UNHCR, yang menurutnya penting dan sangat diperlukan.

"Diskusi dengan Myanmar cukup mendasar, tidak terlalu sering, tidak terlalu maju, tapi terus berlanjut. Ini adalah cara berjalan dalam situasi ini. Ini sangat sulit," kata Grandi.

Pemerintah Myanmar tidak mengakui etnis Rohingya sebagai warga negara, dan Grandi mengatakan bahwa hak mereka perlu ditegakkan, termasuk kewarganegaraan, mobilitas dan akses terhadap layanan dasar.

"Tapi pertama-tama kekerasan harus dihentikan. Meskipun eksodus ke Bangladesh telah menurun secara besar-besaran sejak akhir tahun lalu, namun jumlah tersebut terus berlanjut dalam jumlah yang lebih kecil, ini mengindikasikan bahwa situasi tersebut masih belum stabil," katanya.

Ia juga mengatakan bahwa pemerintah lain hanya boleh berinvestasi dalam proyek pembangunan di Rakhine jika mereka memastikannya mendukung kehadiran Rohingya dan tidak mengabadikan situasinya.
(ian)
Berita Terkait
Bangladesh Pindahkan...
Bangladesh Pindahkan Ratusan Pengungsi Rohingya ke Pulau Terpencil
7 Fakta Coxs Bazar Kamp...
7 Fakta Coxs Bazar Kamp Pengungsi Terbesar di Dunia, Hidup Tanpa Status Kewarganegaraan di Negara Orang
Peringati Eksodus ke...
Peringati Eksodus ke Bangladesh, Pengungsi Rohingya Lakukan Aksi Bungkam
Tentara Myanmar Akui...
Tentara Myanmar Akui Pembunuhan Massal dan Pemerkosaan pada Rohingya
1.600 Rohingya Dipindah...
1.600 Rohingya Dipindah ke Pulau Terpencil, Ada yang Mengaku Dipaksa
Pemimpin Tertinggi Rohingya...
Pemimpin Tertinggi Rohingya Ditembak Mati di Bangladesh usai Salat
Berita Terkini
Korut Tuding Jepang...
Korut Tuding Jepang Berubah Jadi Negara Perang, Apa Pemicunya?
24 menit yang lalu
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
2 jam yang lalu
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
3 jam yang lalu
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
7 jam yang lalu
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
8 jam yang lalu
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
8 jam yang lalu
Infografis
Rusia Siap Paksa AS...
Rusia Siap Paksa AS Kembali pada Kesepakatan Nuklir
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved