Serangan Siber NotPetya, AS-Inggris Kompak Salahkan Rusia

Jum'at, 16 Februari 2018 - 06:12 WIB
Serangan Siber NotPetya,...
Serangan Siber NotPetya, AS-Inggris Kompak Salahkan Rusia
A A A
LONDON - Amerika Serikat (AS) dan Inggris menyalahkan Rusia atas serangan siber yang melanda dunia bisnis di seluruh Eropa pada tahun lalu. Inggris menuduh Moskow melakukan perang informasi, sedangkan Gedung Putih menuding militer Rusia melancarkan serangan siber paling merusak dan mahal dalam sejarah.

"Serangan yang dijuluki 'NotPetya', cepat menyebar ke seluruh dunia, menyebabkan kerusakan miliaran dolar di seluruh Eropa, Asia, dan Amerika," sebuah pernyataan dari sekretaris pers Gedung Putih seperti dikutip dari CBS News, Jumat (16/2/2018).

"Ini adalah bagian dari upaya Kremlin untuk terus mengacaukan Ukraina dan menunjukkan keterlibatan Rusia yang lebih jelas dalam konflik yang sedang berlangsung. Ini juga merupakan serangan siber sembrono dan sembarangan yang akan menemui konsekuensi internasional," sambung pernyataan itu.

Sebelumnya, pejabat Kementerian Luar Negeri Inggris untuk keamanan siber Tariq Ahmad mengatakan pemerintah Inggris menilai bahwa pemerintah Rusia, khususnya militer Rusia, bertanggung jawab atas serangan siber NotPetya yang merusak pada Juni 2017.

Maraknya penyebaran perangkat lunak untuk merebut data berpusat di Ukraina yang terlibat konflik dengan separatis yang didukung Moskow. Perang ini menyebar ke perusahaan yang melakukan bisnis dengan Ukraina, termasuk perusahaan farmasi AS Merck, perusahaan pelayaran Denmark A.P. Moller-Maersk dan anak perusahaan FedEx TNT. Ahmad mengatakan bahwa serangan "sembrono" itu menelan biaya ratusan juta dolar.

Menteri Pertahanan Inggris Gavin Williamson menuduh Rusia merusak demokrasi, merusak mata pencaharian dengan menargetkan infrastruktur penting, dan memberikan informasi tentang senjata dengan serangan siber yang jahat.

"Kita harus prima dan siap menghadapi ancaman yang mengancam dan intesif ini," kata Williamson.

Menteri pertahanan Denmark Claus Hjort Frederiksen mengatakan badan intelijen di Inggris, Denmark dan tempat lain telah menemukan Rusia sebagai penanggung jawab atas serangan NotPetya.

Berbicara pada pertemuan menteri pertahanan NATO di Brussels, dia mengatakan bahwa peretasan tersebut dimaksudkan untuk menyebabkan kerusakan dan harus disamakan dengan serangan militer.

Juru bicara Presiden Vladimir Putin, Dmitry Peskov, membantah keterlibatan Rusia.

"Kami dengan tegas menolak tuduhan tersebut. Kami menganggap tuduhan mereka tidak berdasar dan tidak beralasan serta melihat mereka sebagai kelanjutan dari kampanye Russophobic tanpa dasar," katanya dalam sebuah konferensi dengan wartawan.
(ian)
Berita Terkait
Negara-negara Eropa...
Negara-negara Eropa yang Dihasut Amerika Serikat untuk Boikot Gas Rusia
Hubungan Amerika Serikat...
Hubungan Amerika Serikat dan Ukraina Dikabarkan Retak
Fakta Perang Hibrida...
Fakta Perang Hibrida Amerika Serikat-Rusia
Perbandingan Wagner...
Perbandingan Wagner Rusia dan Blackwater Amerika Serikat
Ancaman Rudal Muncul...
Ancaman Rudal Muncul dari Barat, Rusia Siap Beri Respons Militer
Pejabat Rusia yang Dilarang...
Pejabat Rusia yang Dilarang Masuk ke Amerika Serikat
Berita Terkini
Paus Leo Tegaskan Kriteria...
Paus Leo Tegaskan Kriteria untuk Perang yang Adil Tidak Ada dalam Serangan AS-Israel di Iran
15 menit yang lalu
Iran Peringatkan Serangan...
Iran Peringatkan Serangan AS Berisiko Seret Timur Tengah Kembali ke Konflik
1 jam yang lalu
Selain Azerbaijan, Israel...
Selain Azerbaijan, Israel Kirim Pasukan ke UEA, Irak dan Somaliland selama Perang Iran
3 jam yang lalu
Meski Sekutu Sejati,...
Meski Sekutu Sejati, Mengapa Pentagon Tingkatkan Ancaman Mata-mata Israel ke Tingkat Tertinggi?
4 jam yang lalu
3 Fakta Bantahan Azerbaijan...
3 Fakta Bantahan Azerbaijan Terkait Wilayahnya Digunakan Israel dalam Perang Iran
6 jam yang lalu
3 Fakta Penembakan Bayi...
3 Fakta Penembakan Bayi Palestina Berusia 7 Bulan oleh Tentara Israel
10 jam yang lalu
Infografis
True Promise 4 Mengamuk!...
True Promise 4 Mengamuk! Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Jadi Rongsokan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved