AS Desak Turki Setop Serang Milisi Kurdi, Fokus Berantas ISIS
Jum'at, 16 Februari 2018 - 02:21 WIB
AS Desak Turki Setop Serang Milisi Kurdi, Fokus Berantas ISIS
A
A
A
WASHINGTON - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Jim Mattis, mendesak Turki untuk memfokuskan kembali militernya dalam usaha memerangi ISIS di Suriah dan bukan milisi Kurdi. Demikian pernyataan yang dikeluarkan oleh Pentagon.
Hal itu diungkapkan Mattis saat berbicara dengan koleganya dari Turki, Nurettin Cenikli, di selah-sela sebuah konferensi NATO di Brussels.
Menurut pernyataan tersebut, selama berdiskusi, Mattis menyebut untuk fokus pada kampanye mengalahkan ISIS dan untuk mencegah sisa-sisa organisasi teroris tersebut untuk hidup kembali di Suriah.
"Mattis mengakui ancaman yang sah yang ditujukan pada keamanan nasional Turki oleh organisasi teroris," kata pernyataan itu.
"Namun ia juga membahas lingkungan keamanan yang kompleks di Suriah, dan bahaya bahwa ISIS yang bangkit kembali dapat beraksi untuk semua sekutu NATO," sambung pernyataan itu seperti dikutip dari Middle East Monitor, Jumat (16/2/2018).
Sejak pertengahan Januari, Turki telah melakukan operasi kontra-terorisme militer di Provinsi Afrin, Suriah utara. "Operation Olive Branch" bertujuan untuk mengalahkan kelompok militan Kurdi seperti Partai Persatuan Demokratik (PYD) dan Unit Perlindungan Rakyat (YPG), yang didukung dan mendapat persenjataan dari AS.
Konflik dan operasi Turki berikutnya telah menyebabkan perselisihan yang signifikan antara kedua negara. Turki menyalahkan AS karena mendukung sebuah kelompok yang dikelompokkan sebagai teroris. Sementara AS menyalahkan Turki karena menyerang sekutu-sekutunya.
Pernyataan Pentagon diakhiri dengan mengatakan bahwa AS dan Turki sepakat untuk melanjutkan berbagai kegiatan dan konsultasi pertahanan bilateral dan multilateral mereka, dan untuk mencari cara untuk memperkuat kerja sama pertahanan di masa depan.
Mattis mengatakan bahwa kedua negara memiliki dialog terbuka mengenai perbedaan yang tumbuh diantara mereka atas pertempuran di Suriah dan "menemukan kesamaan".
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson dijadwalkan mengunjungi Turki untuk bertemu dengan mitranya dari Turki Mevlut Cavusoglu dan Presiden Recep Tayyip Erdogan dalam upaya memperbaiki hubungan.
Hal itu diungkapkan Mattis saat berbicara dengan koleganya dari Turki, Nurettin Cenikli, di selah-sela sebuah konferensi NATO di Brussels.
Menurut pernyataan tersebut, selama berdiskusi, Mattis menyebut untuk fokus pada kampanye mengalahkan ISIS dan untuk mencegah sisa-sisa organisasi teroris tersebut untuk hidup kembali di Suriah.
"Mattis mengakui ancaman yang sah yang ditujukan pada keamanan nasional Turki oleh organisasi teroris," kata pernyataan itu.
"Namun ia juga membahas lingkungan keamanan yang kompleks di Suriah, dan bahaya bahwa ISIS yang bangkit kembali dapat beraksi untuk semua sekutu NATO," sambung pernyataan itu seperti dikutip dari Middle East Monitor, Jumat (16/2/2018).
Sejak pertengahan Januari, Turki telah melakukan operasi kontra-terorisme militer di Provinsi Afrin, Suriah utara. "Operation Olive Branch" bertujuan untuk mengalahkan kelompok militan Kurdi seperti Partai Persatuan Demokratik (PYD) dan Unit Perlindungan Rakyat (YPG), yang didukung dan mendapat persenjataan dari AS.
Konflik dan operasi Turki berikutnya telah menyebabkan perselisihan yang signifikan antara kedua negara. Turki menyalahkan AS karena mendukung sebuah kelompok yang dikelompokkan sebagai teroris. Sementara AS menyalahkan Turki karena menyerang sekutu-sekutunya.
Pernyataan Pentagon diakhiri dengan mengatakan bahwa AS dan Turki sepakat untuk melanjutkan berbagai kegiatan dan konsultasi pertahanan bilateral dan multilateral mereka, dan untuk mencari cara untuk memperkuat kerja sama pertahanan di masa depan.
Mattis mengatakan bahwa kedua negara memiliki dialog terbuka mengenai perbedaan yang tumbuh diantara mereka atas pertempuran di Suriah dan "menemukan kesamaan".
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson dijadwalkan mengunjungi Turki untuk bertemu dengan mitranya dari Turki Mevlut Cavusoglu dan Presiden Recep Tayyip Erdogan dalam upaya memperbaiki hubungan.
(ian)