Suu Kyi Dinobatkan sebagai Pengkhianat Terbesar Kebebasan Pers

Rabu, 10 Januari 2018 - 12:02 WIB
Suu Kyi Dinobatkan sebagai...
Suu Kyi Dinobatkan sebagai Pengkhianat Terbesar Kebebasan Pers
A A A
NAYPYIDAW - Lembaga Committee to Protect Journalists (CPJ) yang berbasis di Amerika Serikat menobatkan pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, sebagai Pengkhianat Terbesar Kebebasan Pers. Gelar itu diberikan kepada Suu Kyi terkait sikap bungkamnya terhadap penangkapan sejumlah jurnalis.

Suu Kyi berdiri sejajar dengan tokoh-tokoh otokrat seperti Xi Jinping dari China, Recep Tayyip Erdogan dari Turki dan Abdel Fattah el-Sisi dari Mesir, sebagai "pemenang" dalam kategori tersebut.

Lembaga kebebasan pers non profit itu menyatakan bahwa setelah partai Suu Kyi berkuasa pada 2016, lima wartawan telah di penjara di mana seharusnya pengampunan dan harapan untuk kebebasan media sangat tinggi.

"Namun, sebagian besar struktur hukum yang telah lama membatasi pers tetap ada dan wartawan terus dipenjara," kata CPJ.

"Pejabat keamanan menghalangi dan melecehkan wartawan yang mencoba menutupi apa yang oleh PBB disebut sebagai contoh teks book tentang pembersihan etnis oleh pihak berwenang di negara bagian Rakhine utara negara itu," sambung CPJ seperti dikutip dari Asean Correspondet, Rabu (10/1/2018).

CPJ menunjuk penangkapan wartawan Reuters Wa Lone dan Kyaw Soe Oo pada bulan Desember sebagai bukti kebebasan pers yang rendah dalam demokrasi yang baru lahir di bawah Liga Nasional untuk Demokrasi pimpinan Suu Kyi.

Keduanya berpotensi menghadapi hukuman 14 tahun penjara jika terbukti bersalah di bawah Undang-Undang Rahasia Resmi era kolonial negara tersebut.

"Penangkapan dan penahanan mereka berlanjut merupakan serangan mengerikan terhadap kebebasan pers - mencegahnya, dan menghalangi wartawan lain, untuk melaporkannya secara independen di Myanmar," tulis Pemimpin Redaksi Reuters Stephen J Adler.

"Kami kembali meminta pembebasan segera mereka," imbuhnya.

Sementara pada bulan Oktober, wartawan dari Singapura dan Malaysia dipenjara selama dua bulan karena menerbangkan pesawat tak berawak di dekat gedung parlemen Myanmar di ibukota Naypyitaw.

Suu Kyi sendiri telah menjadi sorotan setelah memilih bungkam terhadap krisis Rohingya. Sejumlah pihak pun menyerukan agar hadiah Nobel Perdamaian yang diberikan kepadanya dicabut. Suu Kyi sendiri telah kehilangan gelar Freedom of Oxford.
(ian)
Berita Terkait
Negara Kecil Ini Ingin...
Negara Kecil Ini Ingin Myanmar Dihukum atas Genosida Etnis Muslim Rohingya
Sebut Tentaranya Diancam,...
Sebut Tentaranya Diancam, Myanmar Bantah Pengakuan Kekejaman Rohingya
Pengakuan Tentara Myanmar...
Pengakuan Tentara Myanmar Soal Pembantaian Rohingya: Bunuh Mereka Semua
Pendekatan Rasional...
Pendekatan Rasional terhadap Krisis Rohingya
Agama Warga Negara Bagian...
Agama Warga Negara Bagian Rakhine Myanmar dan Persentasenya
1.600 Rohingya Dipindah...
1.600 Rohingya Dipindah ke Pulau Terpencil, Ada yang Mengaku Dipaksa
Berita Terkini
Selain Azerbaijan, Israel...
Selain Azerbaijan, Israel Kirim Pasukan ke UEA, Irak dan Somaliland selama Perang Iran
12 menit yang lalu
Meski Sekutu Sejati,...
Meski Sekutu Sejati, Mengapa Pentagon Tingkatkan Ancaman Mata-mata Israel ke Tingkat Tertinggi?
1 jam yang lalu
3 Fakta Bantahan Azerbaijan...
3 Fakta Bantahan Azerbaijan Terkait Wilayahnya Digunakan Israel dalam Perang Iran
3 jam yang lalu
3 Fakta Penembakan Bayi...
3 Fakta Penembakan Bayi Palestina Berusia 7 Bulan oleh Tentara Israel
7 jam yang lalu
Selalu Jadi Target Iran,...
Selalu Jadi Target Iran, Kuwait Beli Senjata Anti-Drone Senilai Rp36 Triliun dari AS
8 jam yang lalu
140 Drone Ukraina Hajar...
140 Drone Ukraina Hajar St Petersburg, Rusia: Serangan Ini Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
9 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Ukuran...
10 Negara dengan Ukuran Kaki Terbesar di Dunia, Jerman Juaranya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved