Rusia Bantah Langgar Perjanjian Rudal Nuklir

Minggu, 10 Desember 2017 - 02:19 WIB
Rusia Bantah Langgar...
Rusia Bantah Langgar Perjanjian Rudal Nuklir
A A A
MOSKOW - Rusia mengatakan sepenuhnya berkomitmen pada pakta era Perang Dingin dengan Amerika Serikat (AS) yang melarang rudal jelajah jarak menengah. Pernyataan ini muncul sehari setelah Washington menuduh Moskow melanggar perjanjian tersebut.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan Washington sedang meninjau opsi militer, termasuk sistem rudal jelajah jarak menengah baru. Hal ini sebagai tanggapan atas apa yang dikatakannya sebagai pelanggaran berkelanjutan Rusia terhadap Perjanjian Pasukan Nuklir Tingkat Menengah tahun 1987.

Baca juga:
AS Tekan Rusia untuk Patuhi Perjanjian Rudal Nuklir


Peringatan tersebut merupakan tanggapan pertama pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap tuntutan pertama AS pada tahun 2014. AS menuding Rusia telah mengerahkan rudal jelajah yang diluncurkan dari darat. Hak itu melanggar larangan pakta untuk menguji dan melontarkan rudal dengan jarak tempuh 500-5,500 km.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov mengatakan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar.

"Mereka tidak didukung oleh karakteristik teknis dari instalasi peluncuran yang diduga tidak sesuai dengan perjanjian, atau dengan data telemetri penerbangan. Tidak ada. Dan bisa dimengerti mengapa - karena itu sama sekali tidak ada," katanya dalam komentar tertulis yang diterbitkan oleh kementerian luar negeri seperti dilansir dari Reuters, Minggu (10/12/2017).

Dengan mengomentari pernyataan Rusia sebelumnya, Ryabkov mengatakan bahwa Moskow berkomitmen penuh terhadap perjanjian tersebut, selalu mematuhinya dengan ketat, dan siap untuk terus melakukannya.

"Namun, jika pihak lain berhenti mengikutinya, kita akan dipaksa, seperti yang dikatakan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin, untuk menanggapi dengan baik," tambahnya.

Tuduhan AS semakin membuat hubungan dengan Moskow menegang dan Washingtong, serta Departemen Luar Negeri mengisyaratkan kemungkinan sanksi ekonomi atas masalah tersebut.

Washington telah memberi sanksi kepada entitas dan individu Rusia, termasuk orang-orang yang dekat dengan Putin, atas aneksasi Moskow terhadap Crimea dari Ukraina pada tahun 2016 dan dugaan adanya campur tangan dalam pemilihan presiden AS pada 2016. Kremlin telah berulang kali menolak tuduhan mencampuri pemilu AS.

"Upaya untuk menakut-nakuti kita dengan sanksi sangat menggelikan," ujar Ryabkov.

"Sudah waktunya bagi politisi dan diplomat Amerika untuk memahami bahwa tekanan ekonomi dan militer terhadap Rusia tidak akan berjalan baik," tegasnya.
(ian)
Berita Terkait
Hubungan Amerika Serikat...
Hubungan Amerika Serikat dan Ukraina Dikabarkan Retak
Fakta Perang Hibrida...
Fakta Perang Hibrida Amerika Serikat-Rusia
Perbandingan Wagner...
Perbandingan Wagner Rusia dan Blackwater Amerika Serikat
Pejabat Rusia yang Dilarang...
Pejabat Rusia yang Dilarang Masuk ke Amerika Serikat
Amerika Serikat: Iran...
Amerika Serikat: Iran Sekarang Beking Militer Utama Rusia
Campur Tangan Amerika...
Campur Tangan Amerika Serikat dalam Perang Rusia-Ukraina
Berita Terkini
Sistem Pertahanan Udara...
Sistem Pertahanan Udara Sudah Diaktifkan, tapi Belum Ada Serangan AS ke Teheran
22 menit yang lalu
CIA Akui Agresi AS ke...
CIA Akui Agresi AS ke Iran Gagal Total, Ini 4 Indikatornya
1 jam yang lalu
Terowongan Runtuh Akibat...
Terowongan Runtuh Akibat Ledakan Pipa Gas di India, 12 Orang Tewas
2 jam yang lalu
Presiden Zelensky Pecat...
Presiden Zelensky Pecat Panglima Militer Ukraina, Rusia Untung Besar!
3 jam yang lalu
Trump akan Bicara dengan...
Trump akan Bicara dengan Hizbullah jika Presiden Lebanon Mau
4 jam yang lalu
Menlu Rubio Ungkap AS...
Menlu Rubio Ungkap AS Masih Bersedia Negosiasi dengan Iran
5 jam yang lalu
Infografis
5 Rudal Paling Mematikan...
5 Rudal Paling Mematikan di Dunia, Satan II Rusia Bisa Hancurkan Banyak Kota Sekaligus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved