Militer Myanmar Bantah Aksi Kekejaman terhadap Rohingya

Selasa, 14 November 2017 - 13:36 WIB
Militer Myanmar Bantah...
Militer Myanmar Bantah Aksi Kekejaman terhadap Rohingya
A A A
YANGON - Militer Myanmar merilis sebuah laporan yang menolak semua tuduhan pemerkosaan dan pembunuhan oleh pasukan keamanan. Aksi kekerasan tentara Myanmar ini telah menyebabkan lebih dari 600 ribu Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh.

Pejabat senior PBB, yang telah mengunjungi kamp-kamp pengungsi di Bangladesh, pada hari Minggu menuduh militer Myanmar melakukan pemerkosaan massal terorganisir dan kejahatan lainnya terhadap kemanusiaan.

Militer Myanmar mengatakan penyelidikan internalnya sendiri telah membebaskan pasukan keamanan dari semua tuduhan kekejaman. Temuan para peneliti tersebut dimuat di halaman Facebook kepala komandan militer, Jenderal Senior Min Aung Hlaing.

Penyelidikan internal militer Myanmar mengatakan bahwa menurut 2.817 orang yang diwawancarai dari 54 desa Rohingya, tentara tidak menembak penduduk desa yang tidak bersalah, memperkosa atau melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan.

"Juga tidak ada pembunuhan atau pemukulan terhadap penduduk desa, dan aparat keamanan tidak melakukan penjarahan atau membakar masjid Rohingya," bunyi laporan tersebut seperti dikutip dari Reuters, Selasa (14/11/2017).

Laporan tersebut juga menyimpulkan bahwa pasukan keamanan hanya menggunakan senjata ringan dalam bentrokan dengan militan Rohingya dan tidak ada temuan yang menyatakan penggunaan kekuatan yang berlebihan.

Laporan ini juga menyalahkan militan karena membakar desa dan menakut-nakuti dan memaksa orang untuk meninggalkan rumah mereka.

Myanmar menolak masuk ke panel PBB yang ditugaskan untuk menyelidiki tuduhan pelanggaran setelah serangan militer yang lebih kecil diluncurkan pada bulan Oktober 2016.

Myanmar saat ini masih berada dalam tahap awal transisi yang rapuh menuju demokrasi setelah dikuasai junta militer selama 49 tahun. Sejumlah jenderal masih mempertahankan posisi mereka dalam masalah pertahanan, keamanan, dan perbatasan berdasarkan konstitusi tahun 2008. Tiga jenderal adalah anggota kabinet.

Suu Kyi mengatakan bahwa setiap dugaan kekejaman harus dibuktikan dan diselidiki, sementara pemerintahnya bekerja untuk menstabilkan Rakhine agar Muslim Rohingya bisa kembali.

Untuk saat ini, meskipun, aliran warga Rohingya yang kembali masih kecil. Komite Penyelamatan Internasional, sebuah badan bantuan yang berbasis di New York, memperkirakan bahwa sekitar dua pertiga dari sekitar 300.000 orang Rohingya yang tersisa di Myanmar dapat melewati perbatasan dalam beberapa bulan mendatang.

Perkembangan tersebut terjadi jelang kunjungan Sekretaris Negara Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson pada Rabu esok. Dia diharapkan menyampaikan pesan tegas kepada jenderal-jenderal Myanmar, yang pemimpin nasionalnya Aung San Suu Kyi memiliki sedikit kontrol.
(ian)
Berita Terkait
Negara Kecil Ini Ingin...
Negara Kecil Ini Ingin Myanmar Dihukum atas Genosida Etnis Muslim Rohingya
Sebut Tentaranya Diancam,...
Sebut Tentaranya Diancam, Myanmar Bantah Pengakuan Kekejaman Rohingya
Pengakuan Tentara Myanmar...
Pengakuan Tentara Myanmar Soal Pembantaian Rohingya: Bunuh Mereka Semua
Pendekatan Rasional...
Pendekatan Rasional terhadap Krisis Rohingya
Agama Warga Negara Bagian...
Agama Warga Negara Bagian Rakhine Myanmar dan Persentasenya
1.600 Rohingya Dipindah...
1.600 Rohingya Dipindah ke Pulau Terpencil, Ada yang Mengaku Dipaksa
Berita Terkini
Hanya Karena Dukung...
Hanya Karena Dukung Iran, Presenter TV Cantik Kuwait Ini Dijatuhi Hukuman Penjara
10 menit yang lalu
Negara Anggota NATO...
Negara Anggota NATO Ini Mengalami Kemandulan Kemampuan Militer Terburuk
1 jam yang lalu
Kim Jong-un Perintahkan...
Kim Jong-un Perintahkan AL Korut Produksi Kapal Perusak dan Senjata Bawah Air Rahasia
2 jam yang lalu
Mojtaba Khamenei Murka!...
Mojtaba Khamenei Murka! Kuwait dan Bahrain Dihujani Drone dan Rudal Iran
3 jam yang lalu
Putin: Serangan Rudal...
Putin: Serangan Rudal Hipersonik Oreshnik Rusia terhadap Ukraina Hanya Tes, Belum Skala Penuh
4 jam yang lalu
Ini Daftar Negara yang...
Ini Daftar Negara yang Hukum Mati dan Rampas Aset Koruptor, Bagaimana dengan Indonesia?
4 jam yang lalu
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved