Inggris Merasa Ditipu AS dalam Invasi Irak

Minggu, 05 November 2017 - 16:03 WIB
Inggris Merasa Ditipu...
Inggris Merasa Ditipu AS dalam Invasi Irak
A A A
LONDON - Mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, telah ditipu oleh koleganya mantan Presiden Amerika Serikat George Bush untuk mendukung perang Irak. Hal itu diungkapkan oleh mantan Menteri Keuangan Inggris di era Tony Blair, Gordon Brown.

Brown mengatakan bahwa AS gagal untuk memperlihatkan sebuah laporan yang menunjukkan tidak ada bukti bahwa Saddam Hussein memiliki akses ke senjata pemusnah massal.

Laporan rahasia tersebut juga secara fatal mengacaukan apa yang disebuy sebagai "berkas cerdik" Inggris yang mengklaim bahwa Irak dapat meluncurkan serangan biologis ke Inggris dalam waktu 45 menit.

"Kami semua disesatkan oleh keberadaan WMD (senjata pemusnah massal," tulis Brown di buku barunya, My Life, Our Times, yang diterbitkan pada hari Selasa.

"Mengingat Irak tidak memiliki senjata kimia, biologi atau nuklir yang dapat digunakan, yang bisa digunakan dan tidak akan menyerang koalisi, maka dua tes untuk sebuah perang tidak terpenuhi. Perang tidak bisa dibenarkan sebagai upaya terakhir dan invasi sekarang tidak dapat dilihat sebagai respon yang proporsional," jelas Brown seperti dikutip dari Telegraph, Minggu (5/11/2017).

Pemerintahan Bush menaruh keraguan tentang Brown. Pada bulan Agustus 2010 Sunday Telegraph mengungkapkan bahwa Tony Blair didesak oleh Washington untuk memperpanjang waktunya di kantor daripada menyerahkan kendali kepada Gordon Brown.

Banyak aktivis Buruh tidak senang dengan tidak hanya partisipasi Inggris dalam perang Irak, yang menghilangkan 33 nyawa tentara Inggris, tapi juga kedekatan Blair dengan Bush.

"Dalam bulan-bulan sebelum perang, saya tidak tahu bahwa pengambil keputusan utama di Amerika sudah menyadari bahwa bukti keberadaan WMD lemah, bahkan dapat diabaikan dan di bidang-bidang utama yang tidak ada," Brown telah menulis dalam bukunya yang baru.

"Sungguh mengherankan bahwa tak seorang pun dari kita di Pemerintah Inggris pernah melihat laporan Amerika ini," sambungnya.

"Seperti yang kemudian kami temukan, intelijen belum pasti diragukan bahwa Saddam terus menghasilkan senjata kimia dan biologi atau upaya pengembangan senjata nuklir berlanjut," tukasnya.

Investigasi selama tujuh tahun atas keterlibatan Inggris dalam Perang Irak menemukan Saddam Hussein tidak sedang dalam posisi segera memberikan ancaman saat AS dan Inggris menyerang.

Laporan Chilcot juga menyimpulkan bahwa laporan intelijen yang "cacat" telah memulai perang.
(ian)
Berita Terkait
Negara yang Pernah Diinvasi...
Negara yang Pernah Diinvasi Amerika Serikat
Tony Blair Berulang...
Tony Blair Berulang Kali Diberitahu Menginvasi Irak Ilegal tapi Tetap Memerintahkannya
Momen 20 Tahun AS Invasi...
Momen 20 Tahun AS Invasi Irak: Hoaks Senjata Pemusnah Massal dan Amerika Kebal Hukum
350.000 Orang Tandatangani...
350.000 Orang Tandatangani Petisi Tolak Gelar Ksatria Inggris Tony Blair
Serangan Iran Berupaya...
Serangan Iran Berupaya Memaksa Pasukan AS Meninggalkan Irak Utara
Amerika Serikat Kembalikan...
Amerika Serikat Kembalikan 17.000 Artefak Kuno yang Dijarah ke Irak
Berita Terkini
Tak Ingin Terus Jadi...
Tak Ingin Terus Jadi Target Rudal Iran, UEA Bayar Rp53 Triliun ke Teheran
36 menit yang lalu
Dunia Segara Akan Dengar...
Dunia Segara Akan Dengar Gema Kemenangan Iran
1 jam yang lalu
Hamas Peringatkan Israel...
Hamas Peringatkan Israel Perluas Garis Kuning Gaza untuk Gagalkan Perundingan Gencatan Senjata
2 jam yang lalu
Trump Cari Jalan Keluar...
Trump Cari Jalan Keluar Secepatnya untuk Hindari Dampak Politik dan Ekonomi Perang Iran
3 jam yang lalu
2 Pemain Sepak Bola...
2 Pemain Sepak Bola Brasil Masuk Daftar Pembunuhan oleh Situs Ukraina
4 jam yang lalu
Presiden Asosiasi Sepak...
Presiden Asosiasi Sepak Bola Palestina Kecam AS Tunda Visa untuk Acara Piala Dunia
5 jam yang lalu
Infografis
AS Kerahkan 15.000 Prajurit...
AS Kerahkan 15.000 Prajurit dan 100 Jet Tempur Amankan Selat Hormuz
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved