AS Minta Penyelidikan Senjata Kimia Suriah Diperpanjang

Jum'at, 03 November 2017 - 11:20 WIB
AS Minta Penyelidikan...
AS Minta Penyelidikan Senjata Kimia Suriah Diperpanjang
A A A
NEW YORK - Amerika Serikat (AS) telah mengedarkan draft resolusi Dewan Keamanan PBB untuk memperpanjang penyelidikan serangan senjata kimia oleh rezim Suriah. Pada pekan lalu upaya itu kandas setelah Rusia memvetonya.

Dalam draftnya, AS mengatakan Suriah tidak boleh mengembangkan atau memproduksi senjata kimia. Negara adikuasa itu juga menyerukan kepada semua pihak di Suriah untuk memberikan kerja sama penuh dengan penyelidik internasional seperti dilansir dari Reuters, Jumat (3/11/2017).

Penyelidikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia, yang dikenal sebagai Joint Investigative Mechanism (JIM), dibuat dengan suara bulat oleh 15 anggota Dewan Keamanan pada tahun 2015 dan diperbaharui pada tahun 2016. Mandatnya akan berakhir pada pertengahan November.

JIM menemukan bahwa pemerintah Suriah Bashar al-Assad harus dipersalahkan atas serangan kimia di kota Khan Sheikhoun yang menewaskan puluhan orang pada bulan April. Hal itu menurut sebuah laporan yang dikirim ke Dewan Keamanan pada 26 Oktober lalu.

Baca juga:
Panel PBB Sebut Pasukan Assad Dalang Serangan Gas Sarin


Dua hari sebelumnya, Rusia memveto perpanjangan mandat JIM setelah tidak berhasil membuat Dewan Keamanan menunda pemungutan suara itu. Dubes Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia mengatakan, Moskow ingin membahas laporan Khan Sheikhoun sebelum pemungutan suara.

Rusia, yang angkatan udara dan pasukan khususnya telah mendukung tentara Suriah, mengatakan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Damaskus bertanggung jawab atas serangan tersebut. Moskow berpendapat bahwa bahan kimia yang membunuh penduduk sipil adalah milik pemberontak, bukan pemerintahan Assad.

Pada hari Rabu, AS menegur Rusia atas hak veto tersebut.

"Upaya Rusia untuk melemahkan dan menghilangkan JIM menunjukkan ketidakpedulian terhadap penderitaan dan hilangnya nyawa yang disebabkan oleh penggunaan senjata kimia dan kurangnya penghargaan terhadap norma-norma internasional," kata Gedung Putih dalam sebuah pernyataan.

Pernyataan ini ditanggapi oleh Kementerian Luar Negeri Rusia. "Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan kepada Sekretaris Negara AS Rex Tillerson melalui telepon pada hari Kamis bahwa pihaknya tidak dapat melakukan politisasi atas pekerjaan inspektur senjata kimia di Suriah," kata kementerian luar negeri Rusia.

Sebuah resolusi rancangan Rusia menyerukan perpanjangan penyelidikan enam bulan, dengan kemungkinan perpanjangan lebih lanjut. Rusia juga meminta penyidik antara lain
(ian)
Berita Terkait
Amerika Serikat Dituduh...
Amerika Serikat Dituduh sebagai Pencuri Minyak Suriah, Benarkah?
2 Kelompok Pemberontak...
2 Kelompok Pemberontak Suriah yang Didanai Amerika Serikat, Benarkah Dibuat untuk Perdamaian?
Suriah Diterima Kembali...
Suriah Diterima Kembali ke Liga Arab, Amerika Serikat Kesal
Apakah Amerika Serikat...
Apakah Amerika Serikat Danai Pemberontak Suriah Gulingkan Assad? Ini Jawabannya
Rudal Hantam Pangkalan...
Rudal Hantam Pangkalan Militer Amerika Serikat di Suriah
Amerika Serikat Tuduh...
Amerika Serikat Tuduh Rusia Mengacau Kawasan Mediterania
Berita Terkini
Sistem Pertahanan Udara...
Sistem Pertahanan Udara Sudah Diaktifkan, tapi Belum Ada Serangan AS ke Teheran
30 menit yang lalu
CIA Akui Agresi AS ke...
CIA Akui Agresi AS ke Iran Gagal Total, Ini 4 Indikatornya
1 jam yang lalu
Terowongan Runtuh Akibat...
Terowongan Runtuh Akibat Ledakan Pipa Gas di India, 12 Orang Tewas
2 jam yang lalu
Presiden Zelensky Pecat...
Presiden Zelensky Pecat Panglima Militer Ukraina, Rusia Untung Besar!
3 jam yang lalu
Trump akan Bicara dengan...
Trump akan Bicara dengan Hizbullah jika Presiden Lebanon Mau
4 jam yang lalu
Menlu Rubio Ungkap AS...
Menlu Rubio Ungkap AS Masih Bersedia Negosiasi dengan Iran
5 jam yang lalu
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved