Bantu Rohingya, Kapal Penyelamat Mediterania Menuju Myanmar

Selasa, 05 September 2017 - 10:39 WIB
Bantu Rohingya, Kapal...
Bantu Rohingya, Kapal Penyelamat Mediterania Menuju Myanmar
A A A
VALETTA - Sebuah organisasi penyelamat migran internasional menyatakan memindahkan operasinya ke Asia untuk membantu orang-orang Rohingya. Organisasi ini mengatakan telah menyelamatkan lebih dari 40 ribu migran dari Laut Tengah.

Migran Offshore Aid Station (MOAS) memindahkan operasi penyelamatannya dari Malta ke perairan lepas Myanmar. Organisasi ini telah beroperasi di wilayah itu untuk menyelamatkan migran sejak tahun 2014.

Keputusan tersebut muncul saat jumlah etnis Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh mencapai 87.000, menurut perkiraan PBB. Namun, hal itu juga dilakukan di tengah iklim yang tidak jelas di Libya.

Organisasi tersebut khawatir bahwa tekanan Eropa untuk menghentikan migran meninggalkan Libya karena mencoba untuk menstabilkan negara itu justru membahayakan nyawa orang-orang. Kondisi ini menjadi semakin tidak jelas jika mereka yang diselamatkan dapat ditinggalkan di tempat yang aman.

"Saat ini, ada banyak pertanyaan tanpa jawaban, dan terlalu banyak keraguan tentang orang-orang yang terjebak atau dipaksa kembali ke Libya," ujar Pendiri, MOAS Regina Catrambone.

"Cerita mengerikan tentang mereka yang bertahan hidup menggambarkan mimpi buruk penganiayaan, kekerasan, penyiksaan, penculikan dan pemerasan," katanya.

"MOAS tidak ingin menjadi bagian dari skenario di mana tidak ada yang memperhatikan orang-orang yang layak mendapat perlindungan, alih-alih hanya berfokus untuk mencegah mereka tiba di pantai Eropa tanpa pertimbangan nasib mereka saat terjebak di sisi lain lautan," cetusnya seperti dikutip dari BBC, Selasa (5/9/2017).

Namun Catrambone dan MOAS mengatakan bahwa mereka tidak ingin membiarkan apa yang telah mereka bangun selama tiga tahun menjadi sia-sia. Oleh karena itulah mereka memutuskan untuk memindahkan kendaraan andalan mereka, Phoenix, ribuan mil ke timur untuk misi berikutnya.

Kapal tersebut diperkirakan akan memakan waktu sekitar tiga minggu untuk sampai di Teluk Benggala.

"Kapal tersebut akan memberikan bantuan kemanusiaan dan bantuan yang sangat dibutuhkan kepada orang-orang Rohingya, dan akan bekerja untuk menyediakan platform untuk transparansi, advokasi dan akuntabilitas di wilayah ini," kata organisasi itu.

Rohingya adalah minoritas etnis tanpa kewarganegaraan yang menghadapi penganiayaan di Myanmar. Banyak dari mereka yang telah melarikan diri menggambarkan tentara dan massa Budha yang membakar desa mereka serta menyerang warga sipil di provinsi Rakhine.

Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menggambarkan mereka sebagai orang yang paling teraniaya di bumi, dengan Paus Fransiskus menyerukan diakhirinya kekerasan pada tanggal 27 Agustus lalu.
(ian)
Berita Terkait
Negara Kecil Ini Ingin...
Negara Kecil Ini Ingin Myanmar Dihukum atas Genosida Etnis Muslim Rohingya
Sebut Tentaranya Diancam,...
Sebut Tentaranya Diancam, Myanmar Bantah Pengakuan Kekejaman Rohingya
Pengakuan Tentara Myanmar...
Pengakuan Tentara Myanmar Soal Pembantaian Rohingya: Bunuh Mereka Semua
Pendekatan Rasional...
Pendekatan Rasional terhadap Krisis Rohingya
Agama Warga Negara Bagian...
Agama Warga Negara Bagian Rakhine Myanmar dan Persentasenya
Myanmar: Sebagian Besar...
Myanmar: Sebagian Besar TPS di Rakhine Tutup pada Pemilu November
Berita Terkini
Hanya Karena Dukung...
Hanya Karena Dukung Iran, Presenter TV Cantik Kuwait Ini Dijatuhi Hukuman Penjara
1 jam yang lalu
Negara Anggota NATO...
Negara Anggota NATO Ini Mengalami Kemandulan Kemampuan Militer Terburuk
1 jam yang lalu
Kim Jong-un Perintahkan...
Kim Jong-un Perintahkan AL Korut Produksi Kapal Perusak dan Senjata Bawah Air Rahasia
2 jam yang lalu
Mojtaba Khamenei Murka!...
Mojtaba Khamenei Murka! Kuwait dan Bahrain Dihujani Drone dan Rudal Iran
4 jam yang lalu
Putin: Serangan Rudal...
Putin: Serangan Rudal Hipersonik Oreshnik Rusia terhadap Ukraina Hanya Tes, Belum Skala Penuh
4 jam yang lalu
Ini Daftar Negara yang...
Ini Daftar Negara yang Hukum Mati dan Rampas Aset Koruptor, Bagaimana dengan Indonesia?
5 jam yang lalu
Infografis
9 Keunggulan Kapal Selam...
9 Keunggulan Kapal Selam Mini Iran yang Membuat Kapal Induk AS Menjauh
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved