Malaysia Luncurkan Penyelidikan Terhadap Kelompok Ateis Internasional

Selasa, 08 Agustus 2017 - 09:42 WIB
Malaysia Luncurkan Penyelidikan...
Malaysia Luncurkan Penyelidikan Terhadap Kelompok Ateis Internasional
A A A
KUALA LUMPUR - Pemerintah Malaysia tengah menyelidiki kelompok ateis internasional. Langkah itu dilakukan setelah sebuah foto pertemuan yang diadakan oleh kelompok itu Kuala Lumpur viral di dunia maya.

Atheist Republic, sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di Kanada, sering mengadakan pertemuan di kota-kota besar. Minggu lalu, kelompok ini memasang foto di laman Facebooknya orang-orang yang menghadiri pertemuan tahunan Konservatori Atheist Republic di Kuala Lumpur.

Foto tersebut menunjukkan sebuah ruangan yang penuh dengan orang-orang yang tersenyum dengan tangan mereka terangkat ke udara. Banyak dari mereka membuat simbol dari jari.

"Ateis dari semua lapisan masyarakat bertemu satu sama lain, beberapa untuk pertama kalinya...masing-masing berbagi cerita dan membentuk persahabatan baru yang semoga bertahan seumur hidup! We Rock!," sambungan keteragan dalam foto itu.

Beberapa orang mengklaim bahwa sejumlah orang-orang Muslim yang murtad ikut menjadi anggota dari kelompok ateis internasional itu dan memicu kegemparan di kalangan umat Islam Negeri Jiran. Anggota kelompok ateis dilaporkan telah menerima ancaman pembunuhan di media sosial.

Hal ini memicu penyelidikan yang dilakukan oleh Departemen Agama Islam Wilayah Federal Malaysia untuk mengetahui apakah ada umat Muslim yang terlibat dalam pertemuan tersebut.

Malaysia memiliki undang-undang yang mengatur tentang agama Islam untuk secara resmi melepaskan keimanan mereka, dan mereka akan didenda, dipenjara atau dikirim untuk konseling.

"Jika terbukti bahwa ada orang-orang Muslim yang terlibat dalam aktivitas ateis yang dapat mempengaruhi keimanan mereka, departemen keagamaan Islam atau Jawi dapat mengambil tindakan," kata Dr Asyraf Wajdi Dusuki, Wakil Menteri Negara yang mengawasi urusan agama.

"Saya meminta Jawi untuk melihat tuduhan ini secara serius," imbuhnya, seperti disitir dari Independent, Selasa (8/8/2017).

Wajdi mengatakan bahwa pemerintah akan menentukan apakah ada umat Islam yang hadir pada pertemuan ateis itu dan jika mereka terlibat dalam menyebarkan ateisme, dia mengatakan dapat membahayakan aqidah umat Islam.

"Kita perlu menggunakan pendekatan yang lunak dengan mereka yang murtad. Mungkin mereka tidak tahu tentang Islam yang sebenarnya, jadi kita perlu melibatkan mereka dan mendidik mereka mengenai ajaran yang benar," jelasnya.

Dia mengatakan bahwa seorang mantan Muslim yang ditemukan sebagai bagian dari pertemuan ateis akan diberi konseling, sementara jika ditemukan anggota kelompok ateis yang ingin menyebar luaskan ajarannya dapat dituntut.
(ian)
Berita Terkait
Berlakukan Lockdown,...
Berlakukan Lockdown, Begini Kondisi Terkini Malaysia
Perayaan HUT Malaysia...
Perayaan HUT Malaysia ke-65
Penampakan Banjir Parah...
Penampakan Banjir Parah yang Merendam Apartemen dan Rumah di Selangor Malaysia
Anwar Ibrahim, Dilantik...
Anwar Ibrahim, Dilantik sebagai Perdana Menteri Malaysia
Polri Cek Akun Penghina...
Polri Cek Akun Penghina Raja Malaysia
Peringatan Hari Polis...
Peringatan Hari Polis Diraja Malaysia
Berita Terkini
China Rilis Video Latihan...
China Rilis Video Latihan Militer Pengepungan Taiwan, Tampilkan Pulau Terbakar
36 menit yang lalu
Rusia Tuding Zelensky...
Rusia Tuding Zelensky Mainkan Permainan Berbahaya dengan Trump
1 jam yang lalu
Hongaria Mundur dari...
Hongaria Mundur dari ICC saat Kunjungan Buronan Penjahat Perang Netanyahu
2 jam yang lalu
Batu Ini Jadi Pengganjal...
Batu Ini Jadi Pengganjal Pintu selama Puluhan Tahun, Ternyata Nilainya Rp18 Miliar
3 jam yang lalu
Kocak! Trump Terapkan...
Kocak! Trump Terapkan Tarif di Kepulauan Tak Dihuni Manusia, Hanya Ada Anjing Laut dan Penguin
4 jam yang lalu
AS Bimbang, Ini 3 Negara...
AS Bimbang, Ini 3 Negara NATO yang Masih Menghalangi Kemenangan Rusia di Ukraina
5 jam yang lalu
Infografis
Kekerasan Seksual terhadap...
Kekerasan Seksual terhadap Perempuan Korut Memprihatinkan
Copyright ©2025 SINDOnews.com All Rights Reserved