Temui Putin, Duterte Merapat ke Rusia

Selasa, 23 Mei 2017 - 23:00 WIB
Temui Putin, Duterte...
Temui Putin, Duterte Merapat ke Rusia
A A A
MANILA - Presiden Filipina Rodrigo Duterte kemarin pergi ke Rusia untuk bertemu idolanya, Presiden Vladimir Putin. Duterte juga ingin menegaskan sikap Manila untuk membangun kedekatan dengan Moskow. Duterte ingin membangun kebijakan luar negeri yang tidak tergantung dengan Amerika Serikat (AS), terutama dalam bidang militer.

Dia ingin melangkah lebih luas dengan menggandeng dan mendekati Rusia. Moskow membuka tangan dengan mengajak Manila untuk bekerja sama lebih erat. Kunjungan Duterte selama lima hari di Rusia akan meningkatkan hubungan baik dengan Rusia sejak dia berkuasa pada akhir tahun lalu.

”Rusia harus selalu hadir dalam setiap margin diplomasi Filipina. Ketergantungan kita terhadap mitra tradisional telah membatasi ruang kita untuk bermanuver dalam arena internasional yang dinamis,” kata Duterte sebelum berangkat ke Rusia. ”Itu akan menjadi pandangan strategi yang mengakibatkan banyak kehilangan kesempatan bagi negara kita.

Saya ingin memperbaiki itu,” tutur dia. Lawatan ke Moskow akan menjadi hal yang sangat personal bagi Duterte. Bagi Duterte, Putin adalah ”pahlawan favoritnya”. Duterte mengklaim ikatan antara dua pemimpin itu adalah hobi yang sama yakni senjata dan berburu. Mereka berdua akan bertemu di Moskow pada Kamis (25/5).

Duterte mengatakan kunjungannya ke Rusia akan membuka babak baru dalam hubungan dua negara. ”Rusia memiliki kepentingan strategi di kawasan Asia-Pasifik sehingga perlu kerja sama dua negara,” kata Duterte. Selanjutnya, kata dia, Filipina juga harus memperluas pandangan persahabatan dengan dunia luar.

Sejak Presiden Duterte ingin membangun aliansi yang kuat dengan China dan Rusia dan menjauhi AS, Filipina sebagai negara yang memiliki posisi tawar. Apalagi dia juga membatalkan sejumlah latihan militer bersama AS. Dia juga melarang pasukan Filipina untuk ikut dalam patroli bersama di kepulauan sengketa Laut China Selatan.

Hebatnya, dia meminta pasukan AS ditarik penuh dari Filipina. Duterte dan Putin pertama kali bertemu secara langsung dalam Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pasifik di Peru pada November lalu. Setelah itu dua kapal perang Rusia berkunjung ke Manila.

”Jika Rusia bersama saya. Saya tak pernah khawatir,” kata Duterte saat berkunjung ke kapal perang Rusia, Varyag, di pelabuhan Manila bulan lalu. Pekan lalu Duterte mengungkapkan prioritas utama kunjungan ke Rusia adalah mengamankan pembelian bom.

Dia sebelumnya berharap militer Filipina ingin segera mendapatkan senjata dari Rusia. Menurut juru bicara Departemen Luar Negeri Rusia Maria Natividad, kunjungan Duterte atas undangan langsung dari Putin. ”Lawatan ini mengirimkan pesan kuat bahwa komitmen Filipina untuk mencari kemitraan baru dan memperkuat hubungan dengan mitra nontradisional seperti Rusia,” ujar dia, dilansir CNN.

Kunjungan ke Moskow dan St Petersburg, menurut Natividad, menandangi pertama kalinya Duterte akan memulai babak baru hubungan dua negara. Duterte akan bertemu Perdana Menteri (PM) Rusia Dmitry Medvedev. Dia juga berpidato di Moscow State Institute of International Relations (MGIMO) berbicara mengenai independensi hubungan luar negeri Filipina.

Selanjutnya, Duterte akan bertemu Presiden Vladimir Putin. Hubungan diplomatik Filipina dan Rusia telah terbangun selama 41 tahun. Tapi, diplomasi dua negara sangat lemah sebelum terpilih Duterte sebagai presiden. Perdagangan antara Manila dan Moskow sangatlah rendah hanya USD226 juta pada 2016. Sedangkan perdagangan antara ASFilipina mencapai USD18 miliar.

Dengan kunjungan Duterte ke Rusia kali ini, hubungan dagang dua negara diharapkan akan meningkat. Apalagi, berbagai kesepakatan seperti pertahanan, keamanan, hukum, pariwisata, energi nuklir, hingga pertukaran budaya juga disepakati dalam kunjungan tersebut.

Menggertak AS


Menurut pakar politik Javad Heydarian, kunjungan Duterte ke Moskow merupakan kemenangan bagi Putin dan kudeta halus untuk Rusia. ”Itu akan menjadi jalan untuk mengejek AS,” ucap dia. Kemudian dalam pandangan Joshua Kurlantzick, peneliti Asia Tenggara di Council on Foreign Relation, Duterte memang memiliki sejarah anti-Amerikanisasi yang kompleks dan lama.

”Saya menyarankan agar Duterte juga berkunjung ke Washington,” ujar dia. Presiden AS Donald Trump sudah mengundang Duterte untuk berbicara dengan ramah dan bersahabat di Gedung Putih. Dalam wawancara dengan Russia Today , Larisa Yefimova dari Moscow State Institute of International Relations menggambarkan Duterte sebagai orang yang tidak memiliki keterikatan dengan elite tradisional yang dididik AS dan memiliki semangat AS.

”Duterte merupakan pemimpin yang ingin mewujudkan Filipina sebagai negara berdaulat,” kata dia. Sebelumnya juru bicara Departemen Luar Negeri AS John Kirby mengungkapkan, kerja sama Rusia-Filipina itu tidak akan berdampak terhadap hubungan bilateral dengan Manila. ”Hubungan militer kita tetap kuat. Itu yang kita lihat,” kata dia.

Kirby mengungkapkan, kerja sama luar negeri bukan hal yang bersifat ganda dan dua entitas semata. Dia melihat kerja sama Rusia dan Filipina dalam tataran bilateral. ”Setiap negara memiliki hak untuk melaksanakan hubungan bilateral,” ucap dia. Sebelumnya, Oktober2016, Duterte pernah mengatakan akan memutuskan aliansi dengan AS.

”Di tempat ini saya mengumumkan perpisahan dengan AS,” kata Duterte dalam pertemuan dengan para pengusaha China. Pernyataan itu langsung disambut tepuk tangan hangat. Duterte juga kembali menyatakan AS telah kalah. ”Saya bukan boneka AS,” tegas Duterte. Pada kesempatan tersebut, Duterte mengatakan ingin membentuk aliansi dengan China dan Rusia.

Bukan hanya bersitegang dengan AS, negara-negara Uni Eropa (UE) juga berkonflik dengan Filipina karena mereka mengkritik kebijakan pembunuhan ribuan bandar narkoba. Sebagai pembalasan, Filipina juga menolak bantuan USD278 juta karena memiliki syarat untuk meningkatkan hak asasi manusia (HAM).

”Kita tidak menerima bantuan dengan syarat,” kata Menteri Luar Negeri Filipina Alan Peter Cayetano. ”Kita percaya dengan kemerdekaan kita. Kita tahu permasalahan kita lebih baik dibandingkan kalian (Eropa),” ungkap dia.
(esn)
Berita Terkait
Diskusi Peta dan Kemunculan...
Diskusi Peta dan Kemunculan Bangsa Filipina dengan Pembicara Sejarawan Ternama
Filipina Beli Rudal...
Filipina Beli Rudal Jelajah Supersonik BrahMos India Rp5,3 Triliun
5 Presiden di Dunia...
5 Presiden di Dunia yang Jomblo, Nomor 2 Alasannya Tak Lazim
Tetangga Indonesia Ini...
Tetangga Indonesia Ini Memihak AS Jika Konflik dengan Rusia Meluas ke Asia
Rusia Ungkap AS Rekrut...
Rusia Ungkap AS Rekrut Tentara Bayaran untuk Ukraina di Filipina
Perjuangkan Kebebasan...
Perjuangkan Kebebasan Berekspresi, Jurnalis Rusia dan Filipina Raih Nobel Perdamaian
Berita Terkini
Drone Hizbullah Hantam...
Drone Hizbullah Hantam Kendaraan Kepala Komando Utara IDF di Lebanon Selatan
20 menit yang lalu
Pemimpin Tertinggi Iran...
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Peringatkan Perpecahan setelah Kekalahan Musuh di Medan Perang
1 jam yang lalu
Pesawat Nirawak Ukraina...
Pesawat Nirawak Ukraina Serang Crimea, 4 Orang Tewas, 10 Luka
2 jam yang lalu
706 Paus dan Lumba-lumba...
706 Paus dan Lumba-lumba Dibantai, Laut Ini Berubah Jadi Perairan Darah
3 jam yang lalu
Rusia Ancam Armenia:...
Rusia Ancam Armenia: Tak Lagi Dipasok Minyak Murah Jika Nekat Gabung Uni Eropa!
4 jam yang lalu
AS Hendak Kerahkan Senjata...
AS Hendak Kerahkan Senjata Nuklir ke Lebih Banyak Negara NATO, Bisa Bikin Rusia Murka
5 jam yang lalu
Infografis
Daftar Juara Liga Indonesia...
Daftar Juara Liga Indonesia dari Masa ke Masa: Persib Ukir Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved