Solusi Dua Negara Harus Jadi Dasar Upaya Perdamaian Trump
Selasa, 16 Mei 2017 - 11:06 WIB
Solusi Dua Negara Harus Jadi Dasar Upaya Perdamaian Trump
A
A
A
WASHINGTON - Utusan Palestina untuk Amerika Serikat (AS), Husam Zomlot mengatakan, setiap dorongan perdamaian baru Israel-Palestina harus didasarkan pada solusi dua negara. Namun hingga saat ini, pemerintah AS belum memberikan rencana aktual untuk menghidupkan kembali negosiasi.
Menyambut janji Trump untuk mengejar apa yang disebut sebagai kesepakatan akhir, Zomlot bersikeras bahwa setiap kesepakatan akhir harus memenuhi aspirasi yang sah rakyat Palestina untuk sebuah negara sendiri. Hal itu dikatakannya beberapa hari jelang lawatan Presiden AS Donald Trump ke Timur Tengah.
"Cara terbaik untuk mewujudkan perdamaian adalah solusi dua negara," kata Zomlot dalam sebuah pidato di lembaga think tank Arab Center Washington D.C seperti dikutip dari Reuters, Selasa (16/5/2017)
Orang-orang Palestina, kata Zomlot, yakin akan keinginan Trump untuk membuat perdamaian namun mengakui bahwa pendekatannya tetap tidak jelas. Bagaimanapun, itu bisa menjadi positif jika Trump dapat "mengganggu" asumsi lama tentang proses perdamaian Timur Tengah yang telah gagal di masa lalu.
"Kami punya banyak rencana dan tidak berhasil. Jadi mungkin jika kita memulai tanpa rencana, itu bisa berhasil," katanya, menarik tawa dari penonton diplomat, wartawan dan ahli.
Warga Palestina kecewa ketika Trump gagal menyinggung solusi dua negara dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Gedung Putih pada tanggal 3 Mei. Mereka menginginkan sebuah negara yang didasarkan pada perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibukota mereka, sesuatu yang telah ditolak Netanyahu.
Trump mendapat kecaman internasional pada bulan Februari ketika, saat jumpa pers dengan Netanyahu, ia membawa kemunduran terkait komitmen AS terhadap negara Palestina. Kala itu ia mengatakan menyerahkannya kepada para pihak untuk diputuskan.
Negara merdeka bukan hanya aspirasi mayoritas rakyat Palestina namun juga merupakan tujuan pemerintahan AS selama berturut-turut serta masyarakat internasional.
Menyambut janji Trump untuk mengejar apa yang disebut sebagai kesepakatan akhir, Zomlot bersikeras bahwa setiap kesepakatan akhir harus memenuhi aspirasi yang sah rakyat Palestina untuk sebuah negara sendiri. Hal itu dikatakannya beberapa hari jelang lawatan Presiden AS Donald Trump ke Timur Tengah.
"Cara terbaik untuk mewujudkan perdamaian adalah solusi dua negara," kata Zomlot dalam sebuah pidato di lembaga think tank Arab Center Washington D.C seperti dikutip dari Reuters, Selasa (16/5/2017)
Orang-orang Palestina, kata Zomlot, yakin akan keinginan Trump untuk membuat perdamaian namun mengakui bahwa pendekatannya tetap tidak jelas. Bagaimanapun, itu bisa menjadi positif jika Trump dapat "mengganggu" asumsi lama tentang proses perdamaian Timur Tengah yang telah gagal di masa lalu.
"Kami punya banyak rencana dan tidak berhasil. Jadi mungkin jika kita memulai tanpa rencana, itu bisa berhasil," katanya, menarik tawa dari penonton diplomat, wartawan dan ahli.
Warga Palestina kecewa ketika Trump gagal menyinggung solusi dua negara dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Gedung Putih pada tanggal 3 Mei. Mereka menginginkan sebuah negara yang didasarkan pada perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibukota mereka, sesuatu yang telah ditolak Netanyahu.
Trump mendapat kecaman internasional pada bulan Februari ketika, saat jumpa pers dengan Netanyahu, ia membawa kemunduran terkait komitmen AS terhadap negara Palestina. Kala itu ia mengatakan menyerahkannya kepada para pihak untuk diputuskan.
Negara merdeka bukan hanya aspirasi mayoritas rakyat Palestina namun juga merupakan tujuan pemerintahan AS selama berturut-turut serta masyarakat internasional.
(ian)