China Dituding Mata-matai Australia Secara Ekstensif
Jum'at, 12 Mei 2017 - 16:50 WIB
China Dituding Mata-matai Australia Secara Ekstensif
A
A
A
CANBERRA - China dituding melakukan spionase secara ekstensif terhadap Australia. Tudingan ini disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Australia Dennis Richardson, Jumat (12/5/2017).
Tuduhan ini terbilang langka, mengingat Beijing merupakan mitra dagang terbesar Canberra.
Menurut Richardson, aparat China memang memata-matai Australia seperti spekulasi para analis semalam ini. Namun, para pejabat pemerintah di Canberra selalu menghindari keluhan publik terkait spionase Beijing.
”Bukan rahasia lagi bahwa China sangat aktif dalam kegiatan intelijen yang ditujukan untuk kita. Ini lebih dari sekadar (serangan) cyber,” kata Richardson, dalam sebuah pidato di Canberra.
Aksi spionase China di Australia dicurigai mulai terjadi pada tahun 2015, di mana perusahaan China yang memiliki hubungan dekat dengan militer menyewa sebuah pelabuhan komersial di Kota Darwin utara.
Kesepakatan soal penyewaan itu memicu reaksi balik atas implikasi keamanan Australia. Amerika Serika sebagai sekutu Australia bahkan sempat menegur Canberra.
Sejak saat itu, Australia memblokir beberapa tawaran infrastruktur penting yang dibuat oleh perusahaan China. Namun, alasan penolakan tawaran itu tak pernah diungkap ke publik.
Richardson mengatakan bahwa mata-mata China merupakan faktor utama dalam pengambilan keputusan pemerintah Beijing.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang mengaku belum tahu perihal komentar Richardson. Menurutnya, China lebih memilih untuk melihat para pejabat Australia bekerja meningkatkan kerja sama dengan Beijing.
”Kami berharap orang-orang yang relevan di pihak Australia dapat mengatakan lebih banyak hal yang dapat menguntungkan pengembangan hubungan China-Australia, berbuat lebih banyak untuk mendapatkan keuntungan dalam memperdalam kerja sama, dan tidak membuat komentar yang tidak bertanggung jawab,” kata Geng, seperti dikutip Reuters.
Tuduhan ini terbilang langka, mengingat Beijing merupakan mitra dagang terbesar Canberra.
Menurut Richardson, aparat China memang memata-matai Australia seperti spekulasi para analis semalam ini. Namun, para pejabat pemerintah di Canberra selalu menghindari keluhan publik terkait spionase Beijing.
”Bukan rahasia lagi bahwa China sangat aktif dalam kegiatan intelijen yang ditujukan untuk kita. Ini lebih dari sekadar (serangan) cyber,” kata Richardson, dalam sebuah pidato di Canberra.
Aksi spionase China di Australia dicurigai mulai terjadi pada tahun 2015, di mana perusahaan China yang memiliki hubungan dekat dengan militer menyewa sebuah pelabuhan komersial di Kota Darwin utara.
Kesepakatan soal penyewaan itu memicu reaksi balik atas implikasi keamanan Australia. Amerika Serika sebagai sekutu Australia bahkan sempat menegur Canberra.
Sejak saat itu, Australia memblokir beberapa tawaran infrastruktur penting yang dibuat oleh perusahaan China. Namun, alasan penolakan tawaran itu tak pernah diungkap ke publik.
Richardson mengatakan bahwa mata-mata China merupakan faktor utama dalam pengambilan keputusan pemerintah Beijing.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang mengaku belum tahu perihal komentar Richardson. Menurutnya, China lebih memilih untuk melihat para pejabat Australia bekerja meningkatkan kerja sama dengan Beijing.
”Kami berharap orang-orang yang relevan di pihak Australia dapat mengatakan lebih banyak hal yang dapat menguntungkan pengembangan hubungan China-Australia, berbuat lebih banyak untuk mendapatkan keuntungan dalam memperdalam kerja sama, dan tidak membuat komentar yang tidak bertanggung jawab,” kata Geng, seperti dikutip Reuters.
(mas)