China Peringatkan Situasi Semenanjung Korea Berada di Titik Kritis
Sabtu, 29 April 2017 - 01:42 WIB
China Peringatkan Situasi Semenanjung Korea Berada di Titik Kritis
A
A
A
NEW YORK - Menteri Luar Negeri (Menlu) China, Wang Yi memperingatkan bahwa situasi di Semenanjung Korea berada pada titik kritis. Ia pun mengatakan bahwa dialog dan negosiasi adalah satu-satunya cara praktis untuk mengakhiri ketegangan.
Wang Yi juga berjanji bahwa Beijing akan menerapkan sepenuhnya semua sanksi PBB terhadap Korea Utara (Korut). Negara berjuluk Negeri Tirai Bambu itu selama ini dikenal sebagai sekutu dekat Korut.
"Karena usaha baru-baru ini oleh DPRK (Korut) untuk mempercepat pengembangan rudal dan nuklir, China setuju dengan masyarakat internasional untuk meningkatkan upaya non-proliferasi," kata Wang Yi.
"Penyelesaian damai isu nuklir di Semenanjung Korea melalui dialog dan negosiasi merupakan satu-satunya pilihan tepat yang praktis dan layak," imbuhnya seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (29/4/2017).
Amerika Serikat (AS) telah mendesak China untuk menggunakan statusnya sebagai sekutu utama Korut untuk membantu mengendalikan Pyongyang.
Washington juga meningkatkan tekanan yang dimulai di bawah pemerintahan Obama terhadap Kamboja, Laos dan Malaysia, yang memiliki hubungan diplomatik dan keuangan dengan Pyongyang. Ketiga negara itu diminta untuk mengurangi atau memutus hubungan diplomatik dengan Korut.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kepada Reuters bahwa sebuah "perang besar" dengan Korut mungkin saja terjadi terkait program rudal nuklir dan balistiknya.
Pemerintahan Trump memfokuskan strategi terhadap Korut pada sanksi ekonomi yang lebih ketat, mungkin termasuk embargo minyak, larangan global terhadap maskapai penerbangannya, mencegat kapal kargo dan menghukum bank-bank China yang melakukan bisnis dengan Pyongyang, seperti dikatakan seorang pejabat AS kepada Reuters awal bulan ini.
Wang Yi juga berjanji bahwa Beijing akan menerapkan sepenuhnya semua sanksi PBB terhadap Korea Utara (Korut). Negara berjuluk Negeri Tirai Bambu itu selama ini dikenal sebagai sekutu dekat Korut.
"Karena usaha baru-baru ini oleh DPRK (Korut) untuk mempercepat pengembangan rudal dan nuklir, China setuju dengan masyarakat internasional untuk meningkatkan upaya non-proliferasi," kata Wang Yi.
"Penyelesaian damai isu nuklir di Semenanjung Korea melalui dialog dan negosiasi merupakan satu-satunya pilihan tepat yang praktis dan layak," imbuhnya seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (29/4/2017).
Amerika Serikat (AS) telah mendesak China untuk menggunakan statusnya sebagai sekutu utama Korut untuk membantu mengendalikan Pyongyang.
Washington juga meningkatkan tekanan yang dimulai di bawah pemerintahan Obama terhadap Kamboja, Laos dan Malaysia, yang memiliki hubungan diplomatik dan keuangan dengan Pyongyang. Ketiga negara itu diminta untuk mengurangi atau memutus hubungan diplomatik dengan Korut.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kepada Reuters bahwa sebuah "perang besar" dengan Korut mungkin saja terjadi terkait program rudal nuklir dan balistiknya.
Pemerintahan Trump memfokuskan strategi terhadap Korut pada sanksi ekonomi yang lebih ketat, mungkin termasuk embargo minyak, larangan global terhadap maskapai penerbangannya, mencegat kapal kargo dan menghukum bank-bank China yang melakukan bisnis dengan Pyongyang, seperti dikatakan seorang pejabat AS kepada Reuters awal bulan ini.
(ian)