Longsor di Pengunungan Andes Kolombia, 17 Tewas
Kamis, 20 April 2017 - 13:01 WIB
Longsor di Pengunungan Andes Kolombia, 17 Tewas
A
A
A
BOGOTA - Sedikitnya 17 orang tewas dan tujuh lainnya hilang setelah tanah longsor yang membawa lumpur dan bebatuan menghantam sejumlah wilayah di Manizales, Kolombia. Ini adalah bencana tanah longsor mematikan kedua di negara ini yang terjadi dalam sebulan terakhir.
Hujan lebat baru-baru ini telah membahayakan penduduk di puluhan kota di provinsi, di mana pembangunan darurat di lereng pegunungan Andes membuat lingkungan sangat rentan terhadap longsor dan banjir.
Tanah longsor di ibukota provinsi Caldas itu mengikuti bencana serupa di Mocoa, Putumayo awal bulan ini. Saat itu lebih dari 320 orang tewas dan ribuan orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
"Kami membantu untuk menemukan yang hilang dan sayangnya jumlahnya akan meningkat," kata Presiden Juan Manuel Santos mengenai korban tewas setelah tiba di Manizales seperti dikutip dari Reuters, Kamis (20/4/2017).
Pemerintah Kolombia mengatakan sedikitnya 57 rumah terkena dampak dari tanah longsor. Media lokal melaporkan bahwa Manizales menerima curah hujan rata-rata satu bulan dalam semalam.
Tim penyelamat dari Palang Merah, pertahanan sipil, petugas pemadam kebakaran dan angkatan bersenjata mencari korban yang hilang di dalam lumpur dan puing bangunan yang hancur. Layanan air bersih, listrik dan gas telah dihentikan di daerah-daerah yang terkena dampak tanah longsor.
"Situasi di Manizales sangat mengkhawatirkan, korbannya sangat menyedihkan," kata Menteri Transportasi Jorge Eduardo Rojas setelah bertemu dengan gubernur provinsi dan walikota kota daerah itu.
Perkiraannya setidaknya hujan masih akan mengguyur daerah itu dua hari lagi. Longsor Kolombia yang paling mematikan adalah bencana Armero tahun 1985, yang menewaskan lebih dari 20.000 orang.
Hujan lebat baru-baru ini telah membahayakan penduduk di puluhan kota di provinsi, di mana pembangunan darurat di lereng pegunungan Andes membuat lingkungan sangat rentan terhadap longsor dan banjir.
Tanah longsor di ibukota provinsi Caldas itu mengikuti bencana serupa di Mocoa, Putumayo awal bulan ini. Saat itu lebih dari 320 orang tewas dan ribuan orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
"Kami membantu untuk menemukan yang hilang dan sayangnya jumlahnya akan meningkat," kata Presiden Juan Manuel Santos mengenai korban tewas setelah tiba di Manizales seperti dikutip dari Reuters, Kamis (20/4/2017).
Pemerintah Kolombia mengatakan sedikitnya 57 rumah terkena dampak dari tanah longsor. Media lokal melaporkan bahwa Manizales menerima curah hujan rata-rata satu bulan dalam semalam.
Tim penyelamat dari Palang Merah, pertahanan sipil, petugas pemadam kebakaran dan angkatan bersenjata mencari korban yang hilang di dalam lumpur dan puing bangunan yang hancur. Layanan air bersih, listrik dan gas telah dihentikan di daerah-daerah yang terkena dampak tanah longsor.
"Situasi di Manizales sangat mengkhawatirkan, korbannya sangat menyedihkan," kata Menteri Transportasi Jorge Eduardo Rojas setelah bertemu dengan gubernur provinsi dan walikota kota daerah itu.
Perkiraannya setidaknya hujan masih akan mengguyur daerah itu dua hari lagi. Longsor Kolombia yang paling mematikan adalah bencana Armero tahun 1985, yang menewaskan lebih dari 20.000 orang.
(ian)