Meski Sulit, AS Ingin Berdialog dengan Rusia Bahas Suriah
Senin, 17 April 2017 - 06:17 WIB
Meski Sulit, AS Ingin Berdialog dengan Rusia Bahas Suriah
A
A
A
WASHINGTON - Penasihat keamanan Gedung Putih, H.R. McMaster mengatakan, sudah waktunya melakukan pembicaraan yang sulit dengan Suriah atas dukungannya atas pemerintah Suriah. Ia juga menyinggung tentang tindakan subversif Rusia di Eropa.
Dikatakan oleh McMaster, dukungan Rusia terhadap pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad telah mengabadikan perang saudara. Dukungan tersebut juga menciptakan krisis berdarah di Irak, negara-negara tetangga dan Eropa.
"Jadi dukungan Rusia untuk jenis rezim mengerikan, yang merupakan pihak berkonflik, adalah sesuatu yang harus ditarik ke pertanyaan serta tindakan subversif Rusia di Eropa," kata McMaster.
"Dan jadi saya pikir sudah waktunya, sekarang, untuk melakukan diskusi-diskusi yang sulit dengan Rusia," imbuhnya seperti dikutip dari Reuters, Senin (17/4/2017).
Amerika Serikat (AS) awal bulan ini membom pangkalan udara Suriah sebagai reaksi terhadap serangan gas syaraf oleh pemerintah Assad. Serangan itu menewaskan sedikitnya 70 orang di wilayah yang dikuasai pemberontak.
Namun Suriah membantah melakukan serangan dan Rusia telah memperingatkan bahwa serangan rudal jelajah bisa memiliki konsekuensi "sangat serius". Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson, mengunjungi Moskow pekan lalu karena tumbuhnya ketegangan.
"Nah, ketika hubungan berada pada titik terendah, ada tempat untuk pergi untuk membangkitkan. Jadi saya pikir kunjungan sekretaris negara ke Rusia terjadi pada waktu yang sempurna," kata McMaster.
Sebuah laporan intelijen AS pada Januari lalu menyebut gangguan Rusia dalam pemilihan presiden 2016 AS. Laporan itu mengatakan bahwa Rusia telah juga berupaya untuk mempengaruhi pemilu di seluruh Eropa.
Mantan pejabat dan analis AS mengatakan saat ini Moskow telah menargetkan pemilu di Perancis, Jerman dan di tempat lain melalui kombinasi propaganda, cyber hacking, dana dari kandidat dan sejumlah cara lainnya. Tujuan secara keseluruhan adalah melemahkan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan aliansi trans-Atlantik .
Dikatakan oleh McMaster, dukungan Rusia terhadap pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad telah mengabadikan perang saudara. Dukungan tersebut juga menciptakan krisis berdarah di Irak, negara-negara tetangga dan Eropa.
"Jadi dukungan Rusia untuk jenis rezim mengerikan, yang merupakan pihak berkonflik, adalah sesuatu yang harus ditarik ke pertanyaan serta tindakan subversif Rusia di Eropa," kata McMaster.
"Dan jadi saya pikir sudah waktunya, sekarang, untuk melakukan diskusi-diskusi yang sulit dengan Rusia," imbuhnya seperti dikutip dari Reuters, Senin (17/4/2017).
Amerika Serikat (AS) awal bulan ini membom pangkalan udara Suriah sebagai reaksi terhadap serangan gas syaraf oleh pemerintah Assad. Serangan itu menewaskan sedikitnya 70 orang di wilayah yang dikuasai pemberontak.
Namun Suriah membantah melakukan serangan dan Rusia telah memperingatkan bahwa serangan rudal jelajah bisa memiliki konsekuensi "sangat serius". Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson, mengunjungi Moskow pekan lalu karena tumbuhnya ketegangan.
"Nah, ketika hubungan berada pada titik terendah, ada tempat untuk pergi untuk membangkitkan. Jadi saya pikir kunjungan sekretaris negara ke Rusia terjadi pada waktu yang sempurna," kata McMaster.
Sebuah laporan intelijen AS pada Januari lalu menyebut gangguan Rusia dalam pemilihan presiden 2016 AS. Laporan itu mengatakan bahwa Rusia telah juga berupaya untuk mempengaruhi pemilu di seluruh Eropa.
Mantan pejabat dan analis AS mengatakan saat ini Moskow telah menargetkan pemilu di Perancis, Jerman dan di tempat lain melalui kombinasi propaganda, cyber hacking, dana dari kandidat dan sejumlah cara lainnya. Tujuan secara keseluruhan adalah melemahkan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan aliansi trans-Atlantik .
(ian)