AS Tuan Rumah Pertemuan Pertama Koalisi Anti ISIS
Rabu, 22 Maret 2017 - 14:19 WIB
AS Tuan Rumah Pertemuan Pertama Koalisi Anti ISIS
A
A
A
WASHINGTON - Menteri Luar Negeri dari 68 negara bertemu di Washington untuk menyepakati langkah-langkah selanjutnya untuk mengalahkan ISIS. Ini adalah pertemuan pertama koalisi militer di yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) sejak terpilihnya Presiden Donald Trump pada bulan November lalu.
Pertemuan ini diselenggarakan oleh Sekretaris Negara AS Rex Tillerson. Pertemuan ini merupakan yang pertama dari koalisi internasional sejak pasukan pemerintah Irak, yang didukung oleh koalisi internasional pimpinan AS, merebut kembali beberapa kota Irak dari ISIS tahun lalu. Saat ini, pasukan Irak tengah berjuang untuk membebaskan Mosul timur seperti dikutip dari Reuters, Rabu (22/3/2017).
Diskusi juga akan fokus pada bagaimana untuk membantu membangun kembali Mosul dan cara untuk mengatasi operasi ISIS di Libya dan tempat lain.
Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi, yang bertemu dengan Trump di Washington, mengatakan ia telah memenangkan jaminan lebih banyak dukungan AS dalam perang melawan ISIS. "Trump dan Abadi setuju bahwa terorisme tidak dapat dikalahkan oleh kekuatan militer saja, dan kedua pemimpin menyerukan memperdalam hubungan komersial," pernyataan Gedung Putih setelah pertemuan.
Di Suriah, pasukan koalisi pimpinan AS telah bekerja dengan aliansi milisi Kurdi dan Arab. Fokusnya saat ini adalah untuk mengepung dan akhirnya merebut kembali Raqqa - basis operasi ISIS di Suriah.
Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang didukung oleh Rusia dan Iran, mengatakan ia melihat ruang lingkup kerja sama dengan Trump. Padahal, Assad telah menolak menolak kampanye militer AS terhadap ISIS di Suriah yang disebutnya hanya beberapa serangan.
Trump telah bersumpah memprioritaskan perang melawan ISIS. Ia pun mengarahkan Pentagon dan sumber daya lainnya pada bulan Januari untuk menyerahkan rencana mengalahkan kelompok militan tersebut.
ISIS sendiri telah kehilangan sejumlah wilayah di Irak dan Suriah dimana tiga kekuatan terpisah dengan dukungan AS, Turki dan Rusia terus bergerak maju ke basis utama kelompok itu di Raqqa, Suriah. Sementara di Mosul, kelompok ekstrimis ini kalah jumlah oleh pasukan Irak. Mereka pun melakukan aksi bom bunuh diri dan menyebar penembak jitu untuk mempertahankan benteng yang tersisa.
Pertemuan ini diselenggarakan oleh Sekretaris Negara AS Rex Tillerson. Pertemuan ini merupakan yang pertama dari koalisi internasional sejak pasukan pemerintah Irak, yang didukung oleh koalisi internasional pimpinan AS, merebut kembali beberapa kota Irak dari ISIS tahun lalu. Saat ini, pasukan Irak tengah berjuang untuk membebaskan Mosul timur seperti dikutip dari Reuters, Rabu (22/3/2017).
Diskusi juga akan fokus pada bagaimana untuk membantu membangun kembali Mosul dan cara untuk mengatasi operasi ISIS di Libya dan tempat lain.
Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi, yang bertemu dengan Trump di Washington, mengatakan ia telah memenangkan jaminan lebih banyak dukungan AS dalam perang melawan ISIS. "Trump dan Abadi setuju bahwa terorisme tidak dapat dikalahkan oleh kekuatan militer saja, dan kedua pemimpin menyerukan memperdalam hubungan komersial," pernyataan Gedung Putih setelah pertemuan.
Di Suriah, pasukan koalisi pimpinan AS telah bekerja dengan aliansi milisi Kurdi dan Arab. Fokusnya saat ini adalah untuk mengepung dan akhirnya merebut kembali Raqqa - basis operasi ISIS di Suriah.
Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang didukung oleh Rusia dan Iran, mengatakan ia melihat ruang lingkup kerja sama dengan Trump. Padahal, Assad telah menolak menolak kampanye militer AS terhadap ISIS di Suriah yang disebutnya hanya beberapa serangan.
Trump telah bersumpah memprioritaskan perang melawan ISIS. Ia pun mengarahkan Pentagon dan sumber daya lainnya pada bulan Januari untuk menyerahkan rencana mengalahkan kelompok militan tersebut.
ISIS sendiri telah kehilangan sejumlah wilayah di Irak dan Suriah dimana tiga kekuatan terpisah dengan dukungan AS, Turki dan Rusia terus bergerak maju ke basis utama kelompok itu di Raqqa, Suriah. Sementara di Mosul, kelompok ekstrimis ini kalah jumlah oleh pasukan Irak. Mereka pun melakukan aksi bom bunuh diri dan menyebar penembak jitu untuk mempertahankan benteng yang tersisa.
(ian)