Ramos: Perang Narkoba Duterte Lahirkan Budaya Kebal Hukum

Senin, 13 Februari 2017 - 15:30 WIB
Ramos: Perang Narkoba...
Ramos: Perang Narkoba Duterte Lahirkan Budaya Kebal Hukum
A A A
MANILA - Mantan Presiden Filipina Fidel Ramos percaya bahwa perang terhadap narkoba yang dikobarkan Presiden Rodrigo Duterte telah melahirkan budaya impunitas atau kebal hukum bagi aparat di negaranya. Dia mengkritik Duterte yang membuat banyak kebijakan tanpa diskusi.

Fidel Ramos, yang terpilih sebagai utusan khusus Duterte untuk mengatasi sengketa Laut China Selatan sengketa, mengatakan ada ”terlalu banyak unilateralisme” di pemerintahan. Terlebih pada penegakan hukum dan masalah keamanan.

Ramos sejatinya pendukung Duterte saat kampanye pemilu. Namun, kini dia menjadi salah satu kritikus vokal.

”Masuknya presiden kita, Presiden Rodrigo Roa Duterte, ke dalam ini memang telah mengubah kami pada situasi penegakan hukum, hak asasi manusia dan sistem peradilan pidana,” katanya dalam wawancara dengan Rappler.

Menurut laporan media Filipina, Ramos juga tidak senang dengan ide Duterte untuk memberikan wewenang kepada militer agar terlibat perang melawan narkoba yang sudah dijalankan oleh polisi. Alasannya, polisi dan militer dilatih dan berperan secara berbeda.

“Pekerjaan polisi, yang sedikit berbeda dari operasi militer, tidak mengikuti aturan dasar dari keterlibatan. Anda menembak untuk melumpuhkan, bukan untuk membunuh. Kecuali pistol lawan menunjuk pada Anda untuk membunuh Anda, maka Anda bisa menembak orang itu untuk membela diri,” ujar Ramos.

Negarawan Filipina ini juga meminta Duterte untuk menunjuk seorang duta besar Filipina untuk Amerika Serikat (AS) yang sejatinya merupakan sekutu. Tapi, kata dia, Presiden Duterte telah mengabaikannya karena terobsesi dengan perang melawan narkoba yang telah menewaskan lebih dari 7.600 orang.

”Kita harus melindungi kepentingan kami melalui duta besar, melalui kedutaan di AS. Kami memiliki warga bekewarganegaraan ganda di luar sana,” imbuh Ramos, yang dikutip Senin (13/2/2017).

”Mari kita bekerja dengan dunia. Karena tidak ada pulau independen seperti sekarang. Semua orang saling tergantung,” katanya.
(mas)
Berita Terkait
Diskusi Peta dan Kemunculan...
Diskusi Peta dan Kemunculan Bangsa Filipina dengan Pembicara Sejarawan Ternama
Presiden Filipina Duterte...
Presiden Filipina Duterte Bersaing dengan Putrinya Perebutkan Kursi Wapres
Pelaku Bom Filipina...
Pelaku Bom Filipina Disebut WNI, Menlu: Masih Diselidiki
Duterte Incar Kursi...
Duterte Incar Kursi Wapres Filipina setelah Lengser
Musuh Sekaligus Pengkritik...
Musuh Sekaligus Pengkritik Perang Narkoba Duterte Maju Pilpres Filipina
Rencanakan Pemboman,...
Rencanakan Pemboman, 'Calon Pengantin' Perempuan Diciduk Tentara Filipina
Berita Terkini
Presiden Zelensky Akan...
Presiden Zelensky Akan Memiliki Pesaing Politik yang Kuat, Ini 5 Pemicunya
17 menit yang lalu
Serangan AS ke Iran...
Serangan AS ke Iran Tak Punya Strategi, Apakah Trump Sudah Putus Asa?
51 menit yang lalu
AS Terlibat Langsung...
AS Terlibat Langsung dalam Serangan Drone Ukraina, Rusia: Washington Munafik!
3 jam yang lalu
Trump Setujui Arab Saudi...
Trump Setujui Arab Saudi Perkaya Uranium, Mungkinkan Riyadh Memiliki Bom Nuklir?
3 jam yang lalu
Gunakan Semut Jadi Hiasan...
Gunakan Semut Jadi Hiasan Makanan, Pemilik Restoran Berbintang Michelin Ini Dipenjara
5 jam yang lalu
Apa Itu Kokushobi? Cuaca...
Apa Itu Kokushobi? Cuaca Ekstrem yang Terjadi Pertama Kalinya di Jepang
6 jam yang lalu
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved