Prancis: Rusia Bohong Soal Kesiapan Bahas Situasi di Aleppo
Senin, 12 Desember 2016 - 22:25 WIB
Prancis: Rusia Bohong Soal Kesiapan Bahas Situasi di Aleppo
A
A
A
PARIS - Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Marc Ayrault menyebut Rusia sebagai negara pendusta. Ayrault mengatakan, Rusia selalu berbohong mengenai kesiapan untuk membahas situasi di Aleppo, terutama mengenai gencatan senjata di kota terbesar di Suriah tersebut.
"Rusia bermuka dua, bentuk kebohongan yang konstan. Di satu sisi mereka mengatakan mari kita bernegosiasi, dan kami bernegosiasi untuk mencapai gencatan senjata," kata Jean-Marc Ayrault dalam sebuah pernyataan.
"Di sisi lain, mereka melanjutkan perang, perang total. Itu adalah keinginan untuk menyelamtakan Suriah untuk rezim Bashar al-Assad dan membuat Aleppo jatuh," sambungnya, seperti dilansir Reuters pada Senin (12/12).
Dia juga mengatakan, sikap Rusia untuk menyenangkan Assad telah berdampak sangat buruk. Salah satunya adalah berhasil direbutnya kembali kota kuno di Suriah, Palmyra oleh ISIS.
"Rusia berpura-pura melawan terorisme, namun sebenarnya mereka berfokus pada Aleppo dan telah memberikan ruang untuk ISIS, yang dalam prosesesnya berhasil mengambil kembali Palmyra. Itu merupakan bukti yang jelas," tukasnya.
Sebelumnya, Rusia secara tersirat menyalahkan Barat, khususnya Amerika Serikat (AS) terkait dengan direbut kembalinya Palmyra oleh ISIS. Moskow menyatakan, jatuhnya Palmyra ke tangan ISIS disebabkan banyak pihak yang memiliki kekuatan, namun tidak berbuat apapun untuk melindungi kota tersebut.
"Rusia bermuka dua, bentuk kebohongan yang konstan. Di satu sisi mereka mengatakan mari kita bernegosiasi, dan kami bernegosiasi untuk mencapai gencatan senjata," kata Jean-Marc Ayrault dalam sebuah pernyataan.
"Di sisi lain, mereka melanjutkan perang, perang total. Itu adalah keinginan untuk menyelamtakan Suriah untuk rezim Bashar al-Assad dan membuat Aleppo jatuh," sambungnya, seperti dilansir Reuters pada Senin (12/12).
Dia juga mengatakan, sikap Rusia untuk menyenangkan Assad telah berdampak sangat buruk. Salah satunya adalah berhasil direbutnya kembali kota kuno di Suriah, Palmyra oleh ISIS.
"Rusia berpura-pura melawan terorisme, namun sebenarnya mereka berfokus pada Aleppo dan telah memberikan ruang untuk ISIS, yang dalam prosesesnya berhasil mengambil kembali Palmyra. Itu merupakan bukti yang jelas," tukasnya.
Sebelumnya, Rusia secara tersirat menyalahkan Barat, khususnya Amerika Serikat (AS) terkait dengan direbut kembalinya Palmyra oleh ISIS. Moskow menyatakan, jatuhnya Palmyra ke tangan ISIS disebabkan banyak pihak yang memiliki kekuatan, namun tidak berbuat apapun untuk melindungi kota tersebut.
(esn)