Assad: Suriah Medan Perang Antara Rusia dan Barat
Sabtu, 15 Oktober 2016 - 00:36 WIB
Assad: Suriah Medan Perang Antara Rusia dan Barat
A
A
A
DAMASKUS - Presiden Suriah, Bashar al-Assad mengatakan, perang saudara di negara itu telah menjadi konflik antara Rusia dan Barat. Pernyataan ini datang seiring dengan diratifikasinya kesepakatan Rusia-Suriah yang memungkinkan Moskow menggunakan pangkalan udara Hmeimim di Suriah.
"Apa yang kita lihat baru-baru ini selama beberapa minggu terakhir, dan mungkin beberapa bulan, adalah sesuatu yang lebih seperti Perang Dingin," kata Assad dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Rusia Komsomolskaya Pravda.
"Saya tidak tahu harus menyebutnya apa, tapi itu bukan sesuatu yang telah ada saat ini karena saya tidak berpikir bahwa Barat dan khususnya Amerika Serikat (AS) telah menghentikan Perang Dingin mereka, bahkan setelah runtuhnya Uni Soviet," katanya lagi.
Assad juga mengatakan bahwa kemenangan di Aleppo akan menjadi batu loncatan yang sangat penting untuk mendorong teroris kembali ke Turki. Aleppo secara efektif tidak lagi menjadi basis industri Suriah, tetapi mengambil kembali kota itu akan memberikan keuntungan politik dan strategis yang penting bagi rezimnya.
Ia pun mengecam operasi yang di gelar Turki di Suriah utara. "Tindakan Turki di Suriah merupakan invasi, melawan hukum internasional, moral, terhadap kedaulatan Suriah," katanya seperti dikutip dari Sky News, Sabtu (15/10/2016).
Pasukan pemerintah Suriah telah mengepung Aleppo Timur, mengepung lebih dari seperempat juta orang yang mereka katakan sedang digunakan sebagai perisai manusia oleh "teroris". Pekerja penyelamat mengatakan bahwa militer Suriah yang didukung oleh pesawat tempur Rusia telah menewaskan lebih dari 150 orang di Aleppo timur pekan ini, dalam mendukung serangan terhadap kota.
"Apa yang kita lihat baru-baru ini selama beberapa minggu terakhir, dan mungkin beberapa bulan, adalah sesuatu yang lebih seperti Perang Dingin," kata Assad dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Rusia Komsomolskaya Pravda.
"Saya tidak tahu harus menyebutnya apa, tapi itu bukan sesuatu yang telah ada saat ini karena saya tidak berpikir bahwa Barat dan khususnya Amerika Serikat (AS) telah menghentikan Perang Dingin mereka, bahkan setelah runtuhnya Uni Soviet," katanya lagi.
Assad juga mengatakan bahwa kemenangan di Aleppo akan menjadi batu loncatan yang sangat penting untuk mendorong teroris kembali ke Turki. Aleppo secara efektif tidak lagi menjadi basis industri Suriah, tetapi mengambil kembali kota itu akan memberikan keuntungan politik dan strategis yang penting bagi rezimnya.
Ia pun mengecam operasi yang di gelar Turki di Suriah utara. "Tindakan Turki di Suriah merupakan invasi, melawan hukum internasional, moral, terhadap kedaulatan Suriah," katanya seperti dikutip dari Sky News, Sabtu (15/10/2016).
Pasukan pemerintah Suriah telah mengepung Aleppo Timur, mengepung lebih dari seperempat juta orang yang mereka katakan sedang digunakan sebagai perisai manusia oleh "teroris". Pekerja penyelamat mengatakan bahwa militer Suriah yang didukung oleh pesawat tempur Rusia telah menewaskan lebih dari 150 orang di Aleppo timur pekan ini, dalam mendukung serangan terhadap kota.
(ian)