Saudi Diduga Terlibat, Ini Jawaban Obama soal Sensor Materi 9/11
Selasa, 19 April 2016 - 17:46 WIB
Saudi Diduga Terlibat, Ini Jawaban Obama soal Sensor Materi 9/11
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Barack Obama angkat bicara soal materi atau laporan penyelidikan serangan teror 11 September 2001 atau 9/11 yang disensor karena diduga berisi keterlibatan Arab Saudi dalam serangan itu.
Publik AS terutama keluarga korban seraangan 9/11 telah menekan Obama untuk merilis materi 28 halaman yang disensor itu.
Sebelumnya, para mantan agen FBI menyebut mantan Duta Besar Saudi untuk AS, Pangeran Bandar bin Sultan terlibat dengan ikut mendanai para pembajak pesawat untuk serangan 9/11 melalui pihak ketiga. Namun, diplomat Saudi itu tidak tersentuh hukum karena Pemerintah AS melindunginya dengan dalih “kekebalan diplomatik”.
Hampir 3 ribu orang tewas dalam serangan pesawat terhadap menara kembar WTC kala itu. Obama akan memutuskan apakah mengungkp atau tetap menyensor 28 halaman dokumen rahasia itu.
Dalam sebuah wawancara dengan jurnalis CBS, Charlie Rose, Obama ditanya apakah dia telah membaca 28 halaman rahasia itu.
”Saya memiliki rasa apa yang ada di sana,” jawab Obama.
Obama mengatakan Direktur Intelijen Nasional AS, James Clapper, telah mengatasi masalah ini untuk memastikan bahwa apa pun yang dibuat publik tidak merusak kepentingan keamanan nasional AS.
”Pemahaman saya adalah bahwa dia akan menyelesaikan proses itu,” ujar Obama, Selasa (19/4/2016).
Mantan Senator AS, Robert Graham, yang membantu menulis laporan termasuk laporan 28 halaman yang disensor itu mengatakan dalam program “60 Minutes” bahwa materi rahasia itu bisa mengungkapkan kemungkinan dukungan Arab Saudi kepada orang-orang yang membajak pesawat dan menyerang menara World Trade Center (WTC) di New York dan ke Pentagon.
Graham, yang seorang politisi Demokrat, menolak untuk menyebutkan rincian materi rahasia itu.
Obama sendiri telah menyuarakan kekhawatiran tentang langkah legislatif untuk menuntut Pemerintah AS menuntut negara-negara lain yang diyakini memberikan dukungan untuk serangan 9/11.
”Ini adalah masalah bagaimana umumnya Amerika Serikat melakukan pendekatan dengan negara-negara lain,” ujar Obama.
”Jika kita membuka kemungkinan bahwa individu dan Pemerintah Amerika Serikat secara rutin dapat menggugat pemerintah lainnya, maka kita juga membuka Amerika Serikat untuk secara terus-menerus digugat oleh individu di negara lain,” lanjut Obama.
Publik AS terutama keluarga korban seraangan 9/11 telah menekan Obama untuk merilis materi 28 halaman yang disensor itu.
Sebelumnya, para mantan agen FBI menyebut mantan Duta Besar Saudi untuk AS, Pangeran Bandar bin Sultan terlibat dengan ikut mendanai para pembajak pesawat untuk serangan 9/11 melalui pihak ketiga. Namun, diplomat Saudi itu tidak tersentuh hukum karena Pemerintah AS melindunginya dengan dalih “kekebalan diplomatik”.
Hampir 3 ribu orang tewas dalam serangan pesawat terhadap menara kembar WTC kala itu. Obama akan memutuskan apakah mengungkp atau tetap menyensor 28 halaman dokumen rahasia itu.
Dalam sebuah wawancara dengan jurnalis CBS, Charlie Rose, Obama ditanya apakah dia telah membaca 28 halaman rahasia itu.
”Saya memiliki rasa apa yang ada di sana,” jawab Obama.
Obama mengatakan Direktur Intelijen Nasional AS, James Clapper, telah mengatasi masalah ini untuk memastikan bahwa apa pun yang dibuat publik tidak merusak kepentingan keamanan nasional AS.
”Pemahaman saya adalah bahwa dia akan menyelesaikan proses itu,” ujar Obama, Selasa (19/4/2016).
Mantan Senator AS, Robert Graham, yang membantu menulis laporan termasuk laporan 28 halaman yang disensor itu mengatakan dalam program “60 Minutes” bahwa materi rahasia itu bisa mengungkapkan kemungkinan dukungan Arab Saudi kepada orang-orang yang membajak pesawat dan menyerang menara World Trade Center (WTC) di New York dan ke Pentagon.
Graham, yang seorang politisi Demokrat, menolak untuk menyebutkan rincian materi rahasia itu.
Obama sendiri telah menyuarakan kekhawatiran tentang langkah legislatif untuk menuntut Pemerintah AS menuntut negara-negara lain yang diyakini memberikan dukungan untuk serangan 9/11.
”Ini adalah masalah bagaimana umumnya Amerika Serikat melakukan pendekatan dengan negara-negara lain,” ujar Obama.
”Jika kita membuka kemungkinan bahwa individu dan Pemerintah Amerika Serikat secara rutin dapat menggugat pemerintah lainnya, maka kita juga membuka Amerika Serikat untuk secara terus-menerus digugat oleh individu di negara lain,” lanjut Obama.
(mas)