Ingin Jadi Sekutu Kuat, tapi China Tetap Tolak Nuklir Korut
Selasa, 08 Maret 2016 - 14:28 WIB
Ingin Jadi Sekutu Kuat, tapi China Tetap Tolak Nuklir Korut
A
A
A
BEIJING - Pemerintah China menyatakan ingin menjadi sekutu kuat Korea Utara (Korut), namun Beijing tetap menentang program nuklir rezim Pyongyang.
Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, Selasa (8/3/2016). ”Hubungan China-Korea Utara (DPRK), hubungan persahabatan yang kuat. Kami menghargai hubungan persahabatan yang mapan dengan DPRK, Korea Utara ingin tumbuh dan aman, kami siap untuk memberikan dukungan dan bantuan kami,” katanya.
Kendati demikian, Wang Yi menegaskan sikap luar negeri Beijing yang mendukung denuklirisasi Semenanjung Korea.”Tidak bisa dengan rencana untuk membuat senjata nuklir,” ujar Wang Yi.
Pada tanggal 6 Januari 2016, Pyongyang mengaku telah berhasil melakukan uji coba senjata nuklir jenis bom hidrogen yang memicu gelombang kecaman dari masyarakat internasional.
Pada tanggal 7 Februari, Korea Utara meluncurkan satelit Kwangmyongsong-4 di atas sebuah roket jarak jauh yang dianggap sebagai pelanggaran atas resolusi Dewan Keamanan PBB.
Lebih lanjut Wang Yi mengakui bahwa sanksi keras dari Dewan Keamanan PBB bukan hal yang tepat, meski China terpaksa mendukungnya karena dianggap sebagai formula tepat untuk mengatasi “penyakit nakal” rezim Kim Jong-un.
”Penyelesaian akhir dari kebutuhan masalah di Semenanjung Korea adalah tindakan komprehensif dan obat yang tepat untuk penyakit ini,” ujarnya.
“Sanksi dan tekanan ‘blind faith’ sebenarnya bukan pendekatan yang bertanggung jawab untuk masa depan Semenanjung Korea,” imbuh Wang Yi.
Rezim Kim Jong-un sendiri menolak kritik China atas program senjata nuklir dan roket jarak jauh Pyongyang. Korut merasa nuklir menjadi benteng pertahanan utama Pyongyang dari ancaman serangan musuh-musuhnya, terutama dari Korea Selatan dan Amerika Serikat.
Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, Selasa (8/3/2016). ”Hubungan China-Korea Utara (DPRK), hubungan persahabatan yang kuat. Kami menghargai hubungan persahabatan yang mapan dengan DPRK, Korea Utara ingin tumbuh dan aman, kami siap untuk memberikan dukungan dan bantuan kami,” katanya.
Kendati demikian, Wang Yi menegaskan sikap luar negeri Beijing yang mendukung denuklirisasi Semenanjung Korea.”Tidak bisa dengan rencana untuk membuat senjata nuklir,” ujar Wang Yi.
Pada tanggal 6 Januari 2016, Pyongyang mengaku telah berhasil melakukan uji coba senjata nuklir jenis bom hidrogen yang memicu gelombang kecaman dari masyarakat internasional.
Pada tanggal 7 Februari, Korea Utara meluncurkan satelit Kwangmyongsong-4 di atas sebuah roket jarak jauh yang dianggap sebagai pelanggaran atas resolusi Dewan Keamanan PBB.
Lebih lanjut Wang Yi mengakui bahwa sanksi keras dari Dewan Keamanan PBB bukan hal yang tepat, meski China terpaksa mendukungnya karena dianggap sebagai formula tepat untuk mengatasi “penyakit nakal” rezim Kim Jong-un.
”Penyelesaian akhir dari kebutuhan masalah di Semenanjung Korea adalah tindakan komprehensif dan obat yang tepat untuk penyakit ini,” ujarnya.
“Sanksi dan tekanan ‘blind faith’ sebenarnya bukan pendekatan yang bertanggung jawab untuk masa depan Semenanjung Korea,” imbuh Wang Yi.
Rezim Kim Jong-un sendiri menolak kritik China atas program senjata nuklir dan roket jarak jauh Pyongyang. Korut merasa nuklir menjadi benteng pertahanan utama Pyongyang dari ancaman serangan musuh-musuhnya, terutama dari Korea Selatan dan Amerika Serikat.
(mas)