AS Ragu Gencatan Senjata di Suriah, Rusia Bingung
Kamis, 25 Februari 2016 - 16:31 WIB
AS Ragu Gencatan Senjata di Suriah, Rusia Bingung
A
A
A
JAKARTA - Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhael Y Galuzin, mengatakan bahwa pihaknya bingung dengan sikap Amerika Serikat (AS) yang ragu dengan gencatan senjata di Suriah.
Keraguan AS itu, kata dia, tampak dengan mempersiapkan rencana cadangan jika gencatan senjata itu gagal.
”Setahu kami, administrasi AS ragu soal kesepakatan ini. Menurut saya, ‘Plan B’ mereka seperti ingin melawan Rusia. Saya tidak tahu mengapa mereka ragu dengan kesepakatan ini,” kata Galuzin, pada Kamis (25/2/2016).
Galuzin mengatakan, AS seharusnya tidak ragu melakukan kesepakatan itu. AS juga diminta bekerjasama dengan Rusia.
Alasannya, lanjut Galuzin, bila menilik ke belakang, banyak sekali keuntungan yang didapat ketika AS melakukan kerjasama dengan Rusia.
"Contoh pada waktu kedua negara bekerjasama pada masalah penghancuran senjata kimia di Suriah. Lalu, ketika AS, Rusia, dan China bekerjasama pada masalah program nuklir Iran, masalah itu bisa selesai,” sambung Galuzin.
”Jadi hasil dari kerjasama jelas menguntungkan dunia internasional. Ini sangat disayangkan, perwakilan AS tidak melihat keuntungan dari kerjasama ini,” imbuh diplomat senior Rusia tersebut.
Keraguan AS itu, kata dia, tampak dengan mempersiapkan rencana cadangan jika gencatan senjata itu gagal.
”Setahu kami, administrasi AS ragu soal kesepakatan ini. Menurut saya, ‘Plan B’ mereka seperti ingin melawan Rusia. Saya tidak tahu mengapa mereka ragu dengan kesepakatan ini,” kata Galuzin, pada Kamis (25/2/2016).
Galuzin mengatakan, AS seharusnya tidak ragu melakukan kesepakatan itu. AS juga diminta bekerjasama dengan Rusia.
Alasannya, lanjut Galuzin, bila menilik ke belakang, banyak sekali keuntungan yang didapat ketika AS melakukan kerjasama dengan Rusia.
"Contoh pada waktu kedua negara bekerjasama pada masalah penghancuran senjata kimia di Suriah. Lalu, ketika AS, Rusia, dan China bekerjasama pada masalah program nuklir Iran, masalah itu bisa selesai,” sambung Galuzin.
”Jadi hasil dari kerjasama jelas menguntungkan dunia internasional. Ini sangat disayangkan, perwakilan AS tidak melihat keuntungan dari kerjasama ini,” imbuh diplomat senior Rusia tersebut.
(mas)