Ajak Negosiasi, Rusia Sebut Turki Ingin Lepas Tangan
Rabu, 10 Februari 2016 - 21:56 WIB
Ajak Negosiasi, Rusia Sebut Turki Ingin Lepas Tangan
A
A
A
MOSKOW - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova menyatakan, Turki hanya ingin melepaskan dan menghindari tanggung jawab terhadap Rusia atas insiden penembakan pesawat tempur milik Rusia.
Pernyataan Zakharova tersebut menjawab tudingan yang menyatakan Moskow menolak untuk bernegosiasi dengan Turki untuk menghentikan ketegangan kedua negara di tengah krisis Suriah.
Diungkapkan oleh Zakharova, Kementerian Luar Negeri Rusia saat ini tengah mempertimbangkan permintaan dari anggota parlemen untuk mengakhiri perjanjian persahabatan Rusia-Turki yang ditandatangani pada 1921.
"Kemlu Rusia menerima permintaan dari sejumlah anggota Duma Negara (Parlemen Rusia) untuk mengakhiri kesepakatan 1921. Saya bisa mengatakan pada saat ini, bahwa pemerintahan Turki dan isinya perlu dinilai. Semuanya akan dilakukan pada waktunya," katanya seperti dikutip dari Sputniknews, Rabu (10/2/2016).
Lebih jauh Zakharova menyatakan, Turki berusaha untuk melindungi "bisnis kotor"nya bersama teroris dengan menyuarakan keprihatinannya atas kegiatan tentara Suriah di dekat perbatasan.
"Ini benar-benar jelas mengapa keberhasilan Angkatan Darat Suriah menyebabkan kemarahan hingga ke Turki. 'Bisnis kotor' yang dilakukan oleh organ semi-resmi Turki jelas membutuhkan perlindungan. Dan ini pada dasarnya adalah bagaiman mereka melindunginya, ditambah pemberitaan media massa yang dikendalikan (oleh pemerintah) yang berusaha sebaik mungkin," tukas Zakharova.
Pernyataan Zakharova tersebut menjawab tudingan yang menyatakan Moskow menolak untuk bernegosiasi dengan Turki untuk menghentikan ketegangan kedua negara di tengah krisis Suriah.
Diungkapkan oleh Zakharova, Kementerian Luar Negeri Rusia saat ini tengah mempertimbangkan permintaan dari anggota parlemen untuk mengakhiri perjanjian persahabatan Rusia-Turki yang ditandatangani pada 1921.
"Kemlu Rusia menerima permintaan dari sejumlah anggota Duma Negara (Parlemen Rusia) untuk mengakhiri kesepakatan 1921. Saya bisa mengatakan pada saat ini, bahwa pemerintahan Turki dan isinya perlu dinilai. Semuanya akan dilakukan pada waktunya," katanya seperti dikutip dari Sputniknews, Rabu (10/2/2016).
Lebih jauh Zakharova menyatakan, Turki berusaha untuk melindungi "bisnis kotor"nya bersama teroris dengan menyuarakan keprihatinannya atas kegiatan tentara Suriah di dekat perbatasan.
"Ini benar-benar jelas mengapa keberhasilan Angkatan Darat Suriah menyebabkan kemarahan hingga ke Turki. 'Bisnis kotor' yang dilakukan oleh organ semi-resmi Turki jelas membutuhkan perlindungan. Dan ini pada dasarnya adalah bagaiman mereka melindunginya, ditambah pemberitaan media massa yang dikendalikan (oleh pemerintah) yang berusaha sebaik mungkin," tukas Zakharova.
(ian)