AS Rancang Laser Drone Sejatinya untuk Musuh Rudal Balistik
Jum'at, 22 Januari 2016 - 15:19 WIB
AS Rancang Laser Drone Sejatinya untuk Musuh Rudal Balistik
A
A
A
WASHINGTON - Badan Pertahanan Rudal (MDA) Amerika Serikat mengungkap bahwa senjata laser untuk drone yang tengah dikembangkan sejatinya untuk dijadikan musuh rudal balistik. MDA mengaku terus mengembangkan senjata laser khusus untuk small unmanned air vehicles (SUAV) atau pesawat tak berawak mini.
Direktur MDA, Laksamana James Syring, mengatakan teknologi laser baru harus dikembangkan dalam tiga tahun ke depan. ”Kami telah secara signifikan menggenjot program kami dalam hal investasi dan berbicara tentang apa lagi yang perlu dilakukan untuk mendewasakan kemampuan ini,” tulis Defense One mengutip pernyataan Syring.
Di bawah rencana Pentagon, drone AS yang dilengkapi dengan laser akan terbang pada ketinggian di atas 65 ribu kaki, di mana pesawat mini tersebut tidak akan terpengaruh oleh kondisi cuaca. Pesawat untuk tempur itu akan tetap mengudara selama berminggu-minggu pada suatu waktu, berkeliaran di atas situs rudal dan menembak jatuh proyektil segera setelah diluncurkan.
Pentagon, seperti dikutip Sputnik, Jumat (22/1/2016) juga sudah lama mengembangkan senjata laser udara untuk mencegat rudal balistik.
AS sebelumnya menciptakan Airborne Laser Test Bed (ALTB) untuk Boeing 747, namun ditutup empat tahun lalu setelah 16 tahun dirancang. Pentagon sudah menghabiskan sekitar USD5 miliar untuk proyek pembuatan senjata canggih itu. Meskipun sudah beberapa kali menjalani tes yang sukses pada tahun 2010, proyek ini akhirnya dianggap terlalu mahal dan tidak praktis.
Masalah utama pada proyek ALTB adalah butuh jarak pendek untuk membidik target atau perlu mendekati target, sehingga menjadi rentan terhadap serangan udara atau serangan darat dari musuh.
Syring mencatat bahwa laser bertenaga kimia sulit untuk mempertahankan diri. Sebab, setiap tembakan senjata canggih itu harus diisi bahan bakar.
Direktur MDA, Laksamana James Syring, mengatakan teknologi laser baru harus dikembangkan dalam tiga tahun ke depan. ”Kami telah secara signifikan menggenjot program kami dalam hal investasi dan berbicara tentang apa lagi yang perlu dilakukan untuk mendewasakan kemampuan ini,” tulis Defense One mengutip pernyataan Syring.
Di bawah rencana Pentagon, drone AS yang dilengkapi dengan laser akan terbang pada ketinggian di atas 65 ribu kaki, di mana pesawat mini tersebut tidak akan terpengaruh oleh kondisi cuaca. Pesawat untuk tempur itu akan tetap mengudara selama berminggu-minggu pada suatu waktu, berkeliaran di atas situs rudal dan menembak jatuh proyektil segera setelah diluncurkan.
Pentagon, seperti dikutip Sputnik, Jumat (22/1/2016) juga sudah lama mengembangkan senjata laser udara untuk mencegat rudal balistik.
AS sebelumnya menciptakan Airborne Laser Test Bed (ALTB) untuk Boeing 747, namun ditutup empat tahun lalu setelah 16 tahun dirancang. Pentagon sudah menghabiskan sekitar USD5 miliar untuk proyek pembuatan senjata canggih itu. Meskipun sudah beberapa kali menjalani tes yang sukses pada tahun 2010, proyek ini akhirnya dianggap terlalu mahal dan tidak praktis.
Masalah utama pada proyek ALTB adalah butuh jarak pendek untuk membidik target atau perlu mendekati target, sehingga menjadi rentan terhadap serangan udara atau serangan darat dari musuh.
Syring mencatat bahwa laser bertenaga kimia sulit untuk mempertahankan diri. Sebab, setiap tembakan senjata canggih itu harus diisi bahan bakar.
(mas)