Rusia Tolak Kritik Turki atas Aksi Bidik Roket di Kapal Perang
Rabu, 09 Desember 2015 - 08:04 WIB
Rusia Tolak Kritik Turki atas Aksi Bidik Roket di Kapal Perang
A
A
A
MOSKOW - Rusia telah menolak kritik Turki atas aksi tentara Kremlin yang beraksi membidikkan peluncur roket di atas kapal perang Rusia yang melewati perairan di dekat Istanbul. Moskow menolak tudingan Ankara bahwa aksi membidikkan peluncur roket di atas kapal perang itu sebagai tindakan provokasi.
Pernyataan itu disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova.”Perlindungan kapal (perang) adalah hak hukum setiap kru,” katanya, seperti dikutip BBC, Rabu (9/12/2015).
(Baca: Rusia dan Turki Memanas, Kapal Perang Kremlin Dekati Istanbul)
Manuver tentara Rusia yang mengangkat peluncur roket di bahu dengan posisi siap menembak telah membuat Turki marah. Pada Senin lalu, Kementerian Luar Negeri Turki memanggil Duta Besar Rusia untuk Ankara untuk meminta penjelasan atas manuver pada 4 Desember 2015 itu.
(Baca juga: Aksi Bidik Roket di Kapal Perang Kremlin, Turki Panggil Dubes Rusia)
Dalam sebuah pernyataan berbahasa Rusia, Zakharova mengatakan bahwa aksi tentara membidikkan peluncur roket portabel di atas kapal perang Caesar Kunikov seperti foto-foto yang dilansir media Turki tidak melanggar Konvensi Montreux 1936. Konvensi itu membolehkan segala jenis kapal melewati Selat Bosphorus.
Menurutnya, pihak Turki telah gagal untuk menjelaskan kepada diplomat Rusia tentang apa sebenarnya dugaan pelanggaran yang dituduhkan.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, meluapkan kemarahannya atas manuver tentara Rusia di kapal perang itu. Dia menyebut aksi itu sebagai tindakan provokasi Rusia terhadap negaranya.
”Saya berharap itu adalah insiden yang terisolasi, itu bukan pendekatan yang tepat,” katanya. Dia menyerukan Rusia bertindak sebagai “negara yang lebih dewasa”.
Kedua negara itu telah terlibat ketegangan setelah pesawat tempur F-16 Turki menembak jatuh pesawat jet pembom Su-24 Rusia di perbatasan Suriah-Turki. Ankara menuduh pesawat Su-24 Rusia melanggar wilayah udaranya, tapi Moskow menyangkal. Turki menolak meminta maaf pada Rusia atas penembakan itu, dan puncaknya Kremlin menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Turki.
Pernyataan itu disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova.”Perlindungan kapal (perang) adalah hak hukum setiap kru,” katanya, seperti dikutip BBC, Rabu (9/12/2015).
(Baca: Rusia dan Turki Memanas, Kapal Perang Kremlin Dekati Istanbul)
Manuver tentara Rusia yang mengangkat peluncur roket di bahu dengan posisi siap menembak telah membuat Turki marah. Pada Senin lalu, Kementerian Luar Negeri Turki memanggil Duta Besar Rusia untuk Ankara untuk meminta penjelasan atas manuver pada 4 Desember 2015 itu.
(Baca juga: Aksi Bidik Roket di Kapal Perang Kremlin, Turki Panggil Dubes Rusia)
Dalam sebuah pernyataan berbahasa Rusia, Zakharova mengatakan bahwa aksi tentara membidikkan peluncur roket portabel di atas kapal perang Caesar Kunikov seperti foto-foto yang dilansir media Turki tidak melanggar Konvensi Montreux 1936. Konvensi itu membolehkan segala jenis kapal melewati Selat Bosphorus.
Menurutnya, pihak Turki telah gagal untuk menjelaskan kepada diplomat Rusia tentang apa sebenarnya dugaan pelanggaran yang dituduhkan.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, meluapkan kemarahannya atas manuver tentara Rusia di kapal perang itu. Dia menyebut aksi itu sebagai tindakan provokasi Rusia terhadap negaranya.
”Saya berharap itu adalah insiden yang terisolasi, itu bukan pendekatan yang tepat,” katanya. Dia menyerukan Rusia bertindak sebagai “negara yang lebih dewasa”.
Kedua negara itu telah terlibat ketegangan setelah pesawat tempur F-16 Turki menembak jatuh pesawat jet pembom Su-24 Rusia di perbatasan Suriah-Turki. Ankara menuduh pesawat Su-24 Rusia melanggar wilayah udaranya, tapi Moskow menyangkal. Turki menolak meminta maaf pada Rusia atas penembakan itu, dan puncaknya Kremlin menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Turki.
(mas)