Presiden Mesir Minta Pertanggungjawaban NATO Soal Libya
Rabu, 04 November 2015 - 17:05 WIB
Presiden Mesir Minta Pertanggungjawaban NATO Soal Libya
A
A
A
KAIRO - Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menyerukan kepada NATO untuk membantu membangun kembali Libya yang kini mengalami kevakuman pemerintahan. Pasca jatuhnya Muammar Khadafi lewat pemberontakan yang didukung oleh Barat, Libya hingga hari ini masih dilanda kekerasan dan perang saudara.
"Libya adalah bahaya yang mengancam kita semua. Jika tidak ada pemerintahan, maka ini hanya menciptakan kevakuman dimana kelompok ekstrimis bisa tumbuh subur dan makmur," kata al-Sisi seperti dikutip dari laman Al Arabiya, Rabu (4/11/2015).
Libya berada dalam kekacauan sejak diktator Muammar Khadafi digulingkan lewat pemberontakan yang didukung oleh negara-negara NATO. Tidak adanya pemerintahan yang solid membuat kondisi keamanan di Libya menjardi rapuh.
Hal ini dikarenakan kelompok-kelompok bersenjata berjuang untuk mengontrol sumber daya energi. Alhasil, kondisi ini membuat Libya menjadi titik utama penyelundupan manusia.
Selain itu, kondisi ini juga coba dimanfaatkan oleh ISIS untuk membangun eksistensinya. Mereka bahkan mencoba untuk menguasai ladang minyak di Libya agar bisa menjadi sumber keuangan bagi kelompok tersebut.
"Kita perlu untuk menghentikan aliran dana dan senjata serta pejuang asing ke kelompok ekstrimis. Semua anggota NATO, termasuk Inggris, yang mengambil bagian dalam misi menggulingkan Khadafi harus memberikan bantuan mereka," kata al-Sisi.
Pernyataan al-Sisi ini dilontarkan satu pekan jelang kunjungannya ke Inggris untuk bertemu dengan Perdana Menteri David Cameron. Ini adalah kunjungan pertama al-Sisi ke Inggris sejak tahun 2013 pasca jatuhnya Presiden Mohammad Morsi dari kursi kepresidenan.
"Libya adalah bahaya yang mengancam kita semua. Jika tidak ada pemerintahan, maka ini hanya menciptakan kevakuman dimana kelompok ekstrimis bisa tumbuh subur dan makmur," kata al-Sisi seperti dikutip dari laman Al Arabiya, Rabu (4/11/2015).
Libya berada dalam kekacauan sejak diktator Muammar Khadafi digulingkan lewat pemberontakan yang didukung oleh negara-negara NATO. Tidak adanya pemerintahan yang solid membuat kondisi keamanan di Libya menjardi rapuh.
Hal ini dikarenakan kelompok-kelompok bersenjata berjuang untuk mengontrol sumber daya energi. Alhasil, kondisi ini membuat Libya menjadi titik utama penyelundupan manusia.
Selain itu, kondisi ini juga coba dimanfaatkan oleh ISIS untuk membangun eksistensinya. Mereka bahkan mencoba untuk menguasai ladang minyak di Libya agar bisa menjadi sumber keuangan bagi kelompok tersebut.
"Kita perlu untuk menghentikan aliran dana dan senjata serta pejuang asing ke kelompok ekstrimis. Semua anggota NATO, termasuk Inggris, yang mengambil bagian dalam misi menggulingkan Khadafi harus memberikan bantuan mereka," kata al-Sisi.
Pernyataan al-Sisi ini dilontarkan satu pekan jelang kunjungannya ke Inggris untuk bertemu dengan Perdana Menteri David Cameron. Ini adalah kunjungan pertama al-Sisi ke Inggris sejak tahun 2013 pasca jatuhnya Presiden Mohammad Morsi dari kursi kepresidenan.
(ian)