Memanas, Iran dan Saudi Saling Tuduh sebagai Biang Konflik
Selasa, 20 Oktober 2015 - 15:44 WIB
Memanas, Iran dan Saudi Saling Tuduh sebagai Biang Konflik
A
A
A
RIYADH - Perseteruan Iran dan Arab Saudi kembali memanas. Kedua pihak kini saling tuduh sebagai biang konflik di Timur Tengah dan sekitarnya.
Komentar saling tuduh itu dimulai dari komentara Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel Al-Jubeir, yang menuding Teheran membuat negara-negara di Timur Tengah tidak stabil.
Jubeir mencontohkan Iran mempersenjatai rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad dan mengirim “milisi Syiah” untuk berperang bersama pasukan Suriah dalam memerangi pasukan oposisi moderat.
Dia kembali menyerukan Assad untuk lengser. Jubeir juga meragukan upaya Iran menciptakan perdamaian di Suriah.
Tak terima dengan tuduhan Saudi, Iran menuding balik Riyadh sebagai biang konflik dengan melakukan peran sebagai pemecah belah negara-negara di Timur Tengah dan sekitarnya.
”Satu-satunya negara yang terus mengambil pendekatan ‘zero-sum’ untuk perkembangan regional dan mencoba untuk menghilangkan kekuatan lain adalah Arab Saudi, serta melakukan pendekatan yang tidak konstruktif dan buntu,” kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Marzieh Afkham.
“Menteri luar negeri Arab (saudi), yang negaranya telah mengambil pendekatan militer dan membina ekstremisme di daerah konflik tidak memenuhi syarat untuk berbicara tentang peran Iran dalam wilayah ini,” lanjut Afkham seperti dikutip kantor berita Reuters, Selasa (20/10/2015).
Kedua negara itu selama ini dianggap mewakili dua kelompok sektarian yang kerap berseteru di Timur Tengah dan sekitarnya, yakni kelompok Sunni dan Syiah. Kedua negara tersebut juga telah berperan aktif dalam konflik di Suriah dan Yaman.
Di Suriah, Saudi mendukung pasukan pemberontak sedangkan Iran mendukung pasukan rezim Suriah. Kemudian di Yaman, Saudi melakukan agresi militer untuk membela Pemerintah Yaman, sedangkan Iran dituding mendukung pemberontak Houthi.
Komentar saling tuduh itu dimulai dari komentara Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel Al-Jubeir, yang menuding Teheran membuat negara-negara di Timur Tengah tidak stabil.
Jubeir mencontohkan Iran mempersenjatai rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad dan mengirim “milisi Syiah” untuk berperang bersama pasukan Suriah dalam memerangi pasukan oposisi moderat.
Dia kembali menyerukan Assad untuk lengser. Jubeir juga meragukan upaya Iran menciptakan perdamaian di Suriah.
Tak terima dengan tuduhan Saudi, Iran menuding balik Riyadh sebagai biang konflik dengan melakukan peran sebagai pemecah belah negara-negara di Timur Tengah dan sekitarnya.
”Satu-satunya negara yang terus mengambil pendekatan ‘zero-sum’ untuk perkembangan regional dan mencoba untuk menghilangkan kekuatan lain adalah Arab Saudi, serta melakukan pendekatan yang tidak konstruktif dan buntu,” kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Marzieh Afkham.
“Menteri luar negeri Arab (saudi), yang negaranya telah mengambil pendekatan militer dan membina ekstremisme di daerah konflik tidak memenuhi syarat untuk berbicara tentang peran Iran dalam wilayah ini,” lanjut Afkham seperti dikutip kantor berita Reuters, Selasa (20/10/2015).
Kedua negara itu selama ini dianggap mewakili dua kelompok sektarian yang kerap berseteru di Timur Tengah dan sekitarnya, yakni kelompok Sunni dan Syiah. Kedua negara tersebut juga telah berperan aktif dalam konflik di Suriah dan Yaman.
Di Suriah, Saudi mendukung pasukan pemberontak sedangkan Iran mendukung pasukan rezim Suriah. Kemudian di Yaman, Saudi melakukan agresi militer untuk membela Pemerintah Yaman, sedangkan Iran dituding mendukung pemberontak Houthi.
(mas)