Ditinggal NATO, Para Penterjemah Afghanistan Diburu Taliban
Sabtu, 19 September 2015 - 18:08 WIB
Ditinggal NATO, Para Penterjemah Afghanistan Diburu Taliban
A
A
A
KABUL - Para warga Afghanistan yang jadi penterjemah bahasa untuk NATO kini diburu Taliban untuk dibunuh. Mereka diburu Taliban setelah ditinggalkan NATO karena jasa mereka tidak dipakai lagi.
Ada dua pria mantan penterjemah Afghanistan untuk NATO tahun 2005 yang bersedia berbagi cerita tentang nasib mereka yang terus terancam. Mereka berbagi cerita dengan Russia Today, dengan syarat wajah ditutupi dan lokasi mereka tidak dipublikasikan.
”Saya bersama NATO di berbagai bagian operasinya, terutama ketika mereka latihan dan patroli keamanan. Setelah 2013, ketika saya ditinggalkan NATO, saya diancam oleh Taliban di provinsi saya sendiri melalui surat dan telepon,” kata seorang mantan penterjemah yang identitasnya minta dilindungi, Sabtu (19/9/2015).
”Mereka (Taliban) mengatakan bahwa saya seorang mata-mata untuk orang-orang kafir, dan (bila) setiap kali mereka menangkap saya, mereka akan membunuh saya," katanya. Menurutnya, Taliban akan melakukan cara apapun untuk memburunya. Bahkan rumahnya di Provinsi Ghazni telah dihancurkan oleh Taliban.
Pria itu meminta bantuan dari NATO berharap tidak diabaikan. Tapi, hasilnya mengecewakan. “Hal ini menjadi jelas bahwa mereka tidak peduli tentang pekerjaan kami untuk mereka,” ujarnya.
Yang membuat para mantan penterjemah itu salah satunya pernyataan NATO yang tidak bisa memberikan visa pada mereka, karena kebijakan negara-negara NATO tunduk pada hukum dan prosedur.
Salah satu mantan penterjemah Afghanistan yang pernah bekerja untuk pasukan Inggris kecewa karena tidak diberikan suaka di Inggris. Dari sekitar 600 mantan penterjemah Afghanistan saat ini yang memenuhi syarat untuk mendapatkan visa di Inggris, hanya 31 orang yang telah diberikan suaka.
Ada dua pria mantan penterjemah Afghanistan untuk NATO tahun 2005 yang bersedia berbagi cerita tentang nasib mereka yang terus terancam. Mereka berbagi cerita dengan Russia Today, dengan syarat wajah ditutupi dan lokasi mereka tidak dipublikasikan.
”Saya bersama NATO di berbagai bagian operasinya, terutama ketika mereka latihan dan patroli keamanan. Setelah 2013, ketika saya ditinggalkan NATO, saya diancam oleh Taliban di provinsi saya sendiri melalui surat dan telepon,” kata seorang mantan penterjemah yang identitasnya minta dilindungi, Sabtu (19/9/2015).
”Mereka (Taliban) mengatakan bahwa saya seorang mata-mata untuk orang-orang kafir, dan (bila) setiap kali mereka menangkap saya, mereka akan membunuh saya," katanya. Menurutnya, Taliban akan melakukan cara apapun untuk memburunya. Bahkan rumahnya di Provinsi Ghazni telah dihancurkan oleh Taliban.
Pria itu meminta bantuan dari NATO berharap tidak diabaikan. Tapi, hasilnya mengecewakan. “Hal ini menjadi jelas bahwa mereka tidak peduli tentang pekerjaan kami untuk mereka,” ujarnya.
Yang membuat para mantan penterjemah itu salah satunya pernyataan NATO yang tidak bisa memberikan visa pada mereka, karena kebijakan negara-negara NATO tunduk pada hukum dan prosedur.
Salah satu mantan penterjemah Afghanistan yang pernah bekerja untuk pasukan Inggris kecewa karena tidak diberikan suaka di Inggris. Dari sekitar 600 mantan penterjemah Afghanistan saat ini yang memenuhi syarat untuk mendapatkan visa di Inggris, hanya 31 orang yang telah diberikan suaka.
(mas)