AS: Rusia Tumpaslah ISIS Ketimbang Kerahkan Militer di Suriah
Rabu, 16 September 2015 - 09:20 WIB
AS: Rusia Tumpaslah ISIS Ketimbang Kerahkan Militer di Suriah
A
A
A
WASHINGTON - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mendesak Rusia menumpas ISIS bersama koalisi internasional yang dipimpin AS ketimbang mengerahkan kekuatan militer di Suriah untuk membela Presiden Bashar al-Assad.
Desakan itu disampaikan juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest, Selasa waktu AS. Dia mengatakan, Presiden Barack Obama tidak berbicara dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, tentang masalah perang terhadap kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
Obama dan Putin jarang berkomunikasi sejak krisis Ukraina pecah. Hubungan kedua negara itu juga memburuk ketika AS menjatuhkan sanksi terhadap banyak tokoh dan perusahaan Rusia. Sanksi dijatuhkan, karena Rusia dianggap melakukan intervensi dalam krisis Ukraina.
”Apa yang lebih kami pilih adalah melihat Rusia terlibat lebih konstruktif bersama koalisi 60 negara yang dipimpin oleh AS yang fokus manjatuhkan dan menghancurkan ISIS,” kata Earnest, seperti dikutip Reuters, Rabu (16/9/2015).
Rusia sendiri menghendaki pembentukan koalisi internasional penumpas ISIS yang di dalamnya melibatkan rezim Suriah. Sedangkan AS menolak Suriah bergabung dalam koalisi internasional untuk memerangi ISIS.
Kremlin pada akhirnya tetap memberikan dukungan militer pada rezim Suriah untuk memerangi ISIS. Laporan terbaru, Suriah sudah mengerahkan beberapa tank tempur di wilayah Suriah.
Keputusan Kremlin itu membuat cemas AS dengan alasan kehadiran militer Rusia justru memperburuk situasi dan bisa memicu konfrontasi dengan koalisi yang dipimpin AS.
Desakan itu disampaikan juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest, Selasa waktu AS. Dia mengatakan, Presiden Barack Obama tidak berbicara dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, tentang masalah perang terhadap kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
Obama dan Putin jarang berkomunikasi sejak krisis Ukraina pecah. Hubungan kedua negara itu juga memburuk ketika AS menjatuhkan sanksi terhadap banyak tokoh dan perusahaan Rusia. Sanksi dijatuhkan, karena Rusia dianggap melakukan intervensi dalam krisis Ukraina.
”Apa yang lebih kami pilih adalah melihat Rusia terlibat lebih konstruktif bersama koalisi 60 negara yang dipimpin oleh AS yang fokus manjatuhkan dan menghancurkan ISIS,” kata Earnest, seperti dikutip Reuters, Rabu (16/9/2015).
Rusia sendiri menghendaki pembentukan koalisi internasional penumpas ISIS yang di dalamnya melibatkan rezim Suriah. Sedangkan AS menolak Suriah bergabung dalam koalisi internasional untuk memerangi ISIS.
Kremlin pada akhirnya tetap memberikan dukungan militer pada rezim Suriah untuk memerangi ISIS. Laporan terbaru, Suriah sudah mengerahkan beberapa tank tempur di wilayah Suriah.
Keputusan Kremlin itu membuat cemas AS dengan alasan kehadiran militer Rusia justru memperburuk situasi dan bisa memicu konfrontasi dengan koalisi yang dipimpin AS.
(mas)