Perwira AS Terkait Kasus Pembunuhan Lari ke Indonesia
Jum'at, 24 Juli 2015 - 09:22 WIB
Perwira AS Terkait Kasus Pembunuhan Lari ke Indonesia
A
A
A
AUSTIN - Seorang perwira polisi Austin, Amerika Serikat (AS) bernama VonTrey Clark, 32, yang terkait kasus pembunuhan Samantha Dean, melarikan diri ke Indonesia. Perwira AS itu telah dipecat.
Departemen Kepolisian Austin mengkonfirmasi bahwa Clark telah meninggalkan AS. Dia dipecat pada hari Kamis waktu setempat.
Kepala Polisi Austin, Art Acevedo, dalam sebuah memo menyatakan, bahwa Clark menolak hadir untuk pemeriksaan yang dijadwalkan apda 18 Juli 2015. Pada jadwal pemeriksaan selanjutnya, yakni pada 23 Juli 2015, Clark juga tidak hadir.
Menurut memo itu, Clark terbang ke Indonesia—negara yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan AS—pada 17 Juli 2015. Departemen Kepolisian Austin tidak memiliki kontak lagi dengan Clark.
”Saya hanya bisa memaksakan tindakan disiplin atas pelanggaran kebijakan administratif yang melibatkan perwira Clark dalam rangka mempertahankan integritas dan tidak membahayakan investigasi kriminal,” bunyi memo Acevedo, seperti dilansir Kxan.com, Kamis (23/7/2015).
Selama konferensi pers pada Kamis sore, Acevedo mengirim pesan langsung untuk Clark. ”Jika Anda memiliki harga diri, memiliki rasa kemanusiaan, Clark, pulanglah dari pesawat itu dan pulang ke Austin,” katanya.
Acevedo melanjutkan bahwa dia telah melakukan kontak dengan keluarga Dean, korban pembunuhan yang diduga melibatkan Clark. ”Pada titik tertentu, saya telah mengatakan kepada Ayah dan Ibu Dean. Prioritas nomor satu saya sebagai kepala polisi adalah membawa mereka yang bertanggung jawab atas kematian wanita muda dengan senyum yang cantik serta dengan anak yang belum dilahirkannya, ke pengadilan,” ujarnya.
“Dan sekarang dia (Clark) di luar negeri, saya dapat meyakinkan di beberapa titik, mitra federal kami akan terlibat dalam investigasi yang sedang berlangsung ini, yang berkaitan dengan kasus pidana,” ujarnya.
Pengacara Clark, Bristol Myers mengeluarkan pernyataan terkait dengan keberadaan kliennya. “Kepala (Polisi Austin) berkomentar fitnah hari ini, kantornya telah diduga melakukan salah satu pelanggaran kebijakan sepele demi menindak perwira Clark,” ujarnya.
Pada awal bulan ini, dokumen pengadilan mengungkapkan rincian lebih lanjut mengenai hubungan antara Dean dan Clark. Clark mengatakan kepada penyelidik, bahwa dia memiliki “hubungan seksual” dengan Dean lebih dari tujuh tahun terakhir. Clark yang diduga membunuh Dean diyakini sebagai ayah biologis yang dikandung Dean. Sebuah dokumen juga menyebut bahwa Clark memaksa Dean melakukan aborsi.
Departemen Kepolisian Austin mengkonfirmasi bahwa Clark telah meninggalkan AS. Dia dipecat pada hari Kamis waktu setempat.
Kepala Polisi Austin, Art Acevedo, dalam sebuah memo menyatakan, bahwa Clark menolak hadir untuk pemeriksaan yang dijadwalkan apda 18 Juli 2015. Pada jadwal pemeriksaan selanjutnya, yakni pada 23 Juli 2015, Clark juga tidak hadir.
Menurut memo itu, Clark terbang ke Indonesia—negara yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan AS—pada 17 Juli 2015. Departemen Kepolisian Austin tidak memiliki kontak lagi dengan Clark.
”Saya hanya bisa memaksakan tindakan disiplin atas pelanggaran kebijakan administratif yang melibatkan perwira Clark dalam rangka mempertahankan integritas dan tidak membahayakan investigasi kriminal,” bunyi memo Acevedo, seperti dilansir Kxan.com, Kamis (23/7/2015).
Selama konferensi pers pada Kamis sore, Acevedo mengirim pesan langsung untuk Clark. ”Jika Anda memiliki harga diri, memiliki rasa kemanusiaan, Clark, pulanglah dari pesawat itu dan pulang ke Austin,” katanya.
Acevedo melanjutkan bahwa dia telah melakukan kontak dengan keluarga Dean, korban pembunuhan yang diduga melibatkan Clark. ”Pada titik tertentu, saya telah mengatakan kepada Ayah dan Ibu Dean. Prioritas nomor satu saya sebagai kepala polisi adalah membawa mereka yang bertanggung jawab atas kematian wanita muda dengan senyum yang cantik serta dengan anak yang belum dilahirkannya, ke pengadilan,” ujarnya.
“Dan sekarang dia (Clark) di luar negeri, saya dapat meyakinkan di beberapa titik, mitra federal kami akan terlibat dalam investigasi yang sedang berlangsung ini, yang berkaitan dengan kasus pidana,” ujarnya.
Pengacara Clark, Bristol Myers mengeluarkan pernyataan terkait dengan keberadaan kliennya. “Kepala (Polisi Austin) berkomentar fitnah hari ini, kantornya telah diduga melakukan salah satu pelanggaran kebijakan sepele demi menindak perwira Clark,” ujarnya.
Pada awal bulan ini, dokumen pengadilan mengungkapkan rincian lebih lanjut mengenai hubungan antara Dean dan Clark. Clark mengatakan kepada penyelidik, bahwa dia memiliki “hubungan seksual” dengan Dean lebih dari tujuh tahun terakhir. Clark yang diduga membunuh Dean diyakini sebagai ayah biologis yang dikandung Dean. Sebuah dokumen juga menyebut bahwa Clark memaksa Dean melakukan aborsi.
(mas)