Pensiunan Jenderal Sarankan AS Bangun Kamp ala PD II
Selasa, 21 Juli 2015 - 23:05 WIB
Pensiunan Jenderal Sarankan AS Bangun Kamp ala PD II
A
A
A
WASHINGTON - Seorang pensiunan Jenderal Amerika Serikat (AS), Wesley Clark menyarankan Pemerintah AS membangun kamp seperti yang digunakan untuk menahan simpatisan Nazi pada masa Perang Dunia II. Kamp ini, lanjut Clark, digunakan untuk "mensterilkan" pemuda AS dan negara Barat lainnya yang terjebak paham radikal.
Clark mengatakan, pemerintah AS dan negara Barat lainnya harus bisa mengidentifikasi pemuda-pemuda yang terjerumus paham radikal. Lalu, pada pemuda tersebut dimasukan kepada kamp untuk disterilkan dari paham-paham itu.
"Kita harus mengidentifikasi orang-orang yang paling mungkin terjerumus paham radikal. Kita harus memotong ini dari awal," kata Jenderal yang pernah memimpin pasukan NATO selama perang Kosovo tersebut.
"Saya pikir pada tingkat kebijakan nasional kita perlu melihat apa yang dimaksud dengan paham radikalisme, karena kita berperang dengan kelompok teroris," sambungnya, seperti dilansir Russia Today pada Selasa (21/7/2015).
Dirinya menuturkan, ide pembangunan kamp ini muncul dari pengalamannya selama Perang Dunia II. Kala itu, setiap orang yang mendukung Nazi akan dimasukan ke dalam sebuah kamp khusus, dan dijadikan tahanan perang.
"Dalam Perang Dunia II, jika seseorang mendukung Nazi Jerman dengan mengorbankan AS, kita tidak mengatakan bahwa itu kebebasan berbicara, kami menempatkan dia di sebuah kamp, mereka menjadi tawanan perang," katanya.
"Jadi, jika orang-orang ini sudah terjerumus paham radikal dan mereka tidak mendukung AS dan mereka tidak setia kepada AS karena masalah prinsip, baik, itu hak mereka. Namun, itu hak kami dan kewajiban kami juga untuk memisahkan mereka dari masyarakat yang normal selama konflik," imbuhnya.
Clark mengatakan, pemerintah AS dan negara Barat lainnya harus bisa mengidentifikasi pemuda-pemuda yang terjerumus paham radikal. Lalu, pada pemuda tersebut dimasukan kepada kamp untuk disterilkan dari paham-paham itu.
"Kita harus mengidentifikasi orang-orang yang paling mungkin terjerumus paham radikal. Kita harus memotong ini dari awal," kata Jenderal yang pernah memimpin pasukan NATO selama perang Kosovo tersebut.
"Saya pikir pada tingkat kebijakan nasional kita perlu melihat apa yang dimaksud dengan paham radikalisme, karena kita berperang dengan kelompok teroris," sambungnya, seperti dilansir Russia Today pada Selasa (21/7/2015).
Dirinya menuturkan, ide pembangunan kamp ini muncul dari pengalamannya selama Perang Dunia II. Kala itu, setiap orang yang mendukung Nazi akan dimasukan ke dalam sebuah kamp khusus, dan dijadikan tahanan perang.
"Dalam Perang Dunia II, jika seseorang mendukung Nazi Jerman dengan mengorbankan AS, kita tidak mengatakan bahwa itu kebebasan berbicara, kami menempatkan dia di sebuah kamp, mereka menjadi tawanan perang," katanya.
"Jadi, jika orang-orang ini sudah terjerumus paham radikal dan mereka tidak mendukung AS dan mereka tidak setia kepada AS karena masalah prinsip, baik, itu hak mereka. Namun, itu hak kami dan kewajiban kami juga untuk memisahkan mereka dari masyarakat yang normal selama konflik," imbuhnya.
(esn)