Inggris: Iran Harus Ubah Kebijakan di Yaman dan Suriah
Minggu, 19 Juli 2015 - 16:16 WIB
Inggris: Iran Harus Ubah Kebijakan di Yaman dan Suriah
A
A
A
LONDON - Paska dicapainya kesepakatan nuklir, Perdana Menteri Inggris David Cameron mengharapkan adanya perubahan kebijakan yang diambil Iran di kawasan Timur Tengah. Dirinya menekankan kebijakan Iran di dua negara, yakni Suriah dan Yaman.
Seperti diketahui, Iran adalah pihak yang mendukung rezim Bashar al-Assad di Suriah dan pemberontak Houthi di Yaman. Hal ini betolak belakang dengan kebijakan Barat di dunia negara tersebut, dimana Barat mencoba menggulingkan Assad dan mengalahkan Houthi.
"Saya sudah berbicara dengan Presiden Iran kemarin, dan saya mengatakan mengatakan bahwa kami ingin melihat perubahan pendekatan yang diambil Iran dalam isu di Suriah dan Yaman, dan juga terorisme di kawasan ini (Timur Tengah)," kata Cameron.
"Kami ingin melihat perubahan perilaku Iran," sambungnya kala melakukan wawancara dengan NBC News, seperti dilansir Sputnik pada MInggu (19/7/2015). Selain itu, sama halnya dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama, Cameron juga menyebut bahwa kesepakatan tersebut bisa membawa perubahan situasi yang siginifikan di Timur Tengah.
Kesepakatan ini juga telah mencegah terjadinya perang besar di kawsan tersebut. "Tanpa adanya kesepakatan, Iran akan memperoleh senjata nuklir dan negara-negara Barat mungkin harus memulai operias militer mereka di kawasan tersebut, untuk melakukan perlawanan terhadap Iran," imbuh Cameron.
Seperti diketahui, Iran adalah pihak yang mendukung rezim Bashar al-Assad di Suriah dan pemberontak Houthi di Yaman. Hal ini betolak belakang dengan kebijakan Barat di dunia negara tersebut, dimana Barat mencoba menggulingkan Assad dan mengalahkan Houthi.
"Saya sudah berbicara dengan Presiden Iran kemarin, dan saya mengatakan mengatakan bahwa kami ingin melihat perubahan pendekatan yang diambil Iran dalam isu di Suriah dan Yaman, dan juga terorisme di kawasan ini (Timur Tengah)," kata Cameron.
"Kami ingin melihat perubahan perilaku Iran," sambungnya kala melakukan wawancara dengan NBC News, seperti dilansir Sputnik pada MInggu (19/7/2015). Selain itu, sama halnya dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama, Cameron juga menyebut bahwa kesepakatan tersebut bisa membawa perubahan situasi yang siginifikan di Timur Tengah.
Kesepakatan ini juga telah mencegah terjadinya perang besar di kawsan tersebut. "Tanpa adanya kesepakatan, Iran akan memperoleh senjata nuklir dan negara-negara Barat mungkin harus memulai operias militer mereka di kawasan tersebut, untuk melakukan perlawanan terhadap Iran," imbuh Cameron.
(esn)