Balas Dendam, China Blokir Visa untuk Korea Selatan dan Jepang

Rabu, 11 Januari 2023 - 04:39 WIB
loading...
Balas Dendam, China...
China berhenti mengeluarkan visa jangka pendek kepada individu dari Korea Selatan (Korsel) dan Jepang sebagai balasan atas pembatasan Covid-19 pada pelancong asal negeri itu. Foto/Reuters
A A A
BEIJING - China berhenti mengeluarkan visa jangka pendek kepada individu dari Korea Selatan (Korsel) dan Jepang sebagai balasan atas pembatasan Covid-19 pada pelancong asal negeri itu. Beijing mengatakan jeda visa Korsel akan tetap berlaku sampai pembatasan masuk yang "diskriminatif" terhadap China dicabut.

Jepang dan Korsel bukan satu-satunya negara yang memberlakukan persyaratan masuk bagi pelancong dari China, di mana kasus Covid-19 melonjak, tetapi tindakan mereka termasuk yang paling ketat.

Pekan lalu, Korsel berhenti mengeluarkan visa turis bagi mereka yang datang dari China, yang oleh kementerian luar negeri China disebut "tidak dapat diterima" dan "tidak ilmiah".

Sementara itu, Jepang saat ini mengizinkan pengunjung China masuk ke negara itu asalkan mereka dinyatakan negatif Covid-19. Ini mirip dengan Inggris dan Amerika Serikat (AS), tetapi Jepang juga membatasi penerbangan dari China ke kota-kota tertentu.

Kedutaan Besar Beijing di Seoul dan Tokyo mengkonfirmasi pembatasan visa baru bagi pengunjung ke China seperti dikutip dari BBC, Rabu (11/1/2023).

China membuka kembali perbatasannya pada Minggu untuk pertama kalinya sejak Maret 2020 sebagai bagian dari penghapusan kebijakan "nol-Covid".

Menanggapi pembatasan visa terbaru China, Kementerian Luar Negeri Korsel mengatakan kepada BBC bahwa kebijakannya terhadap kedatangan dari China sesuai dengan bukti ilmiah dan obyektif.

Menurut Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korsel, sekitar sepertiga dari semua kedatangan dari China dinyatakan positif Covid-19 sebelum pembatasan visa diberlakukan.

Baca: Dampak Pelonggaran Aturan, Turis China Ramai-ramai Kunjungi Thailand

Di Bandara Internasional Incheon Seoul - satu-satunya bandara Korsel yang masih memungkinkan penerbangan dari China - kedatangan disambut oleh personel militer dengan peralatan pelindung diri.

BBC berhasil berbicara dengan beberapa dari mereka saat mereka diantar ke pusat pengujian bandara.

"Secara pribadi, saya pikir tidak apa-apa. Saya telah mengalami jauh lebih buruk selama pandemi ini," kata William, seorang pengusaha asal Shanghai.

"Sebagai seorang pelancong saya hanya berusaha untuk mematuhi kebijakan sebanyak mungkin," imbuhnya.

Tapi penumpang lain tidak setuju.

"Menurut saya itu sama sekali tidak ilmiah," kata Emily, yang datang dari Hong Kong.

Dia, seperti mereka yang datang dari daratan China, diharuskan untuk menjalani tes.

"Aku merasa agak tidak adil di sisi ini. Mereka pasti merasa sangat tidak aman, kurasa," ujarnya.

Banyak warga Korsel mendukung gagasan untuk melindungi negara mereka dari lonjakan virus corona China - tetapi tidak semua yakin bahwa keputusan itu murni medis.

Baca: Bye-bye Nol-Covid! Perbatasan Kembali Dibuka, Warga Hong Kong Mudik ke China

"Ada unsur politik di dalamnya dan hubungan antara kedua negara tidak baik. Banyak orang Korea menyimpan banyak permusuhan menyalahkan China atas virus corona," kata Jinsun, yang sedang menuju Abu Dhabi.

Wanita lain yang berbulan madu ke Paris mengatakan Korsel mungkin tidak akan menerapkan aturan seperti itu jika negara yang bersangkutan bukan China.

"Tapi sekali lagi, apa pun yang kami lakukan, China akan bermasalah dengan itu," katanya.

Pembatasan Korsel seharusnya berlangsung setidaknya hingga akhir bulan, yang akan memberi para ilmuwan waktu untuk menganalisis potensi varian baru yang datang dari China.

"Saat ini tidak ada transparansi di China tentang pemantauan varian baru. Jika varian baru berasal dari China, itu akan menjadi situasi yang sangat sulit bagi seluruh dunia," Profesor Kim Woo-joo, pakar penyakit menular di Universitas Korea dan seorang penasihat pemerintah, kepada BBC.

"Itu juga akan menjadi bencana bagi sistem perawatan kesehatan Korea. Saat ini kami sudah memiliki banyak rawat inap dan kematian dan orang tua kami juga kurang divaksinasi. Inilah yang kami khawatirkan," imbuhnya.

Saat ini, hanya sejumlah kecil pelancong bisnis atau diplomatik dari China yang diizinkan masuk ke Korsel. Mereka harus dites negatif sebelum keberangkatan dan juga pada saat kedatangan.

Sebelumnya, seorang pria China yang dites positif melarikan diri dari bus yang membawanya ke hotel karantina dekat bandara. Dua hari kemudian dia ditangkap polisi di sebuah hotel di Seoul.

Baca: Positif Covid-19, Warga China Hilang dari Karantina di Korsel
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
Korea Utara Marah AS...
Korea Utara Marah AS Jual Rudal Canggih ke Korea Selatan, Menyebutnya Ekspor Perang
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Dari Infrastruktur ke...
Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan
Pendaftaran Program...
Pendaftaran Program Magang ke Jepang Dibuka Kemnaker, Begini Caranya
Ayatollah Ali Khamenei...
Ayatollah Ali Khamenei Akan Dimakamkan pada 9 Juli
AS Klaim Perjanjian...
AS Klaim Perjanjian Damai dengan Iran Diteken Hari Ini, Teheran: Tak  Akan Terjadi!
Rekomendasi
Jerman vs Curacao: Sang...
Jerman vs Curacao: Sang Debutan Jadi Ujian Perdana Die Mannschaft
Berawal dari HP Kentang,...
Berawal dari HP Kentang, Adang Haedaroh Sukses Jadi Kreator Gaming dengan 61 Ribu Followers
Belanda vs Jepang Tanpa...
Belanda vs Jepang Tanpa Gol di Babak Pertama, Samurai Biru Tahan Gempuran Oranje
Berita Terkini
Warga China dan Rusia...
Warga China dan Rusia Berlomba Melahirkan Bayi di AS demi Status Kewarganegaraan
Perjanjian Damai Iran...
Perjanjian Damai Iran Jadi Kekalahan Paling Memalukan bagi AS, Ini 3 Alasannya
Setelah 4 Bulan Berperang,...
Setelah 4 Bulan Berperang, Ini 7 Hal yang Membuat Iran Lebih Kuat
Berlatih di Tijuana,...
Berlatih di Tijuana, Timnas Iran Dikawal 300 Pasukan Elite Meksiko
Jika Dicairkan, Aset...
Jika Dicairkan, Aset Beku Iran Jadi Oksigen Segar untuk Kebangkitan Ekonomi Iran
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
Infografis
Megawati Hangestri Gabung...
Megawati Hangestri Gabung Hyundai Hillstate di Liga Voli Korea Selatan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved