Kaleidoskop 2022: Tepi Barat dan Yerusalem Membara, Israel Ingin Habisi Perlawanan

Selasa, 27 Desember 2022 - 17:41 WIB
loading...
A A A
Sejalan dengan intensifikasi penangkapan, militer Israel dengan sengaja meningkatkan pembunuhan ekstra-yudisial yang ditargetkan terhadap warga Palestina, yaitu para pejuang perlawanan.

Hal ini mengakibatkan pembunuhan lebih dari 160 warga Palestina di Tepi Barat saja (49 orang lainnya tewas di Gaza selama serangan bulan Agustus).

Peran Otoritas Palestina dalam Menumpas Perlawanan

Ketika Israel melanjutkan kampanyenya melawan kelompok-kelompok perlawanan Palestina, pemerintah dan angkatan bersenjata Israel telah menemukan mitra sejati dan teruji dalam penindasan mereka, Otoritas Palestina (PA).

Pada tanggal 19 September, pasukan keamanan PA, yang mempertahankan kebijakan koordinasi keamanan yang kontroversial dengan Israel, telah menggerebek kota Nablus dan menangkap dua pejuang perlawanan Palestina, Musaab Shtayyeh (30) dan Ameed Tbeileh (21).

Musaab Shtayyeh telah menjadi penerus tidak resmi Ibrahim al-Nabulsi, “Singa dari Nablus,” setelah pembunuhannya awal musim panas ini.

Dalam proses penggerebekan, yang memicu konfrontasi hebat di Nablus dan protes terhadap PA di Tepi Barat, pasukan keamanan PA membunuh Firas Yaish yang berusia 55 tahun.

Bagi sebagian besar masyarakat Palestina, serangan PA terhadap para pejuang di Nablus adalah serangan terhadap perlawanan Palestina, dan hanyalah contoh lain dari PA yang dituding justru melakukan pekerjaan kotor Israel.

Serangan yang ditargetkan terhadap perlawanan di Nablus terjadi hampir sepekan setelah Lapid dan Kochavi berbicara tentang peningkatan komunikasi dengan militer Israel dan pasukan keamanan PA dalam menargetkan perlawanan Palestina.

Cengkeraman Israel di Tepi Barat sebagian besar bergantung pada fasilitasi yang diberikan PA dalam mengawasi, menargetkan, menangkap aktivis, dan mengarahkan kembali keterlibatan politik Palestina menjauh dari wacana pembebasan.

Pada bulan-bulan terakhir tahun 2021 dan bulan-bulan pertama tahun ini, Otoritas Palestina telah melakukan kampanye besar-besaran melawan oposisi politik, termasuk menargetkan mahasiswa dan pemuda yang menunjukkan kritik atau konfrontasi terhadap legitimasi Otoritas Palestina.

Baru tahun lalu, pada 24 Juni 2021 pasukan keamanan PA menyerbu rumah calon Dewan Legislatif Palestina Nizar Banat, memukulinya sampai mati di depan istrinya, Jihan, dan keempat anaknya.

Tidak ada pertanggungjawaban yang dicapai atas kejahatan pembunuhan di luar hukum ini, yang digambarkan istrinya kepada Mondoweiss sebagai "lebih dekat dengan penyiksaan".

Kaleidoskop 2022: Tepi Barat dan Yerusalem Membara, Israel Ingin Habisi Perlawanan


Sementara Kochavi bersumpah meningkatkan eskalasi, Perdana Menteri Yair Lapid berbicara di PBB menyarankan kebangkitan solusi dua negara, mengarahkan pidatonya kepada rakyat Palestina, dengan mengatakan, “Kami dapat membangun masa depan Anda bersama, baik di Gaza maupun di Tepi Barat,” tetapi hanya jika warga Palestina dilucuti dan “membuktikan bahwa Hamas dan Jihad Islam tidak akan mengambil alih negara Palestina (yang ingin dibuat oleh PA).”

Pada bulan Juli 2022, sebelum Presiden AS Joe Biden mengunjungi kawasan tersebut, diplomat senior dari Departemen Luar Negeri sering melakukan kunjungan ke kawasan tersebut.

Namun, sebagian besar pertemuan dengan perwakilan Palestina difokuskan pada Majed Faraj dan Hussein Al-Sheikh.

Keduanya adalah komandan dalam urusan keamanan preventif dan administrasi sipil Palestina, dan sementara secara luas tidak populer di kalangan masyarakat Palestina, diposisikan sebagai calon penerus Presiden Palestina yang sudah tua, Mahmoud Abbas.

Pada usia 20 tahun, pejuang berinisial S baru mengetahui kebrutalan pemberontakan kedua, atau kegagalan PA dalam memberikan layanan dan perlindungan bagi warga Palestina. "Kami hidup di bawah dua pendudukan di sini," ungkap dia kesal.

Indikasi dari Apa yang Akan Datang

Wacana Israel saat ini menandakan kemungkinan tidak hanya meningkatnya kekerasan terhadap warga Palestina dengan cara yang mirip dengan Operasi Perisai Pertahanan di awal tahun 2000-an, tetapi juga paternalisme persepsi Israel terhadap warga Palestina.

Lapid menegaskan Israel akan membantu rakyat Palestina membangun masa depan mereka.

Pernyataan itu didukung penolakan kolonial paternalistik terhadap hak Palestina untuk menentukan nasib sendiri dan kedaulatan, karena dia menekankan perlunya melucuti senjata warga Palestina.

Memang, Tepi Barat telah didemiliterisasi di bawah PA sejak akhir Intifadah Kedua, namun sekarang tampaknya itu hanya sementara.

Karena kelompok-kelompok seperti Areen al-Usud terus mendapatkan kekuatan dan pengaruh populer, PA kemungkinan akan meningkatkan koordinasi keamanannya dengan Israel untuk memastikan senjata yang digunakan untuk melawan Israel tidak berbalik melawan PA besok.

Apakah publik Palestina yang lebih luas memilih berkumpul di sekitar kelompok perlawanan bersenjata yang muncul ini, dan mengubah momen saat ini menjadi pemberontakan besar-besaran, masih harus dilihat.

Tetapi efek yang ditimbulkan kelompok-kelompok ini pasti dirasakan, baik di media sosial maupun di jalanan.

Dengan tidak adanya perubahan pandangan mengenai ekspansi pemukim Yahudi dan pencurian kehidupan, tanah, dan sumber daya Palestina, realitas Palestina saat ini telah melahirkan cara berpikir dan tindakan baru.

Selama orang-orang Palestina tetap berada di bawah sepatu kolonialisme Israel, mereka akan terus melawan dan mengukir ruang-ruang baru yang memungkinkan mereka untuk berteriak “jangan lagi” secara kolektif.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menlu Iran Bilang Hamas:...
Menlu Iran Bilang Hamas: Gaza Penting dalam Negosiasi dengan AS
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
PBB Ungkap Israel Bunuh...
PBB Ungkap Israel Bunuh Lebih dari 20.000 Anak Palestina
Menteri Zionis: AS Akan...
Menteri Zionis: AS Akan Segera Berada di Jalur Bentrokan dengan Israel
Israel Intervensi Pilpres...
Israel Intervensi Pilpres Kolombia, Ini 4 Faktanya
Kandidat Kuat PM Inggris...
Kandidat Kuat PM Inggris Andy Burnham Dinilai Tidak Berpihak ke Palestina
Meski Terus Digempur...
Meski Terus Digempur Israel, Sekjen Hizbullah Tegaskan Seluruh Anggota Siap Mati!
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Umumkan Pengunduran Diri
Status Triliuner Elon...
Status Triliuner Elon Musk Hilang usai Saham SpaceX dan Tesla Anjlok
Rekomendasi
Miyako Gelar Lomba Desain,...
Miyako Gelar Lomba Desain, Ajak Mahasiswa Berkreasi dan Dukung Pendidikan di NTT
Komisi I Bangga TNI...
Komisi I Bangga TNI Ikut Urus Pertanian, Dave Laksono: Ini Bukan Kembali ke Dwifungsi
UKM Malaysia Tembus...
UKM Malaysia Tembus Peringkat 7 Dunia THE Sustainability Impact Ratings 2026
Berita Terkini
Iran Peringatkan Kapal-kapal...
Iran Peringatkan Kapal-kapal Tidak Melintasi Selat Hormuz Tanpa Izin
Korban Gempa Venezuela...
Korban Gempa Venezuela Bertambah, 164 Orang Tewas, 971 Luka-luka
Menlu Iran Bilang Hamas:...
Menlu Iran Bilang Hamas: Gaza Penting dalam Negosiasi dengan AS
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
PBB Ungkap Israel Bunuh...
PBB Ungkap Israel Bunuh Lebih dari 20.000 Anak Palestina
Venezuela Umumkan Keadaan...
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat setelah Diguncang 2 Gempa Dahsyat, 32 Orang Tewas
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved