Ternyata Corona Bisa Menyebar di Udara, Masker Wajib Dipakai
Kamis, 09 Juli 2020 - 06:41 WIB
loading...
Pengunjung Waduk Setu Babakan, Jakarta, memakai masker kemarin.Kawasan Setu Babakan yang sebelumnya ditutup selama tiga bulan saatpandemi Covid-19 tersebut, kembali beroperasi sejak 20 Juni 2020. Foto/SINDOnews/Isra Triansyah
A
A
A
LONDON - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk pertama kalinya mengakui bahwa virus corona bisa menyebar melalui partikel-partikel kecil di udara. Pengakuan tersebut setelah sekelompok ilmuwan meminta WHO memperbarui petunjuk penanganan Covid-19.
Padahal, sejak lama WHO menyalahkan klaim tentang penyebaran penyakit lewat cipratan kecil atau droplet yang dikeluarkan dari hidung atau mulut pasien yang terinfeksi. WHO hanya percaya bahwa virus corona menempel pada benda tertentu yang bisa menjadi medium dalam penyebaran. Dengan asumsi itu, jaga jarak (physical distancing) dan mengenakan masker merupakan solusi yang ditawarkan WHO untuk mencegah transmisi virus korona.
Namun, ketika penularan melalui udara akhirnya terkonfirmasi, saran mengenai cara mencegah penyebaran virus pun harus diubah. Termasuk penggunaan masker yang menjadi wajib dan jaga jarak yang harus ditetap dipertahankan. (Baca: Rusia Bantah Rencana Pembeli Su-35 oleh Indonesia Telah Dibatalkan)
WHO sebelumnya berpendapat bahwa tidak ada cukup bukti ilmiah untuk mengatakan bahwa orang sehat harus menggunakan masker. Dalam rekomendasinya WHO meminta masker yang bisa dipakai terbuat dari kain atau masker nonmedis. WHO selalu menyarankan agar masker medis dipakai hanya oleh orang yang sakit dan tenaga kesehatan. WHO juga menyebutkan bahwa masker wajah hanyalah satu dari serangkaian alat yang dapat digunakan untuk mengurangi risiko penularan dan tidak sifatnya sekadar memberi perasaan aman yang palsu.
Pemimpin Teknis Covid-19 di WHO, Maria van Kerkhove, mengakui dengan adanya risiko penyebaran virus corona melalui udara perlu pula menjadi perhatian bersama. “Kita telah berbicara tentang kemungkinan penyebaran melalui udara atau transmisi udara sebagai salah satu penyebaran Covid-19,” kata Maria dilansir Reuters.
Padahal, sejak lama WHO menyalahkan klaim tentang penyebaran penyakit lewat cipratan kecil atau droplet yang dikeluarkan dari hidung atau mulut pasien yang terinfeksi. WHO hanya percaya bahwa virus corona menempel pada benda tertentu yang bisa menjadi medium dalam penyebaran. Dengan asumsi itu, jaga jarak (physical distancing) dan mengenakan masker merupakan solusi yang ditawarkan WHO untuk mencegah transmisi virus korona.
Namun, ketika penularan melalui udara akhirnya terkonfirmasi, saran mengenai cara mencegah penyebaran virus pun harus diubah. Termasuk penggunaan masker yang menjadi wajib dan jaga jarak yang harus ditetap dipertahankan. (Baca: Rusia Bantah Rencana Pembeli Su-35 oleh Indonesia Telah Dibatalkan)
WHO sebelumnya berpendapat bahwa tidak ada cukup bukti ilmiah untuk mengatakan bahwa orang sehat harus menggunakan masker. Dalam rekomendasinya WHO meminta masker yang bisa dipakai terbuat dari kain atau masker nonmedis. WHO selalu menyarankan agar masker medis dipakai hanya oleh orang yang sakit dan tenaga kesehatan. WHO juga menyebutkan bahwa masker wajah hanyalah satu dari serangkaian alat yang dapat digunakan untuk mengurangi risiko penularan dan tidak sifatnya sekadar memberi perasaan aman yang palsu.
Pemimpin Teknis Covid-19 di WHO, Maria van Kerkhove, mengakui dengan adanya risiko penyebaran virus corona melalui udara perlu pula menjadi perhatian bersama. “Kita telah berbicara tentang kemungkinan penyebaran melalui udara atau transmisi udara sebagai salah satu penyebaran Covid-19,” kata Maria dilansir Reuters.
Lihat Juga :