George Habash, Sosok Kristen Palestina yang Berani Menentang Penjajah Zionis Israel

Senin, 21 November 2022 - 14:51 WIB
loading...
George Habash, Sosok Kristen Palestina yang Berani Menentang Penjajah Zionis Israel
George Habash merupakan tokoh kristen Palestina. Foto/palestine-studies.org
A A A
TEPI BARAT - Palestina memiliki sosok hebat yang sangat berani menentang penjajah Israel. Ia membentuk kelompok nasionalis sekuler sayap kiri bernama Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP).

Organisasi ini menjadikan Habash sebagai sekretaris jenderalnya di era 1990-an sampai 2000. Lantas, bagaimana profil George Habash?

Tokoh penting bagi rakyat Palestina ini lahir di Palestina, 1 Agustus 1925. Habash wafat di Amman, Yordania pada 26 Januari 2008.

Baca juga: Inggris: Senjata yang Dikirim ke Ukraina Bisa Berakhir di Tangan Teroris

Selama hidup, Habash yang juga berprofesi sebagai dokter dan politisi ini terkenal dengan julukan Al-Hakim.

Melansir laman Interactive Encyclopedia of the Palestine Question, Habash memiliki 5 saudara kandung yang terus menemani perjalanan kariernya hingga akhir hidup.

Habash menempuh pendidikan dasarnya di Lydda dan pindah ke Jaffa untuk melanjutkan ke institusi pendidikan ortodoks.

Ia menerima sertifikat matrikulasinya dari Terra Sancta College, Yerusalem. Usai menyelesaikan pendidikannya, Habash kembali ke Jaffa untuk mengabdikan diri sebagai guru.

Padahal, usianya baru menginjak 16 tahun. Terkenal sebagai pribadi yang cerdas, Habash diterima menjadi mahasiswa sekolah kedokteran di Beirut pada tahun 1944.

Semasa kuliah, Habash pun memiliki catatan akademik terbaik dan mempunyai ketertarikan di berbagai bidang, seperti musik, seni, hingga kegiatan politik.

Demi berkontribusi untuk membantu para korban kekerasan di Palestina, Habash berusaha mempersingkat masa studinya dan berangkat ke Lydda pada tahun 1948.

Di sana, ia bergabung dengan klinik medis dan berposisi sebagai asisten ahli bedah yang merawat warga sipil. Rata-rata pasiennya menderita luka parah akibat membela kota.

Bersama keluarganya, Habash diusir oleh tentara Zionis. Hebatnya, Habash tetap bersemangat melanjutkan studi medisnya di Beirut dan lulus pada tahun 1951. Setelahnya, Habash bergabung dengan kelompok penelitian di bidang histologi.

Di tengah kesibukannya, Habash sangat memikirkan perjuangan para pemuda Palestina dalam membela negaranya.

Berbagai tragedi yang merenggut nyawa masyarakat Palestina juga selalu mengganggu pikiran Habash.

Sampai akhirnya, ia memilih berusaha mengordinir demonstrasi jalanan oleh mahasiswa sehingga menyebabkan dirinya tertangkap beberapa kali.

Habash pergi ke Amman dari Beirut pada tahun 1952 dan mendirikan klinik medis, serta memberikan perawatan medis gratis kepada masyarakat.

Ia meninggal dunia di Amman karena menderita serangan jantung dan dimakamkan di kota tersebut.

(sya)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1538 seconds (10.177#12.26)