Sentinel Utara, Pulau Tanpa Agama dan Paling Terisolasi di Bumi

Sabtu, 22 Oktober 2022 - 01:44 WIB
loading...
Sentinel Utara, Pulau...
Penampakan suku Sentinel, penghuni Pulau Sentinel Utara yang sangat terisolasi. Penghuni pulau ini tak mengenal agama layaknya di tempat lain di Bumi. Foto/NDTV
A A A
JAKARTA - Pulau misterius dan paling terisolasi di Bumi ini bernama Pulau Sentinel Utara. Lokasinya di Kepulauan Andaman dan Nikobar, Teluk Benggala.

Penghuninya adalah suku Sentinel, penduduk asli yang mempertahankan isolasi mereka dengan paksa atau anti-gangguan luar. Tak ada agama di pulau ini seperti layaknya di tempat lain, karena suku Sentinel menganut animisme atau menyembah alam.

Populasi mereka diperkirakan antara 50 dan 400 orang dalam laporan tahun 2012. Sensus India 2011 menunjukkan 15 penduduk di 10 rumah tangga, tetapi itu juga hanya perkiraan, yang digambarkan sebagai "tebakan liar" oleh Times of India.

Populasi Sentinel Utara akan menghadapi potensi ancaman penyakit menular yang tidak memiliki kekebalan, serta kekerasan dari penyusup. Pemerintah India telah menyatakan seluruh pulau dan perairan sekitarnya yang membentang 5 mil laut dari pulau itu sebagai zona eksklusi untuk melindungi mereka dari gangguan luar.

Peraturan Andaman dan Nikobar 1956 memberikan perlindungan kepada suku Sentinel dan suku asli lainnya di wilayah tersebut.

Administrasi Andaman dan Nikobar menyatakan pada tahun 2005 bahwa mereka tidak memiliki niat untuk mengganggu gaya hidup atau habitat suku Sentinel dan tidak tertarik untuk melakukan kontak lebih lanjut dengan mereka atau mengatur pulau tersebut.

Meskipun Pulau Sentinel Utara tidak secara hukum merupakan divisi administratif otonom India, para ahli telah menyebutnya sebagai otonomi efektif atau independen.

Meski pulau ini terisolasi, namun tetap ada beberapa orang yang tahu banyak tentang suku Sentinel. Salah satunya, antropolog India; TN Pandit.

Sebagai kepalawilayah untuk Kementerian Urusan Kesukuan India, Pandit memulai kunjungan ke komunitas pulau terpencil mereka beberapa dekade silam, tepatnya 1967.

Suku Sentinel, yang telah hidup dalam isolasi hampir total selama puluhan ribu tahun, pernah menjadi perhatian global pada 2018 silam setelah mereka dilaporkan membunuh John Allen Chau, seorang misionaris Amerika Serikat berusia 27 tahun yang mencoba melakukan kontak dengan mereka.

Tapi Pandit mengatakan dari pengalamannya bahwa suku itu "cinta damai" dan percaya reputasi menakutkan yang disematkan pada mereka tidaklah adil.

"Selama interaksi kami, mereka mengancam kami, tetapi tidak pernah mencapai titik di mana mereka membunuh atau melukai. Setiap kali mereka gelisah, kami mundur," katanya kepada BBC World Service.

"Saya merasa sangat sedih atas kematian pemuda yang datang jauh-jauh dari Amerika ini. Tapi dia melakukan kesalahan. Dia punya cukup kesempatan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Tapi dia bertahan dan membayar dengan nyawanya."

Pandit pertama kali mengunjungi Pulau Sentinel Utara pada tahun 1967 sebagai bagian dari kelompok ekspedisi.

Awalnya suku Sentinel bersembunyi di hutan dari pengunjung mereka, dan kemudian dalam perjalanan selanjutnya menembak pengunjung dengan panah.

Dia mengatakan para antropolog membawa pilihan barang bersama mereka dalam perjalanan mereka untuk mencoba dan menarik kontak.

“Kami membawa hadiah berupa panci dan wajan, kelapa dalam jumlah besar, perkakas besi seperti palu dan pisau panjang. Kami juga membawa tiga orang Onge (suku lokal lain) untuk membantu kami 'menafsirkan' ucapan dan perilaku suku Sentinel," kenang Pandit dalam sebuah esai yang memetakan kunjungannya.

"Tetapi para pejuang Sentinel menghadapi kami dengan wajah marah dan muram dan bersenjata lengkap dengan busur dan anak panah panjang mereka, siap untuk mempertahankan tanah mereka."

Meskipun sedikit berhasil, kelompok ekspedisi Pandit meninggalkan hadiah untuk mencoba dan membangun hubungan dengan komunitas misterius tersebut.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
PM Kanada Akui G7 Tidak...
PM Kanada Akui G7 Tidak Lagi Kendalikan Dunia
Perempuan Cantik Ini...
Perempuan Cantik Ini Tewas dalam Atraksi Lompat Jembatan 30 Meter karena Petugas Lupa Pasang Tali Pengaman
India Protes setelah...
India Protes setelah Kapal Minyak Pembawa 24 Warganya Dihantam Rudal AS di Dekat Oman
Partai Janta Kecoa Jadi...
Partai Janta Kecoa Jadi Inspirasi bagi Gen Z di Seluruh Dunia
Gerakan Protes Gen Z...
Gerakan Protes Gen Z Guncang Ibu Kota India: Aku Seekor Kecoak!
Partai Kecoak Siap Protes...
Partai Kecoak Siap Protes Jalanan di India, Miliki Jutaan Pengikut dalam Sekejap
Kapal Tanker India Lintasi...
Kapal Tanker India Lintasi Selat Hormuz, Tandai Pulihnya Jalur Strategis usai Kesepakatan Damai AS-Iran
Serangan Rusia Tewaskan...
Serangan Rusia Tewaskan 9 Orang di Ukraina, Katedral Bersejarah Kyiv Terbakar
Trump: Jika Iran Tak...
Trump: Jika Iran Tak Berperilaku Baik, Kita Akan Jatuhkan Bom di Kepala Mereka
Rekomendasi
Aksi Formula E Berlanjut...
Aksi Formula E Berlanjut ke Sanya, Saksikan Live di VISION+
MNC Peduli dan MNC Tourism...
MNC Peduli dan MNC Tourism Gelar Edukasi Gizi dan Demo Masak di Kampung Cibilik Sukabumi
5 Titik Aksi Demo di...
5 Titik Aksi Demo di Jakarta Hari Ini, 4.263 Personel Gabungan Dikerahkan
Berita Terkini
Senator Amerika Geram...
Senator Amerika Geram dengan Kesepakatan AS dan Iran: 'Juju Saja, Kita Menyerah'
Militer AS Telah Cabut...
Militer AS Telah Cabut Blokade Iran atas Perintah Trump
Serangan Drone Terbesar...
Serangan Drone Terbesar Ukraina Membakar Kilang Minyak Moskow, Rusia Janji Balas Dendam
Mojtaba Khamenei: Iran...
Mojtaba Khamenei: Iran dan AS Capai Kesepakatan karena Trump Putus Asa
AS dan Iran Berdamai,...
AS dan Iran Berdamai, Wapres Amerika Berbalik Kecam Israel
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved