500 Mantan Militer dan 15 Purnawirawan Jenderal AS Bekerja untuk Arab Saudi

Rabu, 19 Oktober 2022 - 20:02 WIB
loading...
500 Mantan Militer dan...
Mantan Direktur Badan Keamanan Nasional (NSA) AS Keith Alexander pernah bekerja untuk Arab Saudi. Foto/REUTERS
A A A
WASHINGTON - Sebanyak 15 purnawirawan jenderal dan laksamana Amerika Serikat (AS) menerima gaji selangit dari Kementerian Pertahanan Saudi sejak 2016.

Kabar tersebut diungkap dalam laporan Washington Post yang diterbitkan pada Selasa (18/10/2022).

“Lebih dari 500 mantan anggota dinas telah jadi penasihat pemerintah asing dalam kesepakatan yang kadang-kadang dibayar secara signifikan lebih dari gaji tahunan tertinggi jenderal bintang empat sebesar USD203.698 (Rp3 miliar),” ungkap laporan surat kabar itu.

Baca juga: Arab Saudi Resmi Ajukan Keanggotaan BRICS, AS Makin Emosi

Undang-undang federal AS mengharuskan pensiunan personel militer untuk mendapatkan otorisasi pemerintah untuk menerima segala jenis dana atau hadiah dari pemerintah asing atau perusahaan milik negara.

“Namun, sebagian besar formalitas dan persetujuan hampir otomatis, dengan 95% dari permintaan diberikan,” papar laporan Post.

Mantan Direktur NSA Keith Alexander dibayar besar untuk membantu membangun dan menjalankan program pelatihan universitas pertama untuk perang siber di Arab Saudi pada tahun 2018.

Baca juga: Jenderal Armagedon Rusia Pemimpin Perang di Ukraina Bicara untuk Pertama Kali

Alexander bekerja dengan Saud al-Qahtani, tokoh berpengaruh yang mengawasi para pengkritik Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS), termasuk mantan kontributor Washington Post yang terbunuh, Jamal Khashoggi.

Qahtani dijatuhi sanksi oleh Departemen Keuangan AS pada 2018 karena diduga berpartisipasi dalam operasi yang menyebabkan kematian Khashoggi. Meski demikian, Alexander diizinkan bekerja untuknya.

Mantan Penasihat Keamanan Nasional AS era Barack Obama, James Jones, memberikan konsultasi keamanan untuk Riyadh mulai tahun 2016.

Salah satu dari empat mantan jenderal yang dia bawa, Jenderal bintang empat Angkatan Udara AS Charles Wald, bersikeras bahwa mereka membantu Saudi menjadi mandiri secara militer sehingga AS bisa keluar dari Riyadh.

Dia mengatakan kepada Post bahwa mereka telah membuat “kemajuan terukur” dengan reformasi saat dia di sana.

Meski begitu, menurutnya, dia senang bisa pergi. Sementara seorang juru bicara Jones mengklaim pada saat itu bahwa sang jenderal "merasa ngeri" dengan pembunuhan Khashoggi.

Dengan kontraknya akan segera berakhir, perusahaan keamanan Jones dilaporkan memperluas kemitraannya dengan Kementerian Pertahanan Saudi sebagai gantinya.

The Post menemukan sebanyak 20 pensiunan pejabat yang bahkan belum mendapatkan persetujuan pemerintah untuk bekerja di militer Saudi melalui perusahaan konsultan Jones.

Tidak ada hukuman pidana karena mengabaikan peraturan ini, dan beberapa kontraktor militer sebenarnya tidak memerlukan izin tersebut.

Sementara pengaturan ini telah ada selama bertahun-tahun, Arab Saudi saat ini mendapat kecaman karena penolakannya menghentikan pengurangan produksi minyak meskipun ada tekanan dari Washington.

Pemerintahan Presiden AS Joe Biden telah mengancam "mengevaluasi kembali" hubungannya dengan Riyadh.

AS menuduh Saudi membantu Rusia mendanai operasi militernya di Ukraina dengan setidaknya menunda pemotongan produksi minyak.

Jika Saudi bersedia memangkas produksi minyak, maka dapat menunda lonjakan 10% harga minyak yang kemungkinan akan terjadi sampai setelah pemilu paruh waktu AS.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
Demi Wujudkan Perdamaian...
Demi Wujudkan Perdamaian dengan Iran, AS Terus Tekan Israel
Wabah Flu Serang Pangkalan...
Wabah Flu Serang Pangkalan AS, 159 Tentara Jatuh Sakit
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG Indonesia
Marahnya Warga Israel...
Marahnya Warga Israel atas Kesepakatan AS-Iran: Kami Dikhianati Trump, Ini Kesalahan Besar
Menkeu AS Sebut Zelensky...
Menkeu AS Sebut Zelensky Bajingan Kecil Bertingkah seperti Mr Bean yang Sakau
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Suami Divonis 4 Tahun...
Suami Divonis 4 Tahun Penjara karena Paksa Istri Berhubungan Seks dengan 120 Pria
Siap-Siap, Apple bakal...
Siap-Siap, Apple bakal Naikkan Harga iPhone Dkk Imbas Biaya Chip Melonjak
Rekomendasi
Sinopsis The Last Girl...
Sinopsis The Last Girl on the Trafficking List di V+Short, Kisah Olive Terjebak Sindikat Berbahaya
Refly Harun Ungkap Kondisi...
Refly Harun Ungkap Kondisi Terkini Roy Suryo dan Dokter Tifa
Deretan Pasal Menjerat...
Deretan Pasal Menjerat Roy Suryo dan Dokter Tifa di Kasus Ijazah Jokowi
Berita Terkini
4 Prasyarat Iran untuk...
4 Prasyarat Iran untuk Negosiasi di Swiss, Dapat Dana Segar Rp106 Triliun
5 Fakta Iran Mampu Memecah...
5 Fakta Iran Mampu Memecah Aliansi Abadi AS dan Israel, Lebanon Jadi Alat Utamanya
3 Alasan PM Inggris...
3 Alasan PM Inggris Starmer Akan Mundur, Popularitasnya Terus Menurun
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Negara-negara Arab Bisa Bernapas Lega
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
JD Vance: Iran dan AS...
JD Vance: Iran dan AS Bekerja Sama Mewujudkan Perdamaian dan Kemakmuran di Timur Tengah
Infografis
Hasil Drawing Babak...
Hasil Drawing Babak 4: Timnas Indonesia Satu Grup dengan Irak dan Arab Saudi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved