Moskow: Senjata Nuklir Tidak Diperlukan di Ukraina

Selasa, 16 Agustus 2022 - 18:59 WIB
loading...
Moskow: Senjata Nuklir Tidak Diperlukan di Ukraina
Menteri Pertahanan Rusia menyebut senjata nuklir tidak diperlukan di Ukraina. Foto/Ilustrasi
A A A
MOSKOW - Tidak ada target di Ukraina yang menjamin serangan nuklir Rusia , sehingga semua klaim bahwaMoskow dapat menggunakan senjata nuklir dalam operasi militernya adalah tidak masuk akal. Hal itu ditegaskan Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu dalam konferensi keamanan di Moskow.

“Penggunaan (senjata nuklir) dibatasi hanya untuk keadaan darurat, sebagaimana diuraikan dalam pedoman Rusia yang tersedia untuk umum,” ujarnya, mencatat bahwa senjata itu dimaksudkan sebagai pencegahan terhadap agresi asing.

Shoigu mengatakan bahwa klaim Rusia kemungkinan penggunaan senjata kimia di Ukraina juga tidak masuk akal, karena Moskow telah menghancurkan persediaannya dalam upaya yang diselesaikan pada tahun 2017.

"Tuduhan palsu atas serangan semacam itu telah digunakan oleh kelompok-kelompok yang didukung Barat di Suriah di masa lalu," dia menambahkan seperti dikutip dari Russia Today, Selasa (16/8/2022).

Menteri Pertahanan Rusia, yang berbicara selama pembukaan Konferensi Moskow untuk Keamanan Internasional, mengatakan situasi dengan pengurangan dan kontrol senjata strategis berada di tempat yang sulit karena konfrontasi yang sedang berlangsung antara AS dan Rusia.

Baca juga: Medvedev: Kecelakaan Nuklir Juga Bisa Terjadi di Eropa

“Pernyataan Amerika yang mengklaim bahwa Rusia harus mendapatkan hak untuk melanjutkan dialog dengan AS berada di luar batas. Kontrol senjata adalah jalan dua arah,” tegasnya.

Pejabat Rusia itu juga mengatakan Washington adalah mitra yang tidak dapat diandalkan dalam hal keseimbangan kekuatan strategis. AS membatalkan beberapa perjanjian penting dengan Rusia selama bertahun-tahun, yang menurut Moskow sangat merusak transparansi dalam urusan militer.

“Saya kira pengalaman Rusia melibatkan Barat di bidang perlucutan senjata menunjukkan bahwa apa yang disebut 'perintah berbasis aturan' yang mereka promosikan tidak memenuhi kewajiban perjanjian," kata Shoigu.

"Pelajaran yang dipetik darinya akan mengarahkan perjanjian internasional Rusia di masa depan tentang keamanan dan kontrol senjata," ucapnya.

Shoigu mengatakan secara khusus, ada “situasi sulit dengan” perjanjian New START, yang membatasi jumlah senjata nuklir. Dokumen tersebut perlu diperbarui sebelum 2026 agar tetap berlaku.

Baca juga: Pengerahan 150 Bom Atom AS di 5 Negara NATO Tingkatkan Risiko Perang Nuklir

Shoigu menilai situasi keamanan di Eropa saat ini lebih buruk daripada selama Perang Dingin, dan ia menyalahkan NATO untuk itu.

“Aktivitas militer aliansi telah menjadi sepenuhnya agresif dan anti-Rusia,” ujarnya, mengutip pengerahan pasukan dan senjata Amerika di Eropa Timur.

Dia menambahkan bahwa penguatan pasukan NATO dimulai jauh sebelum Rusia menyerang Ukraina pada Februari lalu.

Mengomentari operasi di Ukraina, Shoigu mengatakan telah membantah anggapan bahwa sistem senjata Barat yang 'mengubah permainan' dapat mengubah keadaan di medan perang.

“Pertama, mereka berbicara seperti itu tentang rudal anti-tank Javelin dan drone 'unik'. Kemudian, orang-orang pro-Barat mempromosikan sistem peluncuran roket berganda HIMARS dan howitzer jarak jauh sebagai 'senjata super,'” katanya.

Baca juga: Dibekali HIMARS, Ukraina Sesumbar Bisa Hancurkan Jalur Pasokan Rusia

Shoigu lantas menekankan bahwa senjata-senjata tersebut dihancurkan seperti yang lain dan tidak mempengaruhi situasi secara signifikan.

"Sementara itu, pasukan Rusia mempelajari peralatan yang didapatkan di medan perang untuk mengidentifikasi cara melawannya," pungkasnya.

(ian)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1276 seconds (11.97#12.26)