Seorang Ibu di Iran Dihukum Cambuk 100 Kali karena Memprotes Pembunuhan Putranya

Selasa, 26 Juli 2022 - 10:38 WIB
loading...
Seorang Ibu di Iran...
Mahboobeh Ramezani, Ibu di Iran yang memprotes pembunuhan putranya oleh pasukan keamanan pemerintah dalam demo 2019. Ibu itu kini dihukum cambuk 100 kali. Foto/Twitter @bai_mina
A A A
TEHERAN - Pengadilan Iran menjatuhkan hukuman cambuk 100 kali terhadap seorang Ibu bernama Mahboobeh Ramezani. Dia dihukum karena melakukan protes damai atas pembunuhan putranya oleh pasukan keamanan pemerintah.

Hukuman cambuk terhadap Ramezani dijatuhkan pekan lalu. Protes yang dilakukannya sebagai bagian dari kampanye "Mother of Justice [Ibu Keadilan]".

Laporan media lokal menyebut, Ramezani juga memprotes aturan wajib jilbab bagi perempuan.

Ramezani tanpa lelah berkampanye untuk menuntut keadilan bagi putranya; Pejman Gholipur, yang dibunuh oleh pasukan keamanan pemerintah pada 2019 karena perannya dalam demonstrasi nasional menentang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Baca juga: Meski Mampu, Iran Tetap Fatwakan Haram Bikin Bom Nuklir

Remezani, saat berdemo berkata kepada pemerintah; "Anda tahu betul bahwa Anda dihancurkan oleh Aban dan [gerakan] Aban berlanjut, kecuali jika Anda membunuh semua keluarga Aban, seperti yang Anda lakukan pada anak-anak kami."

Aban mengacu pada bulan November menurut kalender Iran, di mana penumpasan terhadap penentang rezim, pemrotes, dan pembangkang terjadi pada 2019.

Mina Bai, seorang kolumnis Iran-Norwegia, dan jurnalis yang berbasis di Iran; Hossein Ronaghi memposting pesan di Twitter tentang nasib buruk Ramezani.

Ramezani meluncurkan protesnya pekan lalu sebagai bagian dari kampanye di Iran untuk memprotes kebijakan pakaian apartheid gender rezim, yang memaksa perempuan untuk mengenakan jilbab.

Menurut sebuah laporan media pemerintah AS, Radio Farda, Peyman Gholipur—saudara laki-laki Pejman—, menulis di Telegram pada 17 Juli, bahwa hukuman ibunya kemungkinan terkait dengan kampanye melawan kewajiban jilbab yang dibuka pada 12 Juli.

"Alasan terbesar mengapa mereka takut padanya adalah karena dia meneriakkan kebenaran," kata Gholipur.

"Mereka takut padanya karena dia tidak meletakkan foto Pejman selama satu menit," ujarnya, yang dikutip TheJerusalem Post, Selasa (26/7/2022).

Dia mengatakan satu-satunya "kejahatan" ibunya adalah mencari keadilan.

Aktivis hak asasi manusia Iran-Amerika, Lawdan Bazargan, mengatakan kepada The Jerusalem Post; "Republik Islam Iran tidak sah karena rezim yang sah tidak menahan Ibu yang kehilangan anak-anak mereka atau wanita yang menuntut kebebasan dan keadilan."

“Taktik penindasan ini dirancang untuk menciptakan suasana teror dan ketakutan, tetapi rakyat Iran dengan berani turun ke jalan setiap hari untuk menuntut hak-hak mereka. Orang-orang berbicara dan menentang rezim abad pertengahan ini, dan akhir dari tirani sudah dekat,” kata Bazargan.

Wartawan Voice of America dan aktivis hak-hak perempuan, Masih Alinejad, mengatakan; “Ibu Aban telah menjadi mimpi buruk Rezim Islam Iran karena mereka secara terbuka dan berani mengatakan bahwa kami ingin menyingkirkan Republik Islam.”

Pemerintah Iran belum berkomentar atas hukuman cambuk terhadap Ibu yang melakukan protes damai tersebut.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
ANCAMAN KERAS IRAN!...
ANCAMAN KERAS IRAN! Kirim Pesan Menghancurkan, Tantang AS Perang Terbuka!
Penembakan di Pusat...
Penembakan di Pusat Kesejahteraan Remaja Jerman Tewaskan Setidaknya 6 Orang
Gempa Venezuela: Korban...
Gempa Venezuela: Korban Tewas Tembus 1.700 Orang, 5.000 Lainnya Luka
Rekomendasi
Tingkatkan Efisiensi...
Tingkatkan Efisiensi Layanan, ASABRI Digitalisasi 2.000 Klaim Peserta
Rupiah Hari Ini Terkapar...
Rupiah Hari Ini Terkapar ke Rp17.907 per Dolar AS, Analis Ungkap Sebabnya
Sidang Cerai Wardatina...
Sidang Cerai Wardatina Mawa Masuk Tahap Akhir, Ayah Insanul Fahmi Beri Kesaksian
Berita Terkini
Media Asing Soroti Nasib...
Media Asing Soroti Nasib Nadiem Divonis 10 Tahun Penjara: Eks Bos Gojek yang Dinyatakan Korupsi
Menteri Israel Usulkan...
Menteri Israel Usulkan Rencana Relokasi Gaza yang Libatkan Mossad
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Apakah Gerakan Amal...
Apakah Gerakan Amal Bisa Menggantikan Hizbullah?
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Indonesia Lunasi Proyek...
Indonesia Lunasi Proyek Jet Tempur KF-21 Korsel Rp6,9 Triliun, Dapat Transfer Teknologi Apa?
Infografis
Iran-Israel Perang,...
Iran-Israel Perang, Ini Peta Pangkalan Militer AS di Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved