Dokumen Baru Ungkap 23 Perang Rahasia AS di Penjuru Dunia

Selasa, 05 Juli 2022 - 20:37 WIB
loading...
Dokumen Baru Ungkap...
Pejuang Kurdi dari Unit Proteksi Rakyat (YPG) berlari di jalanan Raqqa, Suriah. Foto/REUTERS
A A A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) dilaporkan menggunakan otoritas rahasia yang disebut “127e” untuk meluncurkan sekitar dua lusin perang proksi sejak 2017.

Laporan itu diungkap dalam satu artikel yang diterbitkan pada Jumat (1/7/2022) oleh The Intercept.

The Intercept mengklaim telah memperoleh dokumen yang belum pernah dilihat sebelumnya dan berbicara dengan para pejabat tinggi dengan pengetahuan mendalam tentang program ini.

Baca juga: Rusia Beri Komentar Tegas Soal Prospek Ekspansi Dewan Keamanan PBB

Intercept menerima dokumen melalui Freedom of Information Act. Media itu mengklaim makalah ini adalah konfirmasi resmi pertama bahwa sekitar 14 perang proxy yang disebut “program 127e” aktif di kawasan Timur Tengah dan Asia-Pasifik yang lebih luas baru-baru ini pada 2020.

Secara total, Pentagon dilaporkan meluncurkan 23 program 127e berbeda di seluruh dunia antara 2017 dan 2020, yang menelan biaya pembayar pajak AS USD310 juta.

Baca juga: Usai Kehilangan Luhansk, Ukraina Pontang-panting Pertahankan Donetsk

Intercept menjelaskan, “127e adalah salah satu dari beberapa otoritas yang hampir tidak dikenal yang diberikan kepada Departemen Pertahanan oleh Kongres selama dua dekade terakhir. Ini memberi wewenang kepada pasukan komando AS untuk melakukan ‘operasi kontraterorisme’ bekerja sama dengan pasukan mitra asing dan tidak reguler di seluruh dunia dengan pengawasan luar yang minimal.”

Program ini memungkinkan AS untuk mempersenjatai, melatih, dan memberikan intelijen kepada pasukan asing.

Namun, tidak seperti program bantuan asing tradisional, yang berfokus pada pembangunan kapasitas lokal di negara-negara mitra, “pasukan pengganti” 127e diharapkan mengikuti perintah AS dan melakukan misi yang diarahkan Washington melawan musuh AS untuk mencapai tujuan Amerika, yang pada dasarnya berfungsi sebagai tentara proksi Pentagon.

Menurut outlet tersebut, hampir tidak ada informasi tentang operasi ini yang pernah dibagikan kepada anggota Kongres atau pejabat Departemen Luar Negeri.

Umumnya tidak diketahui di mana operasi ini dilakukan, frekuensi, target, atau bahkan identitas pasukan asing yang bekerja sama dengan AS untuk melaksanakannya.

Berbagai kritik terhadap program itu memperingatkan bahwa operasi itu dapat menyebabkan eskalasi militer tak terduga dan melibatkan AS dalam lebih dari selusin konflik di seluruh dunia, karena 127e tidak mengizinkan pengawasan atau masukan dari pejabat urusan luar negeri.

Outlet tersebut mencatat, “Meskipun kumpulan dokumen terbaru menjelaskan lebih banyak tentang program 127e, sebagian besar masih belum diketahui oleh publik dan anggota Kongres, yang hampir tidak pernah menerima laporan apa pun yang berkaitan dengan program tersebut.”

Seorang pejabat pemerintah AS yang mengetahui program tersebut, yang meminta anonimitas untuk membahasnya, mengatakan kepada The Intercept bahwa, “Sebagian besar staf Kongres bahkan tidak memiliki izin untuk melihat laporan 127e, dan mereka yang jarang memintanya.”

“Itu dirancang untuk mencegah pengawasan,” ungkap sumber pejabat AS, dilansir RT.com pada Senin (4/7/2022).

Stephen Semler, salah satu pendiri think tank kebijakan luar negeri AS, mengatakan kepada The Intercept bahwa Pentagon lebih memilih menjalankan operasinya dengan minimal dalam pengawasan, masukan atau birokrasi dari Kongres dan telah melakukannya selama bertahun-tahun.

“Komunitas Operasi Khusus sangat menyukai otonomi. Masalahnya adalah hal ini sangat dinormalisasi,” ujar sumber itu kepada outlet.

“Harus ada lebih banyak perhatian yang diberikan kepada otoritas pelatihan dan perlengkapan ini, apakah itu pasukan khusus atau (Departemen Pertahanan) reguler, karena itu benar-benar cara yang ramah relasi publik untuk menjual perang tanpa akhir,” papar Semler.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Warga China dan Rusia...
Warga China dan Rusia Berlomba Melahirkan Bayi di AS demi Status Kewarganegaraan
Perjanjian Damai Iran...
Perjanjian Damai Iran Jadi Kekalahan Paling Memalukan bagi AS, Ini 3 Alasannya
Setelah 4 Bulan Berperang,...
Setelah 4 Bulan Berperang, Ini 7 Hal yang Membuat Iran Lebih Kuat
Jika Dicairkan, Aset...
Jika Dicairkan, Aset Beku Iran Jadi Oksigen Segar untuk Kebangkitan Ekonomi Iran
Ini 5 Bukti Perjanjian...
Ini 5 Bukti Perjanjian Damai AS dan Iran Tunjukkan Kegagalan Tujuan Perang Israel
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Presiden Jerman Akan...
Presiden Jerman Akan Kunjungi Jakarta 15 Juni, Boyong Delegasi Bisnis dan Peneliti
Pesawat Militer India...
Pesawat Militer India Jatuh Tewaskan 5 Prajurit AU, Kopilot Selamat
Rekomendasi
Daftar Wakil Indonesia...
Daftar Wakil Indonesia yang Lolos ke BWF World Championships 2026
Audisi Miss Indonesia...
Audisi Miss Indonesia 2026 Yogyakarta Disambut Antusias, Jakarta Jadi Kota Terakhir Seleksi
PKB Jabar Fest, Gus...
PKB Jabar Fest, Gus Muhaimin: Kita Tak Butuh Pemimpin Pencitraan
Berita Terkini
Warga China dan Rusia...
Warga China dan Rusia Berlomba Melahirkan Bayi di AS demi Status Kewarganegaraan
Perjanjian Damai Iran...
Perjanjian Damai Iran Jadi Kekalahan Paling Memalukan bagi AS, Ini 3 Alasannya
Setelah 4 Bulan Berperang,...
Setelah 4 Bulan Berperang, Ini 7 Hal yang Membuat Iran Lebih Kuat
Berlatih di Tijuana,...
Berlatih di Tijuana, Timnas Iran Dikawal 300 Pasukan Elite Meksiko
Jika Dicairkan, Aset...
Jika Dicairkan, Aset Beku Iran Jadi Oksigen Segar untuk Kebangkitan Ekonomi Iran
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved